PENDAHULUAN SENI BELADIRI ELEMENTALIST (bagian keempat)
Perkembangan Pernapasan Tenaga Dalam Di Era Zaman Dahulu
Tenaga dalam atau istilah asingnya inner power adalah tenaga yang tersimpan dalam tubuh manusia dan mengendap di bawah sadar.tenaga dalam di sebut juga bio listrik atau gelombang energi elektromagnetik yang di pancarkan oleh seseorang yang telah mensinkronkan sumber-sumber listrik di dalam tubuhnya melalui olah napas [ pernapasan ],olah rasa[penghayatan dan visualisasi] dan olah raga( jurus-jurus ). jadi bio energi listrik di dalam tubuh ini dapat di olah melalui tiga saluran di dalam diri yaitu melalui pikiran, perasaan dan fisik.tenaga dalam ada yang menyebutnya tenaga prana berbentuk pancaran aura dan getaran-getaran seperti rasa dingin atau panas sesuai dengan cara orang itu melatihnya.latihan di lakukan dari bagian perut lalu di arahkan ke anggota badan yang di kehendaki seperti tangan, kaki dan lain-lain.tenaga dalam di bangkitkan melalui sistem pernapasan yang terarah dengan di gabung jurus-jurus tenaga dalam.
Tenaga dalam memiliki sifat defensif hanya bisa di lontarkan jika ada rangsangan yang datang dari luar.rangsangan itu bisa berupa serangan yang di sertai emosi,maksud jahat,sihir dll.seorang penyerang yang berniat jahat dengan emosi tinggi akan membangkitkan listrik di dalam tubuhnya yang besar dan berlawanan dengan orang yang di serang artinya orang itu akan menghasilkan gelombang elektromagnetik atau bio listrik yang berbeda arah sehingga terjadi bentrokan yang mengacaukan bio listrik si penyerang,tenaga lawan dalam bentuk getaran bila menabrak sistem getaran yang di serang sama dengan memberikan tenaga kepada yang di serang sehigga terjadi interaksi getaran akibatnya bio elektromagnetik tubuh yang di serang mengalami perubahan getaran[amplitudo]mirip beradunya aliran listrik positif dan listrik negatif maka tenaga yang besar akan di hasilkan dari perubahan tersebut sehingga terjadi respon[reaksi] balasan yang setimpal yang mengakibatkan si penyerang terpental.
Hawa panas dan hawa dingin
Tenaga dalam membentuk getaran-getaran yang tersalurkan pada urat-urat tubuh dan pembuluh-pembuluh darah apabila disalurkan. Getaran-getaran energi ini berbeda-beda, ada yang panas dan ada yang dingin, tergantung bagaiman cara orang itu berlatih. Energi panas (positif) dan energi dingin (negatif). Ukuran bangkitnya tenaga dalam yaitu dengan terasanya hawa hangat pada perut atau ulu hati. Hawa hangat ini tidak terpencar-pencar dan bisa disalurkan ke bagian tubuh manapun yang kita mau. Makin lama hawa hangat itu semakin panas dan menyalurkannya semakin gampang. Tenaga dalam ini apabila disalurkan pada suatu titik tertentu akan membentuk kekuatan yang dapat dipergunakan untuk menghancurkan benda-benda keras, pengobatan dan lain-lain. Energi inilah yang dipergunakan oleh kalangan persilatan di dalam menambah mutu silatnya, juga dapat dipergunakan sebagai senjata yang ampuh.
Tenaga dalam untuk meningkatkan mutu silat
Tenaga dalam biasanya dikaitkan dengan aliran seni bela diri masyarakat Melayu. Dipercayai tenaga dalam ada pada diri semua manusia namun perlu dibangkitkan dengan kaedah-kaedah tertentu antara lain:
Teknik pernafasan.
Meditasi.
Latihan jurus.
Dalam lingkungan masyarakat China, tenaga dalam sangat bergantung pada aliran chi dalam tubuh . Aliran chi adalah aliran tenaga adalah tenaga dari alam dan tubuh yang menyatu. Ini juga tergantung pada keyakinan Yin-Yang.
Tujuan-tujuan membangkitkan tenaga dalam, di antara lain, adalah seperti berikut:
Untuk kesehatan mental dan fisik.
Untuk bela diri jarak jauh.
Tenaga fisik menjadi jauh lebih kuat apabila tenaga dalam sudah mencapai tingkat tertentu. Jadi bila dengan tenaga fisik biasa kita hanya mampu mengangkat beban 50 kg, dengan dibantu penyaluran tenaga dalam kita dapat mengangkat beban yang lebih berat dari itu.
Untuk mempertajam panca indera. Jadi kelima panca indera mulai dari penglihatan, pendengaran, penciuman, indera peraba dan perasa menjadi lebih peka pada tingkatan tertentu ke atas.
Untuk membangkitkan indera keenam. Indera keenam yang lazim disebut dengan Extra Sensory Perception (ESP) bila sudah bangkit maka firasat kita akan menjadi tajam dan bisa mengetahui adanya bahaya sebelum terjadi. Selain itu juga bisa mengetahui niat jahat seseorang hanya dengan melihat sekilas raut wajah orang tersebut.
Untuk menghancurkan benda-benda keras. Target kesanggupan memecahkan benda keras tersebut tergantung dari tingkatan tenaga dalam yang dikuasainya. Makin tinggi tenaga dalamnya, makin besar daya hancur terhadap sasarannya.
Untuk meringankan tubuh.
Untuk memperkuat memori otak.
Untuk perawatan penyakit terutama penyakit yang tidak dapat dirawat oleh ilmu kedokteran modern.
Sebagian pengamal ilmu tenaga dalam mengatakan bahwa tenaga dalam dapat dijelaskan secara ilmiah. Namun hingga kini, belum ada kajian yang jelas secara ilmiah berkenaan tenaga dalam dan manfaatnya.
Sejarah Tenaga Dalam Indonesia
Tenaga dalam atau Krachtologi (berasal dari perkataan KRACHTOS yang berarti tenaga dan LOGOS yang berarti ilmu). Pada 4000 SM, Krachtologi sudah dikenal oleh orang-orang Mesir Kuno. Dalam sebuah buku Papyrus “Yedimesish Ontologia” yang sudah disalin dalam bahasa Gri Kuno, menceritakan, bila otot bahu digerakkan akan mengeluarkan tenaga aneh sehingga dapat merobohkan orang yang sedang marah (diktat Ameta, Krachtologi 23).
Dari Mesir, Krachtologi berkembang ke Babylon, Yunani, Romawi dan Persia. Di Persia tenaga semacam ini dinamakan Dacht. Dalam Dahtayana disebutkan bahwa pada suku Bukht dan Persia, terkenal ilmu perang dinamakan DAHTUZ ialah merobohkan musuh dari jarak jauh. Kaum bangsawan Persia dilatih sejenis senam waktu dinihari sehingga mereka mempunyai tenaga Daht itu. (Kracht 23). Dikatakannya pula bahwa orang-orang Badwi mempunyai Daht pada matanya, bila musuh akan menyerangnya, tiba-tiba musuh itu roboh. Mengapa orang-orang Badwi banyak mempunyai kekuatan mata seperti itu ? Hal ini disebabkan orang-orang Badwi dengan tanpa disadari melatih matanya dengan melihat jauh, memandang padang pasir yang luas membentang itu.
Orang-orang Cina, Tartar, Patan, Moghul, mengenal beberapa silat yang dapat merobohkan orang dari jauh. Silat Moghul yang terkenal diantaranya SHURULKHAN yang artinya tipuan licik untuk raja-raja, berbentuk silat dua belas jurus dari Taymour Lateph Baber (1460-1520). Yang boleh belajar silat itu hanya kepala-kepala suku dari orang Moghul Islam. Bukbisj Ismeth Bey murid Lateph Baber dapat memukul dengan toya sejauh satu mil. Bukbisj belajar Shurulkhan dari Baber selama 20 tahun. Dengan pisau jarinya ia dapat mengeluarkan usus lawan dari jarak satu tombak. Kawannya melihat ia belajar jurus sejak dini hari sampai matahari naik, dengan diselingi shalat shubuh. Taymour dan Bukbisj terkenal orang-orang yang fanatik madzhab Hambali dan sangat anti kepada orang sufi dan tan (Kracht 24).
Di Cina terkenal beberapa macam silat yang mempergunakan Kracht, diantaranya Gin Kang (ilmu meringankan tubuh) yang dapat dipergunakan melompat jauh, loncat tinggi dan berjalan diatas air. Kwie Kang dan Wie Kang hampir bersamaan, perbedaanya hanya pada jurus pertama. Kwie Kang dengan jurus tinju dan Wie Kang dengan jurus terbuka. Wie Kang yang disebut jurus sepuluh, tersebar sampai Vietnam, Campa, Malaya, dan Indonesia. Tumbuhlah menjadi beberapa aliran, diantaranya silat Mandar dari Sulawesi, silat Timpung dari Jawa Timur dan silat Nampon dari Jawa Barat, dan sebagainya. Shurulkhan pun masuk ke Indonesia dan pembawanya ialah orang-orang Cina Islam. Diantaranya orang Indonesia pertama yang belajar Shurulkhan ialah Tuanku Rao. Orang-orang Cina Islam menamakan silat itu Tou Yu Kang.
Penyebaran ilmu tenaga dalam di Indonesia
Pada awalnya tenaga dalam hanya dipelajari secara terbatas di berbagai perguruan silat. Para pendekar silat yang tercatat sebagai guru bagi para pendiri perguruan silat tenaga dalam generasi berikutnya antara lain:
1. Abah Khoir, yang mendirikan silat Cimande, Cianjur
2. Bang Madi, dari Batavia
3. Bang Kari, dari Batavia
4. Bang Ma’ruf, dari Batavia
5. Haji Qosim, dikenal juga dengan nama Syahbandar atau Subandari, dari kerajaan Pagar Ruyung
6. Haji Odo, seorang kiai dari pesantren di Cikampek
Perlu menjadi catatan bahwa pada masa ini belum dikenal teknik pukulan tenaga dalam atau pukulan jarak jauh. Silat yang diajarkan oleh Madi, Kari dan Syahbandar lebih bersifat fisik. Baik Madi, Kari dan Syahbandar dikenal sebagai pendekar silat (fisik) pada masanya. H. Qosim yang kemudian dikenal sebagai Syahbandar atau Mama’ Subadar karena tinggal dan disegani masyarakat desa Subadar di wilayah Cianjur. Sedangkan Madi dikenal sebagai penjual dan penjinak kuda binal yang diimpor asal Eropa.
Dalam dunia persilatan Madi dikenal pakar dalam mematah siku lawan dengan jurus gilesnya, sedangkan Kari dikenal sebagai pendekar asli Benteng Tangerang yang juga menguasai jurus-jurus kung fu dan ahli dalam teknik jatuhan. Pada era Syahbandar, Kari dan Madi banyak pendekar dari berbagai aliran berkumpul di Batavia. Batavia seakan menjadi pusat barter ilmu bela diri dari berbagai aliran, mulai dari silat Padang, silat Betawi kombinasi kung fu ala Bang Kari, juga aliran Cimande yang dibawa oleh Khoir.
Perkembangan Selanjutnya
Pada tahun-tahun berikutnya, perkembangan perguruan tenaga dalam layaknya MLM (Multi Level Marketing). Seseorang yang belajar pada suatu perguruan memilih untuk mendirikan perguruan baru sesuai selera pribadinya. Ini adalah gejala alamiah yang tidak perlu dimasalahkan, karena setiap guru atau orang yang merasa mampu mengajarkan ilmu pada orang lain itu belum tentu sepaham dengan tradisi yang ada pada perguruan yang pernah diikutinya.
Pertimbangan merubah nama perguruan itu dilatarbelakangi oleh hal-hal yang amat kompleks, mulai adanya ketidaksepahaman pola pikir antara orang zaman dulu yang mistis dan kalangan modernis yang mempertimbangkan sisi kemurnian aqidah dan ilmiah, disamping pertimbangan dari sisi komersial. Yang pasti, misi orang mempelajari tenaga dalam pada masyarakat sekarang sudah mulai berubah dari yang semula berorientasi pada ilmu kesaktian menuju pada gerak fisik (olah raga) karena orang sekarang menganggap lawan berat yang sesungguhnya adalah penyakit. Karena itu, promosi perguruan lebih mengeksploitasi kemampuan mengobati diri sendiri dan orang lain.
Aliran perguruan tenaga dalam yang mengeksploitasi kesaktian kini lebih diminati masyarakat tradisional. Dan menurut pengamatan beberapa pihak, perguruan ini justru sering “bermasalah” disebabkan pola pembinaan yang menggiring penganutnya pada sikap “kejawaraan” melalui doktrin-doktrin yang kurang bersahabat pada aliran lain dari sesama perguruan tenaga dalam maupun bela diri dari luar (asing).
Sikap ini sebenarnya bertentangan dengan sikap para tokoh seperti Bang Kari yang selalu wanti-wanti agar siapapun yang mengamalkan bela diri untuk selalu memperhatikan “sikap 5” yaitu :
– Jangan cepat puas.
– Jangan suka pamer.
– Jangan merasa paling jago.
– Jangan suka mencari pujian dan
– Jangan menyakiti orang lain.
Dan perlu diingat, perkembangan pencak silat sebagai dasar dari tenaga dalam itu, baik pelaku maupun keilmuannya dapat berkembang karena silaturahmi antar tokoh, mulai dari silat Pagar Ruyung Padang yang dibawa H Kosim (Syahbandar), Bang Kari dan Bang Madi yang merangkum silat Betawi dengan Kung Fu, juga Abah Khoir dengan Cimandenya, RH. Ibrahim dengan Cikalongnya. Setiap perguruan tenaga dalam memberikan sumbangsih tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Margaluyu menorehkan tinta emas sebagai perguruan tua yang banyak mengilhami hampir sebagian besar perguruan di Indonesia, dan cabang-cabang dari perguruan ini banyak berjasa bagi pengembangan tenaga dalam yang ilmiah dan universal. Sin Lam Ba, Al-Hikmah, Silat Tauhid Indonesia berjasa dalam memberikan nafas religius bagi pesertanya, dan aliran Nampon berjasa dalam memberikan semangat bagi para pejuang di era kemerdekaan. Terlepas dari sisi positif dari aliran-aliran besar itu, pengembangan aliran tenaga dalam yang kini masih memilih corak pengembangan bela diri dan kesaktian itu justru mendapat kritik dari para pendahulunya.
