Jumat, 30 Oktober 2015

Pendahuluan Ilmu Beladiri Elementalist (bagian pertama)

PENDAHULUAN ILMU BELADIRI ELEMENTALIST (bagian pertama)



SEJARAH ILMU BELADIRI





Tradisi silat diturunkan secara lisan dan menyebar dari mulut ke mulut, diajarkan dari guru ke murid. Karena hal itulah catatan tertulis mengenai asal mula silat sulit ditemukan. Di Minangkabau, silat atau silek diciptakan oleh Datuk Suri Diraja dari Pariangan, Tanah Datar, di kaki Gunung Marapi pada abad XI.[1] Kemudian silek dibawa dan dikembangkan oleh para perantau Minang ke seluruh Asia Tenggara.


Kebanyakan sejarah silat dikisahkan melalui legenda yang beragam dari satu daerah ke daerah lain. Seperti asal mula silat aliran Cimande yang mengisahkan tentang seorang perempuan yang menyaksikan pertarungan antara harimau dan monyet dan ia mencontoh gerakan tarung hewan tersebut. Asal mula ilmu bela diri di Indonesia kemungkinan berkembang dari keterampilan suku-suku asli Indonesia dalam berburu dan berperang dengan menggunakan parang, perisai, dan tombak. Seperti yang kini ditemui dalam tradisi suku Nias yang hingga abad ke-20 relatif tidak tersentuh pengaruh luar.



Silat diperkirakan menyebar di kepulauan nusantara semenjak abad ke-7 masehi, akan tetapi asal mulanya belum dapat dipastikan. Meskipun demikian, silat saat ini telah diakui sebagai budaya suku Melayu dalam pengertian yang luas,[2] yaitu para penduduk daerah pesisir pulau Sumatera dan Semenanjung Malaka, serta berbagai kelompok etnik lainnya yang menggunakan lingua franca bahasa Melayu di berbagai daerah di pulau-pulau Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan lain-lainnya juga mengembangkan sebentuk silat tradisional mereka sendiri. Dalam Bahasa Minangkabau, silat itu sama dengan silek. Sheikh Shamsuddin (2005)[3] berpendapat bahwa terdapat pengaruh ilmu beladiri dari Cina dan India dalam silat. Bahkan sesungguhnya tidak hanya itu. Hal ini dapat dimaklumi karena memang kebudayaan Melayu (termasuk Pencak Silat) adalah kebudayaan yang terbuka yang mana sejak awal kebudayaan Melayu telah beradaptasi dengan berbagai kebudayaan yang dibawa oleh pedagang maupun perantau dari India, Cina, Arab, Turki, dan lainnya. Kebudayaan-kebudayaan itu kemudian berasimilasi dan beradaptasi dengan kebudayaan penduduk asli. Maka kiranya historis pencak silat itu lahir bersamaan dengan munculnya kebudayaan Melayu. Sehingga, setiap daerah umumnya memiliki tokoh persilatan yang dibanggakan. Sebagai contoh, bangsa Melayu terutama di Semenanjung Malaka meyakini legenda bahwa Hang Tuah dari abad ke-14 adalah pendekar silat yang terhebat.Hal seperti itu juga yang terjadi di Jawa, yang membanggakan Gajah Mada.