Pada tahun 1984 Alm. Sidik murid dari H Abdul Rosyid saat berkunjung ke wilayah Pati utara dan menyaksikan cara betarung (peragaan) suatu perguruan “pecahan” dari Budi Suci, menyayangkan kenapa sebagian besar dari siswa perguruan tenaga dalam itu sudah meninggalkan teknik silat (fisik) sebagai basic tenaga dalam.
Artinya, saat diserang mereka cenderung diam dan hanya mengeraskan bagian dada/perut. Kebiasaan ini menurutnya suatu saat akan menjadi bumerang saat harus menghadapi perkelahian diluar gelanggang latihan. Karena saat latihan hanya dengan “diam” saja sudah mampu mementalkan penyerang hingga memberikan kesan bahwa menggunakan tenaga dalam itu mudah sekali. Mereka tidak sadar bahwa dalam perkelahian di luar gelanggang latihan itu, suasananya berbeda. Dalam arena latihan yang dihadapi adalah teman sendiri yang sudah terlatih dalam menciptakan emosi (amarah).
Cara bela diri memanfaatkan tenaga dalam yang benar menurut Alm. Sidik sudah dicontohkan oleh Nampon saat ditantang jawara dari Banten dan saat akan dicoba kesaktiannya oleh KM Tamim. Yaitu, awalnya mengalah dan berupaya menghindar namun ketika lawan masih memaksa menyerang, baru dilayani dengan jurus silat secara fisik, menghindar, menangkis dan pada saat yang dianggap tepat memancing amarah dengan tamparan ringan dan setelah penyerang emosi, baru menggunakan tenaga dalam.
Pola pembinaan bela diri yang tidak lengkap yang hanya fokus pada sisi batin saja, sering menjadi bumerang bagi mereka yang sudah merasa memiliki tenaga dalam sehingga terlalu yakin bahwa bagaimanapun bentuk serangannya, cukup dengan diam (saja) penyerang pasti mental. Dan ketika mereka menghadapi bahaya yang sesungguhnya, ternyata menggunakan tenaga dalam tidak semudah saat berlatih dengan teman seperguruannya.
Fenomena pembinaan yang sepotong-potong ini tidak lepas dari keterbatasan sebagian guru yang pada umumnya hanya pernah “mampir” di perguruan tenaga dalam. Sidik mengakui banyak orang yang belajar di Budi Suci hanya bermodal “jurus dasar” saja sudah banyak yang berani membuka perguruan baru. Padahal dalam Budi Suci itu terdapat 3 tahapan jurus. Yaitu, Dasar Jurus – Jodoh Jurus dan Kembang Jurus (ibingan).
Karena tergesa-gesa ingin membuka aliran baru itu menyebabkan siswa sering tidak siap disaat harus menggunakan tenaga dalamnya. Dan Yosis Siswoyo dari Bandar Karima memberikan konsep bahwa keberhasilan memanfaatkan tenaga dalam ditentukan dari prinsip “min-plus” yang dapat diartikan : Biarkan orang berniat jahat (marah), aku memilih untuk tetap bertahan dan sabar.
Karena itu pembinaan fisik, teknik bela diri fisik, teknik, kelenturan, refleks dan mental bertarung perlu ditanamkan terlebih dahulu karena kegagalan memanfaatkan tenaga dalam lebih disebabkan mental yang belum siap sehingga orang ingat punya jurus tenaga dalam setelah perkelahian itu sudah usai.
Berdasarkan pengamatan, tenaga dalam berfungsi baik justru disaat pemiliknya “tidak sengaja” dan terpaksa harus bertahan dari serangan orang yang berniat jahat. Dan tenaga dalam itu sering gagal justru disaat tenaga dalam itu dipersiapkan sebelumnya untuk “berkelahi” dan akan lebih gagal total jika tenaga dalam itu digunakan untuk mencari masalah.
Tenaga dalam harus bersifat defensif atau bertahan. Biarkan orang marah dan tetaplah bertahan dengan sabar dan tak perlu mengimbangi amarah. Sebab jika pemilik tenaga dalam mengimbangi amarah, maka rumusnya menjadi “plus ketemu plus” yang menyebabkan energi itu tidak berfungsi. Dan dalam hal ini Budi Suci menjabarkan konsep “min – plus” itu dengan sikap membiarkan lawan “budi” (bergerak/amarah) dan tetap mempertahankan “suci” (sabar, tenang).
Memposisikan diri tetap bertahan (sabar) sangat ditentukan tingkat kematangan mental. Dan pada masa Nampon dan H Abdul Rosyid, tenaga dalam banyak berhasil karena dipegang oleh pendekar yang sudah terlatih bela diri secara fisik (sabung) sehingga saat menghadapi penyerang mentalnya tetap terjaga.
Sekarang semua sudah berubah. Orang belajar tenaga dalam sudah telanjur yakin bahwa serangan lawan tidak dapat menyentuh sehingga fisik tidak dipersiapkan menghindar atau berbenturan. Dan karena tidak terlatih itu disaat melakukan kontak fisik, yang muncul justru rasa takut atau bahkan mengimbangi amarah hingga keluar dari konsep “min-plus”.
Sejarah tentang tenaga dalam perlu diketahui oleh mereka yang mengikuti suatu aliran tenaga dalam. Ketidaktahuan tentang sejarah itu dapat menggiring seseorang bersikap kacang lupa kulit, bahkan memunculkan “anekdot spiritual” sebagaimana dilakukan seorang guru tenaga dalam yang karena ditanya murid-muridnya dan ia tidak memiliki jawaban lalu menjelaskan bahwa orang-orang yang ditokohkan dalam perguruan itu dengan jawaban yang mengada-ada. Misalnya, Saman adalah seorang Syekh dari Yaman, Madi disebut sebagai Imam Mahdi, Kari adalah Imam Buchori, Subandari adalah Syeh Isbandari. Dan jawaban seperti itu tidak memiliki dasar dan konon hanya berdasarkan pada kata orang tua semata.
Macam – macam pernapasan
1. Nafas perut
Tekniknya tarik nafas lewat hidung, perut ikut mengembang…buang halus lewat hidung sambil perut dikempiskan sekempis-kempisnya. Agak ditekan sedikit ke dalam. Gak perlu tahan nafas, otomatis antara tarikan dan buang nafas ada jeda barang sedetik . Ingat untuk selalu rileks…gak perlu pakai konsentrasi berlebihan, tp cukup pindahkan perhatian pikiran ke perut. Posisinya bisa duduk atau bersila. Sebisa mungkin jangan bersandar. Lakukan minimal sepuluh menit. Kalau dasarnya sudah kuat nanti ada hawa hangat di perut. Kalau dilakukan semakin lama nanti atmosfir udara di sekeliling berubah jadi sejuk, agak2 dingin malah.
2. Nafas dada
Tarik nafas lewat hidung, dada yang mengembang/naik. Usahakan posisi perut tetap rata, jd udara tidak terlalu banyak masuk ke perut. Tahan senyaman mungkin. Idealnya minimal 3 detik. Semakin lama semakin bagus, tp yang terpenting sesuai kesanggupan…anda merasa nyamannya berapa lama. Buang halus lewat mulut. Otomatis dada ikut mengempis. Usahakan semua otot tubuh rileks. Cukup pindahkan perhatian pikiran ke dada. Lakukan minimal 10 menit juga. Kalau ada rasa hangat di dada pertahankan fokus perhatian ke rasa hangat td.
3. Nafas diafragma
Tarik nafas lewat hidung, tp dada + perut sama2 ikut mengembang. Pindahkan fokus perhatian ke ulu hati. Biasanya ada sedikit terasa tekanan di daerah ulu hati. Tahan senyaman mungkin, lalu buang halus lewat mulut sambil mengempiskan dada+perut. Tetap rileks…Lakukan minimal 10 menit juga.
Jd urutan latihan seperti diatas, nafas perut, lalu pindah ke nafas dada, lalu langsung pindah ke nafas diafragma. Usahakan perpindahan antar tiap nafas senyaman mungkin, dan tanpa putus. Setelah selesai, lakukan lg nafas perut dengan santai…fokuskan perhatian ke area solar plexus (antara pusar dan perut bawah). Lakukan sampai terasa hawa hangat di area ini, kalau terasa teruskan nafas perut minimal 5 menit lg. Kalau tidak terasa hawa hangat, cukup lakukan nafas perut sampai suhu tubuh normal atau hawa disekeliling menjadi sejuk. (umumnya dalam proses latihan td suhu tubuh meningkat sampai mengeluarkan keringat yang cukup banyak).
Ini harus dilakukan, untuk menyimpan tenaga dalam yang sudah bangkit td di solar plexus…
Latihan dasar 1
Setelah itu duduk/bersila, posisikan kedua telapak tangan di atas lutut dengan telapak tangan menghadap keatas. Niatkan menyerap energi alam dan ditampung di tangan td. Dengan berniat otomatis otak mengirimkan perintah ke tubuh untuk mempersiapkan diri menyerap energi. Setelah itu rasakan dikedua telapak tangan….ada sensasi energi tidak? Kalau ada cukup pertahankan fokus perhatian ke kedua telapak tangan, sampai terasa berat/hangat sekali. Bayangkan energi yang diserap td tertampung di kedua tangan dan membentuk bola energi…..Setelah cukup (pakai intuisi bro…) masukkan ke tubuh melalui ubun2. Caranya angkat kedua telapak tangan yang sudah ada bola energinya td ke atas ubun2…lalu gerakkan ke arah belakang kepala sambil berniat/membayangkan energi masuk dan menyebar ke seluruh tubuh. Ulangi min 5 kali….
Untuk yang tidak merasakan sensasi energi di telapak tangan pada saat melakukan penyerapan energi alam ini, silakan lakukan latihan kepekaan dasar berikut:
1. Gosok2 kan kedua telapak tangan perlahan-lahan, kemusian semakin lama semakin cepat sampai kedua telapak tangan terasa panas.
2. Setelah terasa panas, pisahkan kedua tangan dalam jarak +/- 25-30 cm, dalam posisi saling berhadapan di depan dada.
3. Fokuskan perhatian ke ruang kosong antara kedua telapak tangan, rasakan sensasi gelombang elektromagnetic yang terjadi.
4. Apabila terasa sensasi energi yang cukup kuat, jauhkan jarak antara kedua telapak tangan perlahan-lahan sambil tetap merasakan sensasi energi yang ada.
5. Tahan jarak kedua telapak tangan sampai maksimal +/- 60 cm. Kemudian dekatkan lagi perlahan-lahan.
6. Ulangi langkah 1-5 diatas beberapa kali.
Tips:
-Lakukan serileks mungkin, tdk perlu terlalu dipaksakan. Tahan nafasnya cukup senyaman mungkin…semampunya ! Kalau tdk kuat 10 menit tiap nafas, boleh 5 menit-5 menit dulu…
-Usahakan pakai baju yang agak longgar, jangan memakai aksesoris apapun (jam tangan, cincin dll)
-Untuk latihan nafas lakukan dengan mata terbuka..untuk menghindari ada pengejangan di area otot wajah dan kepala, sehingga energi latihan tdk banyak yang tersalur ke area kepala dl…
-Untuk penyerapan energi alam bisa dilakukan dalam kondisi mata tertutup, dan lakukan dengan pernafasan biasa atau nafas perut..(silahkan pilih yang lebih nyaman & rileks)
– Untuk teknik Latihan Pernafasan Jangan disatukan, dimodifikasi dengan teknik latihan lain walaupun mirip. Pada teknik selanjutnya akan ada teknik membuka jalur energi yang apabila dikombinasikan bukan dengan teknik pernafasan diatas akan berakibat buruk bagi kesehatan.
Seni Beladiri Tenaga Dalam
Pertanyaan:
di indonesia banyak sekali aliran2x bela diri yang mengkhususkan pada beladiri menggunakan tenaga dalam. dan dulu saya pernah mendengar pada salah satu aliran, jika sudah pada tingkat tertentu, kita bisa mematahkan besi dengan tangan, membuat besi menjadi merah (panas)
Apa hukumnya jika kita mengikuti seni bela diri yang memiliki tenaga dalam ( latihannya dengan tehnik pernafasan )
Jawaban:
Assalamu `alaikum Wr. Wb.
Memang sebaiknya untuk menentukan suatu seni bela diri itu sesuai dengan syariah atau tidak, perlu diadakan kajian yang mendalam oleh para pakar syariah.
Bahkan harus ada badan pengawas syariah baik internal atau pun independen. Hal ini penting dan sangat berguna, paling tidak untuk beberapa hal :
1. Memastikan bahwa seni bela diri itu memang tidak bertentangan dengan aqidah atau syariah. Atau -bila memang ada- pada bagian mana yang masih merupakan ikhtilaf di antara para ulama serta bagian mana pula yang perlu dihilangkan. Kajian ini sangat penting agar umat Islam merasa aman dan leluasa mempelajarinya.
2. Merekomendasikan kepada umat Islam untuk mempelajari seni bela diri tersebut secara formal termasuk siapa saja yang telah mendapat rekomendasi untuk mengajarkan seni itu atau perguruan mana saja. Dan adanya pengawas syariah itu bisa dijadikan rujukan bagi umat Islam.
3 Selain itu bisa diterbitkan buku yang mengupas kajian syariah atas seni bela diri tersebut sehingga khalayak bisa melihat bagaimana proses pengambilan hukum halal tidaknya itu dilakukan. Tentu saja buku itu dilengkapi dengan dalil-dalil Al-Quran, As-Sunnah, pendapat para ulama serta ijtihad dan juga sumber-sumber hukum Islam lainnya.
4. Dengan adanya pengawasan syariah itu, maka mutu dan kualitas serta batasan halal haramnya bisa tetap terus diawasi dengan baik oleh para ulama. Bukan pada saat tertentu saja tetapi terus menerus karena pengawas syariah tidak hanya mengawasi sesaat saja.
Jadi masalah seni bela diri dan pernafasan ini layaknya jenis produk makan yang perlu dikaji kehalalannya oleh sebuah lembaga yang independen. Karena begitu banyak seni bela diri yang mengaku tidak menggunakan kekuatan ghaib di depan muridnya, namun lama kelamaan ketahuan juga. Jadi perlu dipelajari secara seksama dan mendalam, agar tidak menjadi sumber fitnah dan kabar issu yang bohong.
Perlu dilakukan wawancara dengan suhu atau pelatihnya, termasuk kajian tentang teknik-teknik yang digunakan. Bila memang murni kekuatan itu dihasilkan dari oleh pernafasan, bagaimana bisa diterangkan secara biologis, fisika, kimia dan ilmu eksak yang mendukungnya. Juga perlu ada cross-chek dengan mereka yang sudah pernah mengikutinya untuk menanyakan adakah ciri-ciri gangguan dari jin selama mengikutinya. Adakah praktek-praktek tertentu yang bertentangan dengan aqidah islam ? Adakah unsur-unsur ghaib ikut bermain di dalamnya. Termasuk pembahasan sejarah dan latar belakang ilmu bela diri tersebut.
Semua informasi itu akan menjadi pertimbangan apakah bela diri itu bisa diterima secara syar`i atau tidak. Agar semua mejadi jelas dan masyarakat tidak ragu-ragu lagi dalam memilih.
Wallahu a`lam bis-shawab.
Belajar Beladiri Ilmu Tenaga Dalam Indonesia.
Beladiri Ilmu Tenaga Dalam merupakan salah satu warisan dari budaya yang ada di Indonesia. Pada masa lalunya, belajar Ilmu Tenaga Dalam biasanya disertai dengan latihan-latihan jurus-jurus silat tertentu. Karenanya, saat ini pada beberapa perguruan Silat Indonesia, akan dijumpai juga bimbingan pengajaran Ilmu Beladiri Tenaga Dalam. Hingga saat ini berbagai jenis, aliran, metode, dan perguruan-perguruan silat ilmu tenaga dalam banyak dijumpai di berbagai daerah di Indonesia.
Setiap perguruan silat ilmu beladiri Tenaga Dalam Indonesia mempunyai perbedaan ciri khas dan keunggulan masing-masing. Beberapa perbedaan yang cukup menonjol dan dapat dilihat pada setiap perguruan Silat Ilmu Beladiri Tenaga Dalam adalah metode olah nafas, cara do`a, prinsip-prinsip, pemahaman, dan berbagai gerakan jurus Ilmu Beladiri Tenaga Dalam.
Perkembangan Ilmu Tenaga Dalam di Indonesia
Mengikuti perkembangan zaman, berbagai perguruan silat Beladiri Tenaga Dalam berusaha melakukan berbagai pengembangan ilmu Tenaga Dalam, mulai dari cara dan metode belajar Tenaga Dalam, pemahaman, dan lain sebagainya dengan tujuan agar Ilmu Tenaga Dalam lebih mudah diterima oleh masyarakat luas dan lebih mudah dipelajari oleh siapa saja yang berminat. Walaupun begitu, sangat banyak di antara perguruan tersebut di daerah, tetap mempertahankan metode-metode asli tradisional perguruan mereka.
Ciri-ciri yang dapat dilihat pada beberapa perguruan silat Tenaga Dalam Indonesia yang masih tetap mempertahankan tradisi asli cara dan metode tenaga dalam di antaranya dapat terlihat dari proses awal ketika seorang siswa ingin mengikuti atau belajar ilmu Tenaga Dalam pada sebuah peruguran Silat Tenaga Dalam seperti persyaratan-persyaratan tertentu yang harus dijalankan antara lain seperti wajib mengikuti ritual tertentu, menyediakan bahan-bahan tertentu seperti ayam jantan, pisau, kain hitam atau putih, dan lain sebagainya. Umumnya, tradisi ini mengikuti adat istiadat atau tradisi silat yang ada di daerah setempat dan belum tentu sama antara satu daerah dan daerah lainnya di Indonesia.
Sementara itu, ciri-ciri perguruan silat Tenaga Dalam yang telah melakukan pengembangan antara lain, menghilangkan berbagai persyaratan yang masih berkesan tradisional di atas. Di samping itu, beberapa perguruan silat Tenaga Dalam yang melakukan pengembangan terlihat lebih bersifat organisatoris seperti perguruan Tenaga Dalam Satria Nusantata (SN), Tenaga Dalam Prana Sakti (PS), Tenaga Dalam Silat Merpati Putih, dan banyak lainnya.
Ingin Mempelajari Tenaga Dalam Indonesia
Jika anda tertarik ingin mempelajari Ilmu Beladiri Tenaga Dalam Indonesia, maka anda dapat belajar pada salah satu perguruan Silat Tenaga Dalam yang telah kami sebutkan di atas atau mencari langsung para Master Guru Tenaga Dalam yang ada di berbagai daerah. Walaupun sebagian mereka ada yang tidak terbuka (tidak mengajarkan ke sembarang orang), namun anda dapat melakukan pendekatan pada master guru yang dimaksud agar mereka bersedia mengajarkan anda Ilmu Beladiri Tenaga Dalam.
02.Hanya Allah subhanahu wata’ala Pelindung Kita
Barangsiapa singgah di suatu tempat, lalu berdoa
A‟udzu bi kalimatillahit tammaati min syarri maa kholaq (Aku berlindung dari kalam Allah Yang Maha Sempurna dari kejahatan segala makhluk yang Dia ciptakan), maka tidak ada sesuatu apapun yang kan membahayakan dirinya sampai dia beranjak dari tempat itu “ [H.R. Muslim]
Kita telah mengetahui, Allah-lah satu-satunya Dzat yang mampu memberikan manfaat dan menghilangkan mudharat dari diri kita. Jika demikian, maka hanya Allah lah tempat kita memohon pertolongan dan meminta perlindungan. Barangsiapa yang bergantung kepada selain Allah subhnahuwata’ala , niscaya dia akan ditelantarkan, sebab hanya Dia satu-satunya tempat meminta perlindungan, meminta keselamatan, dan tumpuan harapan.. Segala manfaat dan madharat berada di tangan-Nya.
Salah satu bentuk perbuatan bergantung kepada selain Allah adalah dengan meminta perlindungan dan keselamatan hidup kepada selain-Nya, baik itu jin, penghuni kubur, ataupun yang lainnya. Sungguh aneh, ketika ada orang yang mengakui bahwa hanya Allah yang menciptakannya dan mengatur segala urusanya, tetapi meminta perlindungan (isti‟adzah) kepada selain Allah. Padahal hanya Allah subhnahuwata’ala yang mampu memberikan perlindungan kepada kita.
Makna dan Macam-macam Isti’adzah
Isti‟adzah artinya meminta perlindungan dan penjagaan dari hal yang tidak disukai.
Isti‟adzah adalah termasuk dari doa mas-alah (doa permintaan).
Isti‟adzah ada beberapa macam :
Pertama. Isti‟adzah (meminta perlindungan) kepada Allah subhnahuwata’ala . Yakni isti‟adzah yang mengandung sikap butuh kepada-Nya, bergantung kepada-Nya, keyakinan bahwa hanya Allah yang memberi kecukupan, serta hanya Dia tempat berlindung yang sempurna dari segala sesuatu, baik yang sedang terjadi maupun akan terjadi, baik perkara kecil maupun besar, baik berasal dari manusia maupun yang lainnya. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta‟ala,
” Katakanlah : Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul , dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki”.[Al Falaq:1-5]
Dan juga firman-Nya :
”Katakanlah : Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia, Raja manusia, Sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dada manusia. Dari (golongan) jin dan manusia” [An Naas:1-6]
Isti‟adzah jenis seperti ini hanya boleh ditujukan kepada Allah subhnahuwata’ala . Barangsiapa yang menujukannya kepada selain Allah berarti telah berbuat syirik akbar dan pelakunya keluar dari Islam.
Kedua. Mohon perlindungan kepada Allah melalui sifat-sifat-Nya,
seperti kalam-Nya, kemuliaan-Nya, keagungan-Nya, atau semisalnya. Hal ini diperbolehkan berdasarkan sabda Nabi shallallahu „alaihi wa sallam.“Aku berlindung kepada kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya” [H.R Muslim 2708].
Dan juga sabda beliau,
“Aku berlindung dengan keagungan-Mu dari terbinasakan dari arah bawahku” [H.R Abu Dawud 5074, An-Nasa-i 8/677, Ibnu Majah 3547, dll. Hadits shahih).
Dan dalam doa yang beliau ajarkan ketika sakit,
“Aku berlindung dengan keagungan dan kekuasaan Allah dari keburukan yang aku temui dan aku khawatirkan menimpaku” [H.R Muslim 2202]. Dan sabda beliau yang lain :
“Aku berlindung dengan ridha-Mu dari kemurkaan-Mu” [H.R Muslim 486]. Nabi shallallahu „alaihi wa sallam ketika turun ayat,
“Katakanlah : Dialah yang bekuasa untuk menimpakan adzab kepadamu, dari atas kamu …” [Al-An‟am : 65] maka beliau bersabda :
“Aku berlindung dengan Wajah-Mu” [H.R Bukhari 6883]
Ketiga. Mohon perlindungan kepada orang mati atau orang yang hidup yang tidak hadir di hadapannya dan tidak mampu memberikan perlindungan.
Hal ini termasuk perbuatan syirik akbar .
Allah Ta‟ala berfirman :
“Dan bahwasannya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin-jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan” [QS. Al-Jin : 6].
Termasuk dalam jenis ini meminta perlindungan keselamatan kepada jin, kuburan orang shahilh, kuburan Nabi, dan bahkan para malaikat sekalipun. Perbuatan ini termasuk syirik akbar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam.
Keempat. Memohon perlindungan kepada sesuatu yang mungkin untuk dijadikan tempat berlindung, baik berupa makhluk, tempat, atau yang lainnya.
Perbuatan seperti ini diperbolehkan.
Dalil yang menunjukkan hal ini berdasarkan sabda Nabi shalallahu „alaihi wa sallam ketika menyebutkan tentang fitnah :
“Barangsiapa yang mencari-carinya ia akan terjerat olehnya dan barangsiapa yang mendapat tempat berlindung atau berteduh maka hendaklah ia berlindung dengannya” [H.R Bukhari 7081 dan Muslim 2886].
Dan Nabi shallallaahu „alaihi wa sallam menjelaskan bentuk perlindungan ini dengan sabdanya:
إ
“Siapa yang yang memiliki onta, maka hendaklah pergi menggunakan ontanya” [H.R Muslim2887].
Disebutkan pula dalam shahih Muslim, dari Jabir bahwa seorang wanita dari bani Makhzum melakukan tindakan pencurian. Wanita itu kemudian dibawa kepada Nabi shalallahu ‟alaihi wa sallam, lalu wanita tersebut meminta perlindungan kepada Ummu Salamah. [Lihat H.R Muslim 1688]
Dalam Shahih Muslim juga dari Ummu Salamah, Nabi shalallahu „alaihi wa sallam bersabda :
“Ada orang yang berlindung di Baitullah Ka‟bah, lalu dikirimlah seorang utusan kepadanya” [H.R. Muslim 2882].
Jika ada seseorang minta perlindungan dari kejahatan orang dzalim maka wajib hukumnya memberikan perlindungan sebatas kemampuan yang dimiliki. Akan tetapi jika dia minta perlindungan untuk tujuan melakukan kemungkaran atau menghindari dari menunaikan kewajibannya, maka haram untuk melindunginya. Kesimpulannya, boleh meminta perlindungan kepada makhluk sebatas hal-hal yang dimampu oleh makhluk tersebut.
Anjuran Doa Meminta Perlindungan
Nabi shallallahu „alaihi wa sallam mengajarkan kita suatu doa untuk meminta perlindungan :
“Barangsiapa singgah di suatu tempat, lalu berdoa A‟udzu bi kalimatillahit tammaati min syarri maa kholaq (Aku berlindung dari kalam Allah Yang Maha Sempurna dari kejahatan segala makhluk yang Dia ciptakan), maka tidak ada sesuatu apapun yang kan membahayakan dirinya sampai dia beranjak dari tempat itu “ [H.R. Muslim]
Akhirnya, hanya kepada Allah kita meminta perlindungan dari segala kesulitan yang menimpa diri kita. Hanya Allah-lah sebaik-baik pelindung.* Wa shallallahu „alaa Nabiyyina Muhammad.
* Disarikan dari Syarh Al Ushuul ats Tsalaatsah 52-53, Syaikh Ibnu ‟Utsaimin rahimahullah,
“Audzu billahi minka Al’anuka bila’natillahit tammah falam yasta’khir””
Hadist Sahih Muslim No. 0496 Jilid 1 Topik adalah Sholat
496. Dari Abu Darda’ r.a., katanya: “Pada suatu waktu, ketika Rasulullah shalllahulahiwassalam . sedang sholat, kami mendengar beliau membaca:
“A’udzu billahi minka” (Aku berlindung kepada Allah dari kejahatanmu). Kemudian beliau membaca pula: “Al’anuka bila’natillah” (tiga kali) (Aku melaknatmu dengan laknat Allah)
sambil beliau menjangkaukan tangannya seperti orang hendak menerima sesuatu. Ketika telah selesai sholat kami bertanya, “Ya, Rasulullah! Tadi dalam sholat kami mendengar anda membaca sesuatu yang belum pernah kami dengar anda baca sebelumnya, dan kami lihat anda menjangkaukan tangan anda.” Jawab Rasulullah shallljhaulahiwassalam ., “Tadi musuh Allah iblis datang membawa obor menyala hendak dilemparkannya ke muka ku. Lalu kubaca:
”A’udzu billahi minka.” (tiga kali) (Aku berlindung kepada Allah dari kejahatanmu) (3 X). Kemudian ku baca pula:
“Al’anuka bila’natillahit tammah falam yasta’khir” (tiga kali)
(Ku laknat engkau dengan laknat Allah yang sungguh-sungguh, sehingga engkau celaka seketika) (3 X).