PERKEMBANGAN SEJARAH SENI BELADIRI


Pencak Silat Jangan Kalah Dengan Beladiri Impor !!
Pencak silat adalah seni beladiri khas Indonesia. Banyak ragam perguruan dan aliran pencak silat di seantero nusantara. Ada yang tergabung dalam IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia) adapula yang berdiri independen.
Sebagai salah satu identitas bangsa, pencak silat juga mulai dikenal di berbagai belahan dunia. Meski belum sepopuler seni beladiri asal China dan Jepang, namun paling tidak promosi tersebut sudah terlihat hasilnya dengan adanya partisipasi beberapa negara setiap kali digelar kejuaran dunia pencak silat.
Ironisnya, di kala pencak silat mulai berkembang di manca negara, di negeri sendiri malah terjadi sebaliknya. Seni beladiri kebanggaan bangsa ini kalah cepat perkembangannya dengan seni beladiri impor.
Era globalisasi juga semakin menyaingi perkembangan pencak silat. Lihat saja, sekarang mulai berdatangan seni beladiri impor lainnya dari Asia Tenggara dan tanah Eropa serta Amerika. Sebut saja macam Mix Martial Arts dari Amerika Serikat, Capoeira dan Brazillian Jiu Jitsu dari Brazil, Krav Maga dari Israel, Arnis/Eskrima dari Filipina.
Di berbagai tempat mudah ditemukan tempat latihan seni beladiri impor, baik berbentuk areal terbuka maupun gedung khusus. Sementara tempat latihan pencak silat tidak banyak ditemukan. Nasib pencak silat, mirip dengan seni tradisional nusantara lainnya yang di beberapa daerah mulai redup seiring perputaran roda zaman yang semakin modern.
Disayangkan, seni budaya nasional harus ditinggalkan masyarakatnya sendiri. Padahal, semestinya kita harus bangga dengan budaya sendiri. Oong Maryono, tokoh pencak silat nasional, dalam sebuah tulisannya mengungkapkan fenomena tersainginya pencak silat oleh ‘invasi’ seni beladiri asing. Sebagaimana kutipan artikelnya:
Kesulitan juga datang dari luar dunia pencak silat, karena persaingan yang ketat dari bela diri impor. Antara 1960-1966, pada waktu terjadi kemerosotan ekonomi dan politik negara yang menimbulkan ketidakberdayaan IPSI, karate secara resmi masuk Indonesia dan dengan tangkasnya memasuki kalangan pelajar dan ABRI.
Dari mulanya, karate dan judo dipraktekkan sebagai olah raga dan dipertandingkan di depan umum. Penerimaan yang positif terhadap bela diri asing, memaksa kalangan pencak silat untuk berpikir dan berbuat lebih baik dalam usaha mengembangkan pencak silat olah raga, atau seperti ditulis oleh salah satu koran masa itu "kehadiran karate di Indonesia merupakan cambuk yang benar-benar efektif untuk 'membangunkan' kalangan pencak dari tidurnya.
Apa yang membuat pencak silat ‘kalah’ oleh seni beladiri asing?
Jika ditelaah, beberapa perbandingan berikut bisa menjadi jawaban:
Seni beladiri asing lebih terbuka dalam penyebaran ajaran. Sebaliknya pencak silat dominan tertutup. Hanya beberapa perguruan/aliran pencak silat yang mau membuka diri dengan memampang papan nama perguruan/aliran dan memperlihatkan lokasi tempat latihan, kemudian mau latihan di tempat terbuka, tidak melulu di dalam ruangan tertutup.
Seni beladiri asing relatif mengenyampingkan sifat superioritas di antara sesama seni beladiri. Contoh, Jepang memiliki karate, judo, shorinji kempo, jujutsu, aikido, ninjutsu, tetapi satu sama lain tidak menganggap lebih unggul. Semua berkembang seiring, terserah orang mau pilih yang mana atau mempelajari dua atau tiga beladiri berbeda. Tidak masalah. Sedangkan pencak silat masih ada perguruan/aliran yang mengutamakan sifat superioritas. Sesama pencak silat berusaha saling mengungguli satu sama lain, bukannya sama-sama bergandengan tangan membangun kebersamaan.
Seni beladiri asing didukung negara asalnya. Sarana latihan didanai pembangunannya demikian pula kegiatan (pertandingan dll). Sebaliknya pencak silat minim dukungan dari pemerintah. Lihat saja selain di Taman Mini, padepokan pencak silat yang representatif bisa dihitung dengan jari. Semestinya setiap pemerintah daerah mau membangun padepokan untuk perkembangan pencak silat. Mendanai segala kegiatan pencak silat.
Seni beladiri asing ‘royal’ berpromosi (mengekspos diri). Promosi kegiatan gencar dilakukan melalui mass media (cetak dan elektronik). Sebaliknya, masih banyak perguruan/aliran pencak silat yang enggan mempublikasikan diri.
Seni beladiri asing rutin kegiatan, baik latihan bersama, pertandingan, seminar dan sebagainya. Sebaliknya pencak silat, minim kegiatan, misalnya pertandingan, jika dibandingkan karate yang setahun bisa sampai 3 kali digelar, pencak silat kurang dari itu.
Tulisan ini bukan bermaksud mendiskreditkan seni budaya bangsa sendiri. Melainkan untuk menggugah kita semua agar peduli dengan kenyataan yang ada. Bagaimana seharusnya kita memperlakukan aset bangsa agar bisa mendapat tempat yang lebih tinggi di hati masyarakatnya sendiri. Bagaimanapun perubahan harus dilakukan agar pencak silat tak hanya memiliki pamor di negeri orang tetapi juga di negeri sendiri.