Sesudah itu aku bermaksud hendak mengikatnya. Demi Allah, kalaulah bukan karena doa saudara ku nabi Sulaiman as, tentu dia akan terikat sampai Subuh sehingga anak-anak penduduk di sini dapat mempermain-mainkannya.”
03.Syariat Islam Mengenai “Ilmu Tenaga Dalam”
Tenaga dalam merupakan salah satu bentuk ‘khawariqul ‘adah’ (kemampuan luar biasa), adakalanya kemampuan ini berasal dari AllahSubhanahu wa Ta’ala, sebagaimana yang dianugrahkan kepada wali-wali-Nya. Dan ada kalanya berasal dari syaiton yang kemudian sering dianggap sebagai anugrah ilahi, sebagaimana yang diperlihatkan oleh wali-wali syaiton tersebut.
Menurut para ulama, diantaranya Syaikhul Islam Ibnu TaimiyahRahimahulloh, antara kedua ‘khawariqul ‘adah’ (kemampuan luar biasa) dapat dibedakan dengan dua tinjauan.
Yang Pertama adalah melalui keadaan orang yang mendapatkannya. Apabila orang yang mendapatkannya adalah orang yang bertakwa, dari kalangan ahli tauhid, memiliki Ilmu dalam Syariat Islam yang shohih, ikhlas dalam beribadah, tidak mengamalkan amalan-amalan bid’ah yaitu amalan ibadah yang tidak mencontoh tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bukan termasuk pelaku maksiat, maka apabila ia mendapatkan ‘khawariqul ‘adah’ berarti itu merupakan anugrah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya apabila yang mendapatkannya bukan dari kalangan ahli tauhid, seperti halnya orang-orang yang suka melakukan perbuatan syirik, misalnya memohon berkah melalui kuburan orang-orang yang dikeramatkan, mengadakan acara ‘haul’ (merayakan hari ulang tahun kematian) dan lainnya, maka yang diperolehnya adalah‘khawariqul ‘adah’ (kemampuan luar biasa) yang berasal dari Syaithan.
Begitu juga apabila yang memperoleh adalah yang suka melakukan perbuatan bid’ah, misalnya membaca dzikir-dzikir yang tidak disyari’atkan. Seperti dengan membatasi jumlah-jumlah, bentuk-bentuk, suara-suara, atau cara-cara tertentu yang tidak ada contohnya dalam syari’at. Atau orang yang suka berbuat maksiat. Misalnya tidak menjaga batas-batas pergaulan antara pria dan wanita, tidak memelihara jenggot, meminum yang memabukkan, memakan harta riba, merokok, tidak menutup aurat dan lain-lain. Apabila demikian keadaan orangnya, maka ‘khawariqul ‘adah yang diperoleh adalah berasal dari Syaithan.
Yang Kedua adalah melalui sebab diperolehnya ‘khawariqul ‘adah’. Khawariqul ‘adah yang berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya bisa diperoleh dengan ketaatan, keimanan dan ketakwaan. Selain itu Islam tidak mengajarkan seorang muslim untuk beribadah untuk tujuan mendapatkan ‘khawariqul ‘adah’(kemampuan luar biasa).
Justru itulah yang membedakan antara yang berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan yang berasal dari Syaithan. Yaitu bahwa ‘khawariqul ‘adah’ yang berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak bisa dipelajari apalagi dibakukan menjadi semacam ‘ilmu kedigdayaan’, sedangkan yang berasal dari Syaithan bisa dipelajari dan bisa dibakukan menjadi suatu ilmu. Sekalipun secara zhahir dilakukan dengan membaca ayat atau dzikir. Sebagaimana difirmankan AllahSubhanahu wa Ta’ala, yang artinya: “Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara suami dan istrinya” (QS: Al-Baqarah: 102)
Ayat ini menunjukkan, bahwa ‘khawariqul ‘adah’ yang dapat dipelajari adalah sihir (berasal dari Syaithan), sedangkan yang berasal dari anugrah AllahSubhanahu wa Ta’ala tidaklah dapat dipelajari sebagaimana sihir.
(Sumber Rujukan: Fathul Bari X/223, Ibnu Hajar Al-Asqalani; Al-Furqan Baina Auliya’ir Rahman wa Auliya’isy Syaithan)
Islam dan Tenaga Dalam
.
Pada umumnya masyarakat kurang memahami betul apa yang dimaksud dengan ilmu tenaga dalam. Kesan yang mereka lihat kurang tepat akibat menyamaratakan bentuk-bentuk ilmu tenaga dalam yang dipertunjukkan oleh berbagai perguruan. Padahal hal-hal yang menyangkut klenik, sifatnya hanyalah campuran dari luar ke dalam ilmu tenaga dalam yang hakiki. Sebenarnya tenaga dalam merupakan fenomena alam yang berjalan di bawah Sunnatullah (hukum-hukum Allah Subhanahauwata’ala ), karena itu, ilmu ini adalah ilmu kebenaran dari Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Berilmu.
Tenaga dalam adalah perilaku hati atau batin yang mendasari niat perbuatan atau tindakan seseorang dan merupakan suatu bentuk perlindungan yang diberikan atau dianugrahkan Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa kepada manusia yang mau mempelajari dan membinanya. Potensi tenaga dalam telah bersemayam dalam tubuh setiap insan. Tinggal insan itu sendiri yang menentukan apakah mau atau tidak memanfaatkan potensi diri yang merupakan rahmat tak ternilai dari Sang Khalik (Allah Subhanahuwata’ala Yang Maha Menciptakan).
Kalau kita mau merenungi sepintas apa yang ada dalam tubuh kita, kita ambil contoh saja paru-paru. Di dalam paru-paru terdapat beribu-ribu pembuluh halus yang diujung-ujungnya terdapat berjuta-juta kantong udara. Pembuluh-pembuluh halus ini sangat penting untuk menyerap udara bersih (oxygen) yang sangat diperlukan dalam proses pembakaran di dalam tubuh. Apabila kantong-kantong udara ini tidak mendapatkan udara yang cukup, maka bisa mengakibatkan timbulnya berbagai macam penyakit, seperti pilek, batuk, penyakit paru-paru, penyakit jantung, lemah jiwa, daya tahan tubuh rendah dan sebagainya.
Di samping itu tubuh manusia juga memerlukan bio energi yang bertenaga sangat halus. Tenaga bukan merupakan molekul-molekul udara melainkan berbentuk tenaga murni yang sangat halus. Tenaga halus atau bioenergi inilah yang biasa kita kenal dengan sebutan prana,chi, dan tenaga dalam.
Bagaimanakah perbedaan ilmu tenaga dalam dan ilmu sihir?
Ilmu sihir dikerahkan dengan bantuan tenaga setan laknatullah alaihii. Setan meskipun mau memberikan bantuan kepada sesorang, sehingga seseorang bisa berbuat sesuatu yang aneh, namun setan pasti minta syarat dan imbalan. Syarat paling umum yang diminta setan kepada pemujanya adalah seseorang harus dan wajib melepaskan aqidah dan imannya kepada Allah Subhanahuwata’ala . Akibatnya ahli sihir dan orang-orang yang menuntut ilmu sihir jatuh dalam kemusryikan.
Pada kenyataannya seseorang dalam mengelola kemampuannya misalnya mengikuti olah kanuragan (semacam ilmu beladiri), selalu diiringi dengan upacara atau ritual yang bisa saja sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Di samping itu, ilmu sihir selalu bertujuan untuk menimbulkan kerusakan dan kehancuran di kalangan manusia. Tidak ada ilmu sihir yang bertujuan baik. Sebagai contoh dan ini jelas sekali ketika ada seorang yang sakit pergi ke dukun sihir, biasanya dukun sihir selalu meminta sesuatu yang tidak sesuai dengan ajaran Islam bahkan cenderung bersifat maksiat.
Inilah perbedaan yang sangat … sangat jelas antara ilmu tenaga dalam dan ilmu sihir. Bagaimana dengan kita sekarang? Dari metode yang diterapkan dan dijalankan pada suatu perguruan misalnya, kita dapat menentukan dan memastikan apakah perguruan itu dalam mengolah ilmu tenaga dalam bersifat syirik atau berada dalam jalur Islami? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing.
Bangkitkan Tenaga Dalam Lewat Dzikrullah
Pada setiap manusia ada tenaga dalam yang tersimpan, sebagian ada yang mengembangkannya, tetapi lebih banyak yang tidak menghiraukannya. Mengembangkan tenaga dalam tidak terlalu sulit, karena ada guru yang bisa mengajar dan membina. Tenaga dalam yang berupa mukjizat tidak terjadi pada manusia biasa, hanya ada pada para Rasul-Rasul Allah dan Nabi-Nabi Allah. Lain halnya dengan keramat (karamah) akan dapat dicapai dengan syarat-syarat tertentu sesuai dengan janji Allah Subhnahauwata’ala. Beberapa diantaranya disebutkan dalam Al-Quranul Karim bahwa
Allah Subhnaahuwata’ala menyediakan rahmat dan ilmu yang diberikan kepada manusia yang datang mendekatkan diri kepada-Nya dan berbuat serta berperilaku menurut kehendak-Nya. (Lihat Q.S. Al-Kahfi ayat 65).
Keinginan yang terfokus pada pembangkitan tenga dalam dengan menjalani latihan-latihan dzikrullah (berzikir kepada Allah Subhanahuwata’ala ) dan konsentrasi sepenuhnya kepada Allah Subhanahauwata’ala . Makin dekat rohani kepada Allah Subhanahuwata’ala , maka makin banyak cahaya (nur) Allah Subhanahuwat’’ala diterima sebagai meta energi. Kekuatan rohani yang dapat menguasai jasadnya dapat melahirkan kekuatan yang luar biasa.
Allah Subhnahauwata’ala menyediakan pemberian ilmu dan rahmat-Nya kepada kita seluruh kaum muslimin dan muslimat (lihat kembali Q.S. Al-Kahfi ayat 65). Dan ada
Hadits Qudsi, di mana Rasulullah Shallllahulaihiwassalam bersabda yang artinya: “Allah Subhnahauwata’ala berfirman: Aku sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah di dengar oleh telinga dan tergores oleh hati manusia. (HR Bukhari dari Abu Hurairah).
Olah nafas dengan zikir merupakan jasad-jasad halus dan gaib yang dapat digunakan bila diperlukan sebagaimana halnya sinar matahari diterima oleh daun-daun, sehingga mengalami asimilisasi yang pada gilirannya menghasilkan bunga dan buah. Demikian pula rohani, rohani merupakan hal yang gaib, tentulah tenaga yang keluar dari raga itu berwujud gaib pula dan tenaga gaib itu disebut meta energi. Untuk membangkitkan meta energi ini dalam wujud tenaga rohani ini salah satunya adalah mengolah nafas bersama-sama dengan dzikrullah (berzikir kepada Allah Subhanahuwata’ala ).
Tubuh kita dapatlah disamakan dengan biolistrik atau gerak biolistrik, sebab semua organ tubuh dalam menjalankan fungsinya selalu berkaitan dengan listrik. Jika kita mengolah ini dengan baik dan menggunakan metode-metode tertentu, maka Insya Allah kita dengan tidak sadar bisa menyalurkan energi listrik tersebut melalui anggota tubuh yang diinginkan. Energi listrik dalam tubuh inilah yang biasa disebut dengan tenaga dalam atau meta-energi. Dan ilmu tenaga dalam sebenarnya sudah digunakan manusia sejak 4000 tahun lampau sebelum Nabi Isa a.s.
04.Tafsir Al-Isti’adzah ( TA’AWUDZ ) DAN BARA’AH
Definisi Isti’adzah.
Secara etimologi dia adalah masdhar dari kata اِسْتَعاذَ – يَسْتَعِيْذُ – اِسْتِعاذًا yang bermakna permintaan perlindungan dan penjagaan dari sesuatu yang dibenci[1].
Sementara secara terminology, isti’adzah ada empat bentuk:
Isti’adzah ada 4 macam[2]:
• Isti’adzah kepada Allah Ta’ala.
Yaitu isti’adzah yang mengandung kesempurnaan rasa butuh kepada Allah subhanahu wata’ala , bersandar kepada-Nya, serta meyakini penjagaan dan kesempurnaan pemeliharaan Allah Ta’ala dari segala sesuatu, baik di zaman sekarang maupun di zaman yang akan datang, baik pada perkara yang kecil maupun yang besar, baik yang berasal dari manusia maupun selainnya.
Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala dalam surah Al-Falaq dan surah An-Naas, dari awal sampai akhir.
• Isti’adzah dengan salah satu dari sifat-sifat Allah Ta’ala, seperti sifat kalam-Nya, keagungan-Nya, keagungan-Nya, kemuliaan-Nya, dan semacamnya.
Dalilnya sangat banyak, di antaranya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah ta’ala yang sempurna dari kejelekan apa-apa yang Dia ciptakan.[3]”
Juga sabda beliau:
أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ
“Aku berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu, dan berlindung dengan ampunan-Mu dari hukuman-Mu.” (HR. Muslim no. 751)
• Isti’adzah kepada orang mati atau orang yang masih hidup tetapi tidak ada di tempat dan tidak mampu melindungi.Ini adalah kesyirikan.
• Di antara bentuknya adalah seperti pada firman Allah Ta’ala:
وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا
“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, Maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al-Jin: 6).
• Isti’adzah dengan apa-apa yang memungkinkan untuk dijadikan perlindungan, baik berupa manusia, atau tempat-tempat, atau selainnya.
Isti’adzah jenis ini dibolehkan, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala beliau menyebutkan tentang fitnah:
وَمَنْ يُشْرِفْ لَهَا تَسْتَشْرِفْهُ وَمَنْ وَجَدَ مَلْجَأً أَوْ مَعَاذًا فَلْيَعُذْ بِهِ
“Dan siapa yang ingin melihat fitnah itu, maka fitnah itu akan mengintainya. Siapa yang menemukan tempat pertahanan atau tempat perlindungan, hendaklah dia berlindung padanya.” (HR. Al-Bukhari no. 3334 dan Muslim no. 5137)
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memperjelas makna ‘tempat pertahanan atau tempat perlindungan’ ini dengan sabdanya, “Barangsiapa yang memiliki unta maka hendaknya dia menggunakan untanya (sebagai tempat berlindung).”
Hanya saja, jika seseorang meminta perlindungan dari kejelekan orang yang zhalim, maka dia wajib untuk dilindungi sekuat tenaga. Namun jika dia meminta perlindungan agar bisa melakukan sesuatu yang dilarang atau lari dari kewajiban, maka haram untuk melindunginya.
Dari keempat jenis isti’adzah di atas, yang kita maksudkan dalam pembahasan ini tentunya adalah
isti’adzah bentuk yang kedua dan yang ketiga, yaitu permintaan perlindungan kepada Allah Ta’ala semua perkara yang dibenci.
Adapun makna أَعُوْذُ بِاللهِ مِنِ الشَّيْطانِ الرَّجِيْمِ, maka Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam Tafsrinya, “Aku berlindung kepada Allah subhanahu wata’ala dari setan yang terkutuk, jangan sampai dia memberikan mudharat pada agama dan duniaku, atau dia menghalangi saya dari mengerakkan apa yang diperintahkan kepadaku, atau dia mendorong saya untuk mengerjakan apa yang aku dilarang melakukannya.”
Definisi Setan.
Berasal dari kata شَطَنَ yang berarti jauh. Maka sudah menjadi tabiat setan itu jauh dari tabiat kemanusiaan dan jauh dari semua bentuk kebaikan.
Dalil-dalil Dari Al-Qur`an Yang Berkenaan Dengan Isti’adzah Dari Setan.
Allah Ta’ala berfirman:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ. وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۚ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan maka berlindunglah kepada Allah subhanahu wata’ala .” (QS. Al-A’raf: 199-200)
Allah Ta’ala berfirman:
ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ ۚ نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَصِفُونَ. وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ. وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ
“Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. Dan katakanlah: “Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku.” (QS. Al-Mu`minun: 96-98)
Dan Allah Ta’ala berfirman:
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ. وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ. وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah subhanahu wata’ala . Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Fushshilat: 34-36)
Letak Ta’awudz Ketika Membaca Al-Qur`an.
Mayoritas ulama berpendapat bahwa ta’awudz dibaca sebelum membaca Al-Qur`an. Sebagian qurra` ada yang berpendapat dia dibawa setelah membaca Al-Qur`an, guna menghilangkan perasaan ujub. Dan sebagian lainnya berpendapat bahwa dia dibaca sebelum dan setelahnya.
Mereka semua berdalil dengan firman Allah Ta’ala:
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.”(QS. An-Nahl: 98)
Dan yang rajih adalah pendapat mayoritas ulama berdasarkan sebuah hadits riwayat Imam Ahmad dari Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhu tentang doa istiftah beliau dalam qiyamullail.
Lafazh-Lafazh Ta’awudz:
Berdasarkan ayat-ayat di atas dan juga hadits Abu Said Al-Khudri di atas. Para ulama menyebutkan ada 4 lafazh ta’awudhz:
6. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنِ الشَّيْطانِ الرَّجِيْمِ
7. أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنِ الشَّيْطانِ الرَّجِيْمِ
8. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنِ الشَّيْطانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ
9. أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنِ الشَّيْطانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ
Di Antara Keutamaan Ta’awudz.
Dia bisa menghilangkan amarah, sebagaimana yang tersebut dalam hadits Sulaiman bin Shurad riwayat Al-Bukhari dan Muslim.
Hukum Ta’awudz Sebelum Membaca Al-Qur`an:
Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Dan yang benarnya adalah bahwa hukumnya sunnah secara mutlak, baik di dalam shalat maupun di luar shalat.
Dengan dalil bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak pernah disuruh ta’awudz ketika beliau membaca ayat-ayat yang turun. Dan beliau shallallahu alaihi wasallam juga tidak pernah membaca ta’awudz ketika akan membaca ayat pada doa pembuka majelis.
Ta’awudz Dijahrkan Atau Disirrkan?
Imam Asy-Syafi’i rahimahullah menyatakan keduanya boleh di luar shalat. Adapun di dalam shalat, maka yang rajih adalah disirrkan karena Nabi shallallahu alaihi wasallam selalu memulai shalatnya dengan ‘alhamdulillahi Rabbil alamin’ pada surah Al-Fatihah, sebagaimana dalam hadits riwayat Al-Bukhari.
Ta’awudz di Setiap Rakaat?
Dalam masalah ini Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mempunyai dua pendapat. Yang lebih tepat insya Allah bahwa ta’awudz hanya disyariatkan pada rakaat pertama saja. Hal itu karena bacaan Al-Qur`an di dalam shalat adalah satu bagian, karenanya cukup membaca ta’awudz di rakaat pertama saja. Wallahu a’lam.
________________________________________
[1] Syarh Tsalatsah Al-Ushul hal. 63, karya Faqih Az-Zaman Ibnu Al-Utsaimin rahimahullah.
[2] Diterjemahkan secara ringkas dari Syarh Tsalatsah Al-Ushul hal. 63-65
[3] HR. Muslim no. 4881 dari Khaulah bintu Hakim radhiallahu anha.
Isti’adzah adalah bersandar kepada Allah l dan mendekat ke sisi-Nya, untuk berlindung dari kejelekan setiap makhluk yang memiliki kejelekan. ‘Iyadzah itu untuk mencegah kejelekan.
Setelah beristiftah, sebelum membaca Al-Qur’an dalam shalat, Rasulullah n membaca ta’awudz (memohon perlindungan) kepada Allah l terlebih dahulu dengan mengucapkan:
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ
“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terusir/dijauhkan (dari rahmat1) dari was-wasnya2, dari kesombongannya, dan dari sihirnya.”3 (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 1/92/1, Ath-Thabarani dalam Al-Kabir 1/78/2, dari Jubair ibnu Muth’im z, dishahihkan dalam Irwa’ul Ghalil hadits no. 342)
Terkadang dalam ta’awudz tersebut, Rasulullah n menambah dengan:
أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ
“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang terusir/dijauhkan dari rahmat, dari was-wasnya, dari kesombongannya, dan dari sihirnya.” (HR. Abu Dawud no. 775, dan lainnya, dari Abu Sa’id Al-Khudri z dengan sanad yang hasan sebagaimana dalam Irwa’ul Ghalil pembahasan hadits no. 342)
Al-Imam Ahmad t dalam Masa’il Ibni Hani’ (1/51) menyatakan, sepantasnya tambahan ini diucapkan sesekali.
Jumhur ulama berpendapat hukum ta’awudz ini sunnah, dalilnya adalah hadits Al-Musi’u Shalatuhu, yang di dalamnya tidak disebutkan ta’awudz. (Al-Majmu’ 3/283, Taudhihul Ahkam 2/170)
Ini merupakan pendapat Al-Hasan, Ibnu Sirin, Atha’, Ats-Tsauri, Al-Auza’i, Asy-Syafi’i, Ishaq, dan ashabur ra’yi. (Al-Mughni, Kitab Ash-Shalah, Fashl La Yajharul Imam bil Iftitah)
Pendapat inilah yang penulis pandang lebih kuat. Wallahu a’lamu bish-shawab.
Al-Imam Asy-Syaukani t menyebutkan, “Tidak ada dalam hadits-hadits ta’awudz selain menerangkan bahwa ta’awudz dilakukan pada rakaat yang pertama. Adapun Al-Hasan, Atha’, dan Ibrahim berpendapat ta’awudz ini mustahab diucapkan dalam setiap rakaat. Mereka berdalil dengan keumuman firman Allah l:
“Bila engkau membaca Al-Qur’an maka mintalah perlindungan kepada Allah.” (An-Nahl: 98)
Tidaklah diragukan bahwa ayat di atas menunjukkan disyariatkannya isti’adzah sebelum membaca Al-Qur’an. Ayat ini berlaku umum, apakah si pembaca Al-Qur’an tersebut berada di luar shalat atau sedang mengerjakan shalat. Namun, hadits-hadits yang melarang berbicara di dalam shalat menunjukkan larangan tersebut tidak dibedakan, baik berbicara dengan mengucapkan ta’awudz, maupun ucapan-ucapan lain yang tidak ada dalil yang mengkhususkannya dan tidak pula ada izin untuk mengucapkan yang sejenisnya. Karena itu, yang lebih berhati-hati adalah cukup dengan yang dituntunkan dalam As-Sunnah, yaitu melakukan isti’adzah sebelum membaca Al-Qur’an pada rakaat pertama saja.” (Nailul Authar, 2/39)
Abu Hurairah z berkata:
كَانَ رَسُولُ اللهِ n إِذَا نَهَضَ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ افْتَتَحَ الْقِرَاءَةِ بِالْحَمْدِ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَلَمْ يَسْكُتْ
“Adalah Rasulullah n bila bangkit ke rakaat kedua, beliau membuka bacaan (qiraah) dengan ‘Alhamdulillahi rabbil alamin’ dan beliau tidak diam.” (HR. Muslim no. 1355)
Hadits ini menunjukkan tidak disyariatkannya diam sebelum membaca (Al-Fatihah dan surat) pada rakaat yang kedua. Tidak pula disyariatkan berta’awudz dalam raakat kedua ini. Dan hukum rakaat-rakaat berikutnya (setelah rakaat kedua) sama dengan hukum rakaat yang kedua. Jadi, diam sebelum membaca (Al-Fatihah dan surat) itu hanya khusus pada rakaat yang pertama. Demikian pula berta’awudz dalam rakaat pertama. (Nailul Authar, 2/136)
Ibnul Qayyim t dalam Zadul Ma’ad (1/86) berkata, “Mencukupkan satu ta’awudz (hanya dalam rakaat pertama, ) adalah pendapat yang lebih nampak, berdasarkan hadits yang shahih dari Abu Hurairah z:
أَنَّ النَّبِيَّ n كَانَ إِذَا نَهَضَ مِنَ الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ، اسْتَفْتَحَ الْقِرَاءَةَ وَلَمْ يَسْكُتْ
“Nabi n bila bangkit menuju rakaat yang kedua, beliau membuka dengan bacaan dan tidak diam.”
Bahwa Rasulullah n mencukupkan satu istiftah, karena beliau tidak menyelingi dua qiraah (bacaan) dengan diam, tapi dengan dzikir. Dengan demikian, qiraah dalam shalat dianggap satu qiraah jika yang menyelinginya adalah pujian kepada Allah l, tasbih, tahlil, atau shalawat kepada Nabi dan yang semisalnya.
Ada pula yang berpendapat bahwa ta’awudz hukumnya wajib dan dibaca setiap rakaat dalam shalat, seperti pendapat Ibnu Hazm t dalam Al-Muhalla (2/278) dan ahlul ilmi4 yang lainnya, dengan dalil firman Allah l:
“Bila engkau membaca Al-Qur’an maka mintalah perlindungan kepada Allah.” (An-Nahl: 98)
Rahasiaisti’adzah
Isti’adzah memiliki berbagai kebaikan. Diantaranya, sebagai penyuci lisan dari berbagai ucapan sia-sia dan kotor, ketika mengucapkan/membaca kalamullah. Juga sebagai isti’anah (memohon pertolongan) kepada Allah l, dan pengakuan bahwa Allah lah yang memiliki kekuasaan, sedangkan hamba itu lemah dan tidak mampu mengatasi musuhnya (setan) yang nyata namun tidak nampak. Sesungguhnyalah, tak ada yang mampu menolak dan mencegah musuh ini kecuali Allah yang menciptakannya. Terlebih, setan ini tidak dapat menerima keramahtamahan dan tidak peduli dengan kebaikan, berbeda dengan musuh dari kalangan manusia. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh banyak ayat dalam Al-Qur’an.
Allah l berfirman:
“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, engkau tidak memiliki kekuasaan atas mereka sama sekali. Cukuplah Rabbmu sebagai pelindung.” (Al-Isra’: 65)
Para malaikat turun untuk memerangi musuh berupa manusia. Siapa saja yang terbunuh oleh musuh yang nampak, dia menjadi seorang syahid. Sementara, orang yang binasa oleh musuh yang tidak nampak, dia akan terusir. Siapa saja yang terkalahkan oleh musuh yang nampak, dia akan mendapatkan balasan pahala, sementara orang yang terkalahkan oleh musuh yang tidak nampak, dia akan tertimpa fitnah dan memikul dosa.
Tatkala setan melihat manusia dari tempat yang tidak terlihat oleh manusia, maka semestinya manusia memohon perlindungan darinya kepada Dzat yang melihatnya sedangkan setan tidak dapat melihat-Nya. (Al-Mishbahul Munir, hal.18)
1 Ada yang mengatakan: dirajam dengan panah-panah api, demikian dalam Al-Majmu’ (3/280).
2 Sebagian rawi menafsirkannya dengan: gila, yaitu hamz adalah satu macam kegilaan dan kesurupan yang dapat menimpa seseorang. Bila ia sadar, akalnya kembali lagi seperti semula sebagaimana orang tidur dan orang mabuk, demikian kata Ath-Thibi.
3 Adapula yang menafsirkannya dengan syair yang tercela.
4 Dalam masalah ini memang fuqaha berbeda pendapat setelah mereka sepakat tentang tidak disyariatkannya membaca doa istiftah selain dalam rakaat pertama. Perbedaan pendapat ini disebabkan perbedaan pandangan apakah seluruh qiraah dalam shalat merupakan satu qiraah sehingga dicukupkan sekali ta’awudz, ataukah qiraah setiap rakaat merupakan qiraah yang berdiri sendiri sehingga disyariatkan berta’awudz pada masing-masingnya?
Al-Imam Al-Albani t dalam kitabnya Shifat Shalatin Nabi n (menguatkan pendapat yang mengatakan pada setiap rakaat), “Tidak cukup satu isti’adzah tetapi dalam setiap rakaat harus beristi’adzah.” Kemudian beliau membawakan ucapan Asy-Syaikh Al-Allamah Muhammad Hamid Al-Faqi As-Salafi, “Yang zahir, qiraah dalam rakaat pertama dan qiraah dalam rakaat yang kedua merupakan dua qiraah, karena panjangnya jeda/pemisah antara keduanya dengan melakukan ruku’ dan sujud. Ini merupakan gerakan-gerakan yang banyak. Maka setiap rakaat ada ta’awudz. Sementara hadits Abu Hurairah z tidaklah menafikan hal ini. Karena yang ditiadakan dalam hadits Abu Hurairah z adalah diam yang diketahui, yaitu diam tertentu karena membaca doa istiftah. Adapun diam karena membaca ta’awudz dan basmalah merupakan diam yang sangat ringan/sebentar yang tidak dirasakan/disadari oleh makmum karena tersibukkannya makmum dengan gerakan bangkit ke rakaat berikutnya. Juga, setiap rakaat itu teranggap sebagai sebuah shalat karena itulah mereka diwajibkan membaca Al-Fatihah dalam setiap rakaat, maka yang lebih utama ta’awudz juga dianggap demikian. Inilah pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla. Inilah pendapat yang benar.”
Beliau t berkata, “Ibnu Hazm berargumen dengan keumuman firman Allah l:
“Bila engkau membaca Al-Qur’an maka mintalah perlindungan kepada Allah.” (An-Nahl: 98)
Ini merupakan argumen yang benar, tidak ada kekaburan di dalamnya. Al-Hafizh berkata di dalam At-Talkhish, “Keumuman ayat ini menetapkan isti’adzah diucapkan pada awal setiap rakaat. Pendapat inilah yang dimunculkan oleh Ar-Rafi’i dalam Asy-Syarhul Kabir. Beliau berkata, ‘Pendapat inilah yang diucapkan oleh Al-Qadhi Abu Ath-Thayyib Ath-Thabari, demikian pula Imamul Haramain, Ar-Ruyani, dan selain mereka’.”
Al-Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ berkata, “Ini merupakan pendapat madzhab (Syafi’iyyah).”
Di tempat lain beliau berkata, “Pendapat inilah yang paling shahih dalam madzhab kami.”
Pendapat ini juga dipegangi dalam madzhab Hanafiyyah.
Abul Hasanat Al-Laknawi dalam catatan kakinya terhadap kitab Syarhul Wiqayah (1/138) berkata, “Dalam kitab Halbah Al-Majalli karya Ibnu Amir Hajj disebutkan: Berdasarkan ucapan Abu Yusuf dan Muhammad, sepantasnya ta’awudz itu dilakukan dalam rakaat kedua juga, karena dalam rakaat kedua orang memulai qiraah. Dan qiraah dalam setiap rakaat merupakan qiraah yang baru.” (Ashlu Shifah Shalatin Nabi n, 3/826-827)
Isti’adzah dan Hukum-hukumnya
Allah Subhanahu wata’ala berifman yang artinya, “Jika kamu membaca Alquran, maka hendaklah kamu minta perlindungan kepada Allah subhanahu wata’ala a dari setan yang terkutuk. sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Rabbnya. Sesungguhnya kekuasaannya (setan) itu hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya menjadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah subhanahu wata’ala .” (An-Nahl: 98 — 100).
Yang masyhur menurut jumhurul ulama bahwa isti’adzah dilakukan sebelum membaca Alquran guna mengusir godaan setan. Menurut mereka, ayat yang berbunyi, (yang artinya)”Jika kamu hendak membaca Alquran, maka hendaklah kamu minta perlindungan kepada Allah subhanahu wata’ala dari setan yang terkutuk,” artinya jika kamu hendak membaca. Sebagaimana firman-Nya, (yang artinya) “Jika kamu hendak mendirikan shalat, maka basuhlah wajah dari kedua tanganmu.” (Al-Maidah: 6), artinya jika kalian bermaksud mendirikan shalat.
Penafsiran seperti itu didasarkan pada beberapa hadis dari Rasulullah shallalllahualaihi wassalam . Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri, katanya, jika Rasulullah shalllalahualaihi wassallam hendak mendirikan shalat malam, maka beliau membuka shalatnya dan bertakbir seraya mengucapkan,”Subhaanaka Allaahumma wabihamdika wa tabaa raka…………………” (Maha Suci Engkau, ya Allah, dan puji bagi-Mu. Maha Agung nama-Mu dan Maha Tinggi kemuliaan-Mu. Tidak ada ilah yang haq melainkan Engkau). Kemudian beliau mengucapkan, “Laa ilaha illallaah” (tidak ada ilah yang haq kecuali Allah) sebanyak tiga kali. Setelah itu beliau mengucapkan, “Aku berlindung kepada Allah subhanahu wata’ala yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang terkutuk, dari godaan, tipuan, dan hembusannya.”
Hadis ini diriwayatkan juga oleh empat penyusun kitab as-Sunan dari riwayat Ja’far bin Sulaiman, dari Ali bin Ali ar-Rifa’i, at-Tirmizi mengatakan baha hadis ini merupakan yang paling masyhur dalam masalah ini. Dan, kata al-hamz ditafsirkan sebagai cekikan (sampai mati), an-nafkh sebagai kesombongan, dan an-nafts sebagai syair.
Al-Bukhari meriwayatkan dari Sulaiman bin Shurad ra katanya, “Ada dua orang yang saling mencela di hadapan Rasulullah shallalllahualaihi wassalam , sedang kami duduk di hadapan beliau. Salah seorang dari keduanya mencela lainnya dalam keadaan marah dengan wajah yang merah padam. Maka Rasulullah shallalllahualaihi wassalam bersabda, ‘Sesungguhnya aku akan mengajarkan suatu kalimat yang jika ia mengucapkannya, niscaya akan hilang semua yang dirasakannya itu. Jika ia mengucapkan,’A’uudzubillaahiminasysyaithoonirrajiimi’.”
Kemudian para sahabat berkata kepada orang itu, “Tidakkah engkau mendengar apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallalllahualaihi wasssalam ?” Orang itu menyahut, “Sesungguhnya aku bukanlah orang yang tewas.”
Hadis di atas juga diriwayatkan bersama Imam Muslim, Abu Dawud, dan an-Nasa’i, melalui beberapa jalan dari al-A’masy.
Catatan:
Jumhurul ulama berpendapat bahwa isti’adzah itu sunnah hukumnya dan bukan suatu kewajiban, sehingga berdoa bagi orang yang meninggalkannya. Diriwayatkan dari Imam Malik, bahwasannya ia tidak membaca ta’awudz dalam mengerjakan salat wajib.
Dalam kitab al-Imla’, Imam asy-Syafi’i mengatakan, “Dianjurkan membaca ta’awudz dengan jahr, tetapi jika dibaca dengan sirri juga tidak apa-apa.” Sedangkan dalam kitab al-Umm, beliau mengatakan, diberikan pilihan, boleh membaca ta’awudz, boleh juga tidak. Dan jika orang yang memohon perlindungan itu membaca a’uudzubillaahiminasysyaithoonirrajiimi, maka cukuplah baginya.
Menurut Abu Hanifah dan Muhammad, ta’awudz itu dibaca di dalam shalat untuk membaca Alquran. Sedangkan Abu Yususf berpendapat, bahwa ta’awudz itu justru dibaca untuk shalat.
Berdasarkan hal ini, seorang makmum hendaklah membaca ta’awudz dalam shalat Ied setelah takbiratul Ihram dan sebelum membaca takbir-takbir Ied. Dan menurut jumhurul ulama, ta’awudz itu dibaca setelah takbir sebelum membaca Al-Fatihah atau surat Alquran.
Di antara manfaat ta’awudz adalah untuk menyucikan dan mengharumkan mulut dari kata-kata yang tidak mengandung faedah dan buruk. Ta’awudz ini digunakan untuk membaca firman-firman Allah ta’ala . Artinya, memohon pertolongan kepada Allah subhanahu wata’ala sekaligus memberikan pengakuan atas kekuasaan-Nya, kelemahan sebagai hamba, dan ketidakberdayaannya dalam melawan musuh yang sesungguhnya (setan), yang bersifat batiniyah, yang tidak ada orang yang mampu menolak dan mengusirnya kecuali Allah subhanahu wata’ala yang telah menciptakannya.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Rabbmu sebagai penjaga.” (Al-Isra':65).
Dan, para malaikat telah turun untuk memerangi musuh dari kalangan manusia. Barangsiapa yang dibunuh oleh musuh yang bersifat lahiriyah yang berasal dari kalangan manusia, maka ia meninggal sebagai syahid. Barangsiapa dibunuh oleh musuh yang bersifat batiniah, maka sebagai tharid. Dan barangsiapa yang dikalahkan oleh musuh manusia biasa, maka ia akan mendapatkan pahala, dan barangsiapa dikalahkan oleh musuh batini (setan), maka ia tertipu atau menanggung dosa. Karena, setan dapat melihat manusia, sedangkan manusia tidak dapat melihatnya, maka ia memohon perlindungan kepada Rabb yang melihat setan, sedang setan itu tidak melihat-Nya.
Pengertian Isti’adzah (Ta’awwudz)
Al-istiti’adzah berarti permohonan kepada Allah Subhanahu wata’ala dari setiap yang jahat.
Al-‘iyadzah (permohonan pertolongan) dalam usaha menolak kejahatan, sedangkan
al-layadzu (permohonan pertolongan) dalam upaya memperoleh kebaikan.
A’udzubillahiminasysyaithonirrajim berarti, aku memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk agar ia tidak membahayakan diriku dalam urusan agama dan duniaku, atau menghalangiku untuk mengerjakan apa yang Dia perintahkan. Atau agar ia tidak menyuruhku mengerjakan apa yang Dia larang, karena setan itu tidak ada yang bisa mencegahnya untuk menggoda kecuali Allah subhanahu wata’ala .
Oleh karena itu, Allah Subhanahu wata’ala menyuruh manusia agar menarik dan membujuk hati setan jenis manusia dengan cara menyodorkan suatu yang baik kepadanya supaya dengan demikian dia berubah tabiatnya dari kebiasannya mengganggu orang lain. Selain itu, Allah subhanahu wata’ala ajuga memerintahkan untuk memohon perlindungan kepada-Nya dari setan jenis jin, karena dia tidak menerima pemberian dan tidak dapat dipengaruhi dengan kebaikan, sebab tabiatnya jahat dan tidak ada yang dapat mencegahnya dari dirimu kecuali Rabb yang menciptakannya.
Inilah makna yang terkandung dalam tiga ayat Alquran. Pertama, firman-Nya dalam surat Al-A’raf ayat 199 yang artinya, “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebaikan dan berpaling dari orang-orang yang bodoh.”
Makna di atas berkenaan dengan muamalah terhadap musuh dari kalangan manusia.
Kemudian, Allah Subhanahu wata’ala berfirman yang artinya,
“Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan, maka berlindunglah kepada Allah subhanahu wata’ala . Sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-A’raf: 200).
Berlindung kepada Allah subhanahu wata’ala maksudnya adalah membaca a’udzubillahiminasysyaithonirrajim.
Dalam surat Al-Mukminun Allah Subhanahu wata’ala a berfirman yang artinya, “Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. Dan katakanlah:
‘Ya Rabb-ku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Rabb-ku, dari kedatangan mereka kepadaku.” (Al-Mukminun: 96 — 98).
Dan dalam surat Fushshilat ayat 34 — 36 Allah Subhnahu wata’ala berfirman yang artinya, “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah subhanahu wata’ala . Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Dalam bahasa Arab, kata syaitan (setan) berasal dari kata syathan, berarti jauh. Jadi, syaitan itu tabiatnya jauh dari tabiat manusia, dan dengan kefasikannya dia sangat jauh dari segala macam kebaikan.
Ada juga yang mengatakan bahwa kata syaitan itu berasal dari kata syata (terbakar), karena ia diciptakan dari api. Dan ada juga yang mengatakan bahwa kedua makna tersebut benar, tetapi makna pertama yang lebih benar.
Menurut Sibawaih, bangsa Arab bisa mengatakan tasyaithana fulan, jika fulan itu berbuat seperti perbuatan setan. Jika katasyaitan itu berasal dari kata syatha, tentu mereka mengatakan tasyaith yang berarti jauh. Oleh karena itu, mereka menyebut syaithan untuk setiap pendurhaka, baik jin, manusia, maupun hewan. Berkenaan dengan hal itu Allah subhanahu wata’ala berfirman yang artinya,
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkan mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (Al-An’am: 112).
Dalam buku Musnad Imam Ahmad, disebutkan hadis dari Abu Dzar ra, Rasulullah shallallalhualaihi wassalam bersabda yang artinya,
“Wahai Abu Dzar, mohonlah engkau kepada Allah subhanahu wata’ala ah perlindungan dari setan-setan dari jenis manusia dan jin.” Lalu kutanyakan, “Apakah ada setan dari jenis manusia?” “Ya,” jawab beliau.
Dalam sahih Muslim diriwayatkan dari Abu Dzar, katanya, Rasulullah shallallahualaihi wassalam bersabda, “Yang memotong shalat itu adalah wanita, keledai, dan anjing hitam.” Kemudian kutanyakan, “Ya Rasulullah, mengapa anjing hitam dan bukan anjing merah atau kuning?” Beliau menjawab, “Anjing hitam itu adalah setan.”
Ar-rojim adalah berwazan fa’il (subjek), tetapi bermakna maf’ul (objek) berarti bahwa setan itu terkutuk dan terusir dari semua kebaikan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.” (Al-Mulk: 5).
b.basmallah (“atas nama Allâh”)
Doktrin Islam mengajarkan bahwa setiap kita memulai pekerjaan harus disertai dengan membaca basmalah, yang lafadnya “Bismillâhirrahmânirrahîm”. Ajaran ini dalam praktik sudah menjadi tradisi yang selalu dilakukan, baik secara individu maupun kelompok pada saat-saat dimulai kegiatan atau acara-acara tertentu. Dasar naqliyah ajaran ini adalah hadits Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam sebagai berikut,
كُلُّ أَمْرٍ ذِيْ بَالٍ لاَ يُبْدَأُ فِيهِ بـِ (بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ) فَهُوَ أَقْطَعُ
“Setiap perkara penting yang tidak didahului dengan bismillâhirrahmânirrahîm, maka perkara itu terputus.“ (HR Abdul Qadir al-Rahawi dari Abu Hurairah).[1]
Jika kita perhatikan pula bahwa pada setiap permulaan surat dalam al-Qur’an juga dimulai dengan kalimat basmalah, kecuali surat al-Taubah, sehingga terdapat sebanyak 113 kali disebut pada permulaan surat dan 1 kali dalam surat al-Naml ayat 30 sehingga keseluruhan disebut 114 kali. Surat al-Naml [27]: 30 tersebut berbunyi,
إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
“30. Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan Sesungguhnya (isi)nya, “Dengan menyebut nama Allâh yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (QS al-Naml [27]: 30)
Ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang kedudukan bacaan basmalah dalam surat al-Fatihah (surat pertama al-Qur’an). Menurut Imam Syafi’i dan juga ulama di kalangan sekitar Mekah dan Kuffah, basmalah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari surat al-Fatihah yang jumlah ayatnya ada 7 (tujuh). Oleh karena itu harus dibaca jahar (keras) pada waktu kita membaca surat tersebut dalam shalat.
Kalangan ulama yang lain seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan ulama sekitar Madinah, Basyrah, dan Syam berpendapat bahwa bacaan basmalah bukan merupakan bagian dari surat al-Fatihah dan kedudukannya seperti pada permulaan surat-surat lain dalam al-Qur’an. Oleh karena itu tidak harus dibaca jahar (keras) dalam shalat, bahkan Imam Malik sendiri tidak membaca basmalah sama sekali. Kalangan ulama ini berpendapat bahwa surat al-Fatihah memang terdiri dari 7 (tujuh) ayat akan tetapi tanpa basmalah. Ayat “ghairil maghdhubi ‘alaihim wallâddhollin” merupakan ayat tersendiri dari surat tersebut, sehingga jumlahnya juga 7 ayat. [2]
Spirit Basmalah
Menurut sebagian mufasir, ajaran basmalah untuk memulai setiap aktivitas sengaja diajarkan oleh Allâh subhanahu wata’ala agar kita sadar sesadar-sadarnya akan hakikat, tugas, kedudukan, fungsi dan tanggung jawab kita sebagai hamba Allâh subhanahu wata’ala di dunia dan di akhirat kelak. Oleh sebab itu bacaan basmalah mengandung makna yang sangat luas dan mendalam meliputi dimensi ketuhanan, kemanusiaan, dunia dan akhirat.
Kalimat bismillah jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia sering diartikan “atas nama Allâh” (tetapi biasa juga diterjemahkan “dengan nama Allâh”, sebenarnya kurang tepat) dan dalam Bahasa Inggris diterjemahkan by the name of Allâh. Ini mengandung arti bahwa setiap perbuatan atau pekerjaan yang kita lakukan pada hakikatnya adalah mewakili Allâh (atas nama Allâh). Ini juga mengandung makna bahwa nilai kegiatan manusia itu adalah sebagai wakil atau khalifah Allâh di muka bumi ini. Sebagaimana Allâh subhanahu wata’ala sendiri yang memang mendudukkan manusia menjadi wakil Allâh atau khalifah di dunia ini. Manusia dirancang oleh Allâh subhanahu wata’ala dijadikan khalifah atau wakilnya di dunia ini. Salah satu makna dari khalifah adalah pengganti di belakang (successor). Jadi manusia dicipta oleh Allâh subhanahu wata’ala untuk menjadi pengganti Allâh di dunia ini. Ini ditegaskan antara lain dalam surat al-Baqarah [2]: 30 dan surat al-An’âm [6]: 165.
وَإِذْقَال َرَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِإِنِّي جَاعِلٌ فِى الْأَرْضِ خَلِيْفَةً قَالُوْا أَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَالَا تَعْلَمُوْنَ
“30. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS al-Baqarah [2]: 30)
وَهُوَ الَّذِى جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ اْلأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَبْلُوَكُمْ فِى مَا ءَاتَاكُمْ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيْعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمُ
“165. Dan Dia-lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu Amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS al-An’âm [6]: 165)
Dari ayat tersebut dapat diambil makna bahwa manusia dalam melakukan sesuatu di dunia ini pada hakikatnya sebagai pengganti Allâh, karena memang dunia seisinya ini telah diserahkan atau diamanahkan Allâh subhanahu wta’ala kepada manusia untuk dikelola. Perhatikan surat al-Baqarah ayat 29.
هُوَ الَّذِى خَلَقَ لَكُمْ مَا فِى الْأَرْضِ جَمِيْعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيْمٌ
“29. Dia-lah Allâh, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.(QS al-Baqarah [2]: 29)
Untuk mengelola dunia ini, Allâh subhanahu wata’ala a tidak memberikan petunjuk-petunjuk secara terinci, tetapi hanya dalam garis besarnya saja. Demikian pula tentang penjelasan dunia ini tidak dijelaskan secara rinci oleh Allâh subhanahu wata’ala . Akan tetapi Allâh subhanahu wata’ala memberikan suatu alat yang memungkinkan manusia untuk memahami dan mencari pemecahan atas berbagai permasalahan dunia ini yaitu berupa akal pikiran atau inteligensi. Dalam drama kosmis al-Qur’an (surat al-Baqarah), para malaikat dahulu mengajukan keberatan atas penunjukan manusia (Adam) sebagai “wakil” Allâh di bumi. Alasannya bahwa malaikat mengetahui lebih dahulu bahwa manusia nanti bakal merusak di bumi, dan bunuh-membunuh, sedangkan para malaikat itu kiranya lebih berhak menjadi khalifah karena mereka selalu berbakti kepada Allâh subhanahu wata’ala dan berbuat baik. Tetapi Allâh subhanahu wata’ala mengatakan bahwa Dia mengetahui kelebihan manusia yang tidak dipunyai para malaikat. Kelebihan itu adalah kecerdasannya atau rasionya sehingga manusia sanggup menerima pengajaran atau pengertian dan mengenali dunia sekelilingnya. Akhirnya malaikat mengetahui akan kelebihan manusia (Adam) dan mereka pun tunduk kepadanya (Adam) kecuali iblis.
Menurut sebagian mufasir ada yang berpendapat bahwa kedudukan khalifah tersebut dahulu pernah ditawarkan kepada langit, bumi dan gunung tetapi mereka semua merasa keberatan dan manusia itu yang sanggup memikulnya. Perhatikan surat al-Ahzâb [33]: 72.
إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّماَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا اْلِإنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًا
“72. Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zhalim dan amat bodoh. (QS al-Ahzâb [33]: 72)
Karena Kasih Allâh subhanahu wata’ala itu maka sebagai khalifah manusia dibekali oleh Allâh subhanahu wata’ala akal/pikiran/rasio/daya intelektualitas yang khusus diberikan oleh Allâh subhanahu wata’ala kepada manusia dan tidak diberikan kepada makhluk lain. Fungsi akal ini adalah menopang, mengetahui, menjelaskan dan memahami hal-hal yang terkait dengan kehidupan dunia ini. Di sisi lain manusia juga dibekali oleh Allâh subhanahu wata’ala wahyu yang berguna untuk menopang, mengetahui, memahami dan menjelaskan hal-hal yang berhubungan dengan rohani, ketuhanan, akhirat dan masalah-masalah keagamaan. Oleh karena itu agar manusia itu sukses sebagai khalifah untuk mengelola dunia ini harus berpegang pada akal dan juga pada wahyu tersebut.
Maka selanjutnya, setelah kalimat bismillah tersebut kemudian dilanjutkan dengan kalimat al-Rahmân danal-Rahîm. Sebenarnya kedua kalimat tersebut berasal dari satu akar kata yaitu al-Rahmah yang berarti Maha Kasih atau Maha Pemurah. Mengapa kalimat tersebut disebutkan 2 kali? Berikut ini uraian penjelasannya.
Makna al-Rahmân dan al-Rahîm
Menurut sebagian mufasir kalimat al-Rahmân merupakan sifat kasih Allâh subhanahu wata’ala yang diberlakukan di dunia berdasarkan hukum-hukum atau ukuran-ukuran keduniawian (Dalam tradisi pesantren di Jawa kalimat al-Rahmân ini diterjemahkan dalam bahasa Jawa “Dzat kang kagungan rahmat kang gedhe-gedhe ing dalem donyo tanpo pilih kasih”). Artinya sifat kasih Allâh subhanahu wata’ala ini berlaku umum dan obyektif serta tidak pandang bulu. Semua makhluk Allâh subhanahu wata’ala dapat mengaksesnya dengan syarat berbuat sesuai dengan hukum-hukum yang obyektif tersebut. Kasih Allâh subhanahu wata’ala tidak didasarkan pada hambanya yang beriman atau tidak beriman, Islam maupun kafir. Setiap hamba Allâh subhanahu wata’ala yang berbuat mengikuti hukum-hukum obyektif tersebut maka besar kemungkinan akan mendapatkan keberhasilan, sedangkan yang tidak mengikuti hukum-hukum obyektif tersebut besar kemungkinan akan mengalami kegagalan.
Oleh karena itu dengan memahami kalimat al-Rahmân ini memberikan tuntunan kepada kita bahwa kita harus mempunyai pendekatan yang tepat dalam memahami, menjelaskan dan bersikap terhadap masalah-masalah keduniawian. Nabi telah memberikan contoh pendekatan yang tepat dengan mengatakan,
… أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ. رواه مسلم عن أنس
“Kamu semua lebih tahu tentang urusan duniamu” (HR. Muslim diriwayatkan dari Anas)
Demikian pula
Nabi Muhammad shallalllahualaihi wassalam mewajibkan umat Islam untuk mencari ilmu tanpa khawatir dengan dan dibatasi oleh sekat-sekat keagamaan dengan mengatakan, “Uthlubul ‘ilma walau bi al-shin”, artinya carilah ilmu walau sampai ke negeri china.
Jadi berdasarkan ajaran al-Rahmân tersebut kita dituntut untuk memahami dunia dengan segala urusannya tersebut berdasarkan sarana yang disebut ilmu (Pengetahuan). Dengan sarana ilmu itu dunia dan segala problematikanya dapat dipahami dan dijelaskan secara lebih tepat dan akurat. Meskipun dalam sejarah selalu saja terbuka kemungkinan terdapat kesalahan-kesalahan atas kebenaran ilmu pengetahuan tersebut, akan tetapi kesalahan dalam ilmu pengetahuan selalu dikoreksi oleh ilmu pengetahuan yang datang kemudian. Jadi keberhasilan seseorang dalam menghadapi dan memecahkan persoalan-persoalan duniawi, tidaklah bergantung pada ketekunannya melakukan upacara-upacara keagamaan atau ibadat, akan tetapi ditentukan oleh kecerdasannya, keluasan ilmunya, dan keobyektifannya.[3]
Ilmu pengetahuan dalam perspektif pemahaman ajaran Islam (al-Qur’an) merupakan upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami hukum-hukum Allâh yang tetap dan pasti baik yang menguasai alam semesta ini maupun yang menguasai sejarah kehidupan manusia. Oleh karena itu ilmu pengetahuan mempunyai nilai kebenaran manakala ia secara tepat dapat mewakili hukum-hukum ketetapan dan kepastian Allâh subhanahu wata’ala (sunnah dan taqdir-Nya). Ilmu pengetahuan yang benar dengan sendirinya akan bermanfaat untuk manusia. Upaya manusia dalam memahami hukum-hukum Allâh subhanahu wata’ala yang tetap dan pasti yang menguasai alam semesta (sunnah-Nya) dalam perkembangannya telah melahirkan ilmu-ilmu kealaman dengan segala percabangannya, sedangkan upaya manusia memahami hukum-hukum Allâh subhanahu wata’ala yang tetap dan pasti yang menguasai sejarah kehidupan manusia (taqdir-Nya) dalam perkembangnnya telah melahirkan ilmu-ilmu sosial dan humaniora dengan segala percabangannya.[4]
Jadi sikap yang tepat dalam menghadapi permasalahan dunia ini adalah sejauh mana sikap kita itu bersesuaian dengan ilmu pengetahuan. Jika sikap kita bersesuaian dengan ilmu pengetahuan maka sikap kita pada hakikatnya bersesuaian dengan hukum-hukum Allâh (sunnah dan taqdir-Nya). Jika sikap kita sudah sesuai dengan sunnah dan taqdir-Nya maka berarti sikap kita sudah sesuai dengan kehendak Allâh subhanahu wata’ala .
Di sisi lain, al-Rahîm adalah hukum-hukum Allâh subhanahuwata’ala yang berlaku kelak di alam akherat (norma-norma ukhrawi). Dalam tradisi pesantren di Jawa kalimat al-Rahîm ini diterjemahkan dengan “Dzat kang kagungan rohmat kang lembut-lembut ing dalem alam akhirat diparingke khusus kagem tiyang mukmin bloko”. Artinya sifat al-Rahîm ini berlaku secara khusus kepada hamba-Nya yang menyiapkan kehidupan akhiratnya secara benar yaitu yang mengikuti ajaran agama Allâh subhanahu wata’ala dan ukurannya ditentukan oleh iman dan amal seseorang secara individual bukan pada ilmu pengetahuan seperti berlaku di dunia. Yang berlaku pada hukum akhirat atau hari agama (yaumuddin) kelak adalah firman Allâh subhanahu wata’ala pada surat al-Infithâr [82]: 17-19 dan al-Baqarah [2]: 48.
وَمَآ أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّيْنِ {١٧} ثُمَّ مَآ أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّيْنِ {١٨} يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ {١٩}
“17. Tahukah kamu apakah hari agama itu?, 18. Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari agama itu?, 19. (yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allâh.” (QS al-Infithâr [82]: 17-19)
وَاتَّقُوْا يَوْمًا لاَ تَجْزِى نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا وَلَا يُقْبَلُ مِنْهَا شَفَاعَةٌ وَلَا يُؤْخَذُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلَا هُمْ يُنْصَرُوْنَ
“48. Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun dan (begitu pula) tidak diterima syafa’at dan tebusan dari padanya, dan tidaklah mereka akan ditolong.” (QS al-Baqarah [2]: 48)
Dari ayat-ayat tersebut dapat dipahami bahwa Hari Agama (akhirat) adalah masa dimana hukum-hukum yang mengatur hubungan antar manusia (kemasyarakatan) tidak berlaku lagi seperti di dunia ini, sedangkan yang berlaku adalah hubungan antara manusia dengan Allâh subhanahu wata’ala , yang terjadi sepenuhnya secara individual. Pada waktu itu tidak berlaku lagi hukum-hukum keduniawian. Sebaliknya pada Hari Dunia (Ula) yang sekarang ini kita jalani, belum berlaku hukum-hukum akhirat. Memang hukum-hukum dunia ini hakikatnya bukan hukum-hukum hasil ciptaan manusia sendiri, melainkan juga ciptaan Allâh subhanahu wata’ala (Sunnatullâh), tetapi memang tidak diterangkan sebagai doktrin-doktrin agama. Manusia sendirilah yang harus berusaha memahaminya dengan bekal kecerdasan yang dianugerahkan kepadanya, dan kemudian memanfaatkan pengetahuannya (baca: ilmu) itu untuk mengatur kehidupan masyarakat lebih lanjut.[5]
Oleh karena itu manusia seharusnya memperhatikan kedua segi kehidupan itu, yaitu menjalankan ajaran keagamaan sebaik-baiknya, guna menyiapkan hidupnya di akhirat (yaumuddin) dan bersungguh-sungguh dalam menjalani kehidupan dunia ini (ula), khusunya dalam kehidupan bermasyarakat, atau bergaul dengan sesama manusia. Yang pertama sering disebut
hablum minAllâh (tali hubungan dengan Allâh), dan kedua disebut hablum minannas (tali hubungan dengan sesama manusia).
Dengan mempercayai wahyu maka kita mengetahui adanya hubungan dengan Allâh subhanahu wata’ala . Iman atau percaya kita dapatkan karena adanya hidayah atau petunjuk Allâh subhanahu wata’ala bukan kegiatan intelektualitas semata, maka hendaknya kita berpegang tali dari Allâh ini. Artinya dalam hal kehidupan keagamaan kita hendaknya hanya berpedoman pada wahyu Allâh, berupa kitab suci al-Qur’an, dan tidak bercerai-berai.[6]
AYAT SEMUT AT – TAUBAH
1.Larangan Membaca Basmalah pada Awal Surat At Taubah
Surat At Taubah adalah surat yang menempati urutan ke 9 dari deretan surat dalam Al Qur’an. Surat ini memiliki nama lain yaitu
surat Baraah yang berarti berlepas diri yang di sini
maksudnya pernyataan pemutusan perhubungan, disebabkan kebanyakan pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.
Surat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad shalllahulahiwassalamkembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H. Pengumuman ini disampaikan oleh Saidina ‘Ali r.a. pada musim haji tahun itu juga.
Terdapat satu keistimewaan yang membedakan surat ini dengan surat yang lainnya. Permulaan surat ini tidak terdapat bacaan basmalah, karena surat ini adalah pernyataan perang dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernafaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.
Para Ulama masih berselisih mengenai hal ihwal larangan tersebut. Syeikh al-Ramli mengatakan makruh membaca Basmalah di awal surah al-Taubah dan sunat di pertengahannya. Imam Ibnu Hajar, Syeikh al-Khatib dan Imam al-Syatibi mengatakan haram membaca Basmalah di permulaan surah al-Taubah dan makruh di pertengahan.
Untuk menggantikan bacaan basmalah pada awal surat ini, biasanya beberapa mushof menyertakan bacaan ta’awudz yang khusus untuk mengawali surat ini.
Bacaan Ta’awudz tersebut adalah sebagai berikut :
A’uudzubillaahi minannaari wa minsyarril kuffaar wa min ghodlobil jabbaar. Al ‘izzatulillahi wa lirosuulihii wa lilmu’miniin
Referensi :Muqoddimah Surat At Taubah, http://salam.jomtube.com/?page_id=11
2.Mengapa Surah At Taubah Tidak Diawali Dengan Basmalah?
Mengapa Surah At Taubah Tidak Diawali Dengan Basmalah?
Surat At-Taubah, atau sering disebut juga dengan nama surat Baro’ah. Disebut dengan Baro’ah yang bermakna pemutusan hubungan, karena isinya merupakan bentuk pemutusan hubungan (perjanjian damai) dengan musuh-musuh Islam saat itu.
Surat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H. Pengumuman ini disampaikan oleh Saidina Ali radiyallahu ‘anhu pada musim haji tahun itu juga.
Pada penulisan surat At-Taubah dalam mushaf Al-Qur’an, lafadz basmalah
tidak dicantumkan dipermulaan surat tersebut. Hal tersebut berbeda dengan surat-surat yang lainnya yang mencantumkan basmalah di permulaan ayat. Ada beberapa penjelasan dari para ulama mengapa basmalah tersebut tidak dicantumkan di permulaan surat At-Taubah.
1. Pendapat Pertama
Al-Mubarrid berpendapat bahwa merupakan kebiasaan orang Arab apabila mengadakan suatu perjanjian dengan suatu kaum kemudian bermaksud membatalkan perjanjian tersebut, maka mereka menulis surat dengan tidak mencantumkan basmalah di dalamnya. Maka ketika turun surat baro’ah (At-taubah) yang memutuskan perjanjian antara Nabi Shallahulahiwassalam dengan orang-orang musyrik, beliau mengutus Ali bin Abi Thalib ra. kemudian membacakan surat tersebut tanpa mengucapkan Basmalah di permulaannya. Hal ini sebagaimana kebiasaan yang berlaku di bangsa Arab.
2. Pendapat Kedua
Riwayat Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Mardawaih dari Ibnu Abbas ra. bahwa ia pernah bertanya kepada Ali bin Abi Thalib tentang sebab basmalah tidak ditulis di permulaan surat Baro’ah. Ali bin Abi Thalib ra. menjawab, “Basmalah adalah aman (mengandung rasa aman) sedangkan Baro’ah turun dengan pedang (berkaitan dengan peperangan).”
3. Pendapat Ketiga
Riwayat Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, Abu Daud, at-Tirmidzi dan an-Nasa’i dari Ibnu Abbas ra, bahwa beliau ra. pernah bertanya kepada Utsman bin al-Affan ra, “Apa yang menjadi alasan Anda mencantumkan surat At-Taubah setelah surat Al-Anfal, tanpa mencantumkan basmalah di antara keduanya?” Beliau menjawab bahwa Rasulullah Shalllahulahiwassalam apabila turun suatu ayat, maka beliau akan memanggil para penulis wahyu dan berkata, “Cantumkan ayat-ayat ini di surat yang disebutkan di dalamnya anu dan anu. Surat Al-Anfal merupakan surat-surat yang pertama diturunkan di Madinah, sedangkan Baro’ah merupakan surat yang terakhir turun. Dan ternyata kisah yang terkandung di dalam kedua surat tersebut saling menyerupai, sehingga aku mengira bahwa surat Bara’ah termasuk surat Al-Anfal.
Kemudian Rasulullah Shalllahulahiwassalam wafat sebelum sempat menjelaskan hal tersebut. Oleh karena itu aku menggandengkan kedua surat tersebut dan tidak mencantumkan basmalah di antara keduanya dan menempatkannya dalam As-Sab’u Ath-Thiwal. (Tafsir Fathul-Qadir karya Imam Ali As-Syaukani II/415-416).
Pendapat lain mengatakan:
Ketika Al quran sudah hampir selesai dibukukan (dimushafkan) terjadi perselisihan antara semua para Shahabat apakah Al Anfal (sebelum At taubah) dan At taubah itu tergabung dalam satu surah atau terpisah. Kalau benar satu surah, maka bacaan basmalah yang sebagai Fashil (pemisah) antara surah-surah Al Qur’an cuma dibaca di awal surah Al Anfal. Kalau benar dua surah yang terpisah, maka pada awal surah Al Anfal dibaca ada Basmalah dan juga pada awal surah At Taubah juga dibaca Basmalah.
Kedua pendapat ini sama-sama kuat, maka setelah semua Shahabat bermusyawarah, maka diambil keputusan bahwa Al Anfal dan AtTaubah adalah 2 surah yang terpisah, tetapi pada awal surah At Taubah tidak dibaca Basmalah.
Para Ulama masih berselisih mengenai hal ihwal larangan tersebut. Syeikh Al-Ramli mengatakan makruh membaca Basmalah di awal surah al-Taubah dan sunat di pertengahannya. Imam Ibnu Hajar, Syeikh al-Khatib dan Imam al-Syatibi mengatakan haram membaca Basmalah di permulaan surah aT-Taubah dan makruh di pertengahan.
Itulah beberapa pendapat mengenai alasan tidak dicantumkannya basmalah di permulaan surat At-Taubah. Oleh karena itu jika kita membaca surat tersebut dari permulaannya, maka kita hanya disunahkan mengucapkan ta’awudz saja tanpa basmalah. Demikian halnya jika kita membaca dari pertengahannya. Kita juga cukup membaca ta’awudz saja.
Apabila kamu membaca al-Qur’an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.(QS An-Nahl: 98)
Untuk menggantikan bacaan basmalah pada awal surat ini, biasanya beberapa mushof menyertakan bacaan ta’awudz yang khusus untuk mengawali surat ini. Bacaan Ta’awudz tersebut adalah sebagai berikut :
A’uudzubillaahi minannaari wa minsyarril kuffaar wa min ghodlobil jabbaar. Al ‘izzatulillahi wa lirosuulihii wa lilmu’miniin
Wallahu a’lam bish-shawab,
Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Sumber dan referensi:
http://4hmadyusuf.multiply.com/reviews/item/11
http://www.acehforum.or.id/showthread.php?8828-Kenapa-Surat-At-Taubah-ga-baca-basmalah-baca-ini-yah
http://lilmessenger.wordpress.com/2008/03/24/larangan-membaca-basmalah-pada-awal-surat-at-taubah/
05.Konsep Tenaga Dalam Proteksi secara Ilmiah kimiawi alama semesta
Pada percobaan saat kita masih dibangku SD pada pelajaran IPA (ilmu Pengetahuan Alam), dibuktikan adanya magnet dan listrik pada tubuh dengan menggunakan penggaris plastik yang digosok-gosokkan pada rambut kemudian didekatkan kepada sobekan kertas kecil, maka sobekan tersebut akan menempel kepada penggaris. Itulah energi yang pada dasarnya sudah ada sejak kita lahir dan akan menjadi lebih bermanfaat jika kita latih dengan latihan pernafasan. Mengapa tubuh kita bisa mengandung listrik?
Energi-energi yang ada dalam tubuh, kita dapat dari alam semesta dengan berbagai macam cara yang kita sendiri tidak menyadarinya dan sudah menjadi kebiasaan kita sehari-hari, misalnya bernafas, makan, minum, dsb. Dengan proses aktifitas harian tersebut, maka masuklah unsur-unsur kimia ke dalam tubuh kita yang terdiri dari empat unsur yang berbeda, yaitu unsur air, udara, bumi dan api yang semuanya terbuat dari atom, kecuali api. Di alam ini ada seratus sepuluh jenis atom yang berbeda secara kimiawi bahkan lebih. Mereka dinamakan elemen kimiawi yang menyusun segala sesuatu di planet kita. Unsur-unsur tersebut ditemukan terkombinasi ke dalam molekul-molekul.
1. Air, adalah suatu molekul yang terbuat dari atom hydrogen dan oksigen;
2. Udara, kebanyakan terbuat dari atom nitrogen (N), oksigen (O), karbon (K), hydrogen (H) dan argon (Ar), dalam bentuk-bentuk molekuler N2, O2, CO2, H2O dan Ar;
3. Bumi, sendiri merupakan campuran yang kaya akan atom-atom, terutama silikon, oksigen, aluminium, magnesium dan besi;
4. Api, sama sekali tidak terbuat dari elemen kimiawi. Api merupakan plasma yang memancar di mana suhu yang tinggi telah mencabik sebagian elektron dari intinya.
Atom-atom sendiri dibangun dari tiga jenis partilel elementer: proton, neutron dan elektron. Proton dan neutron berada dalam inti atom sedangkan elektron berada dalam ruang seputar inti atom. Neutron tidak membawa muatan listrik. Proton mempunyai satu muatan listrik dan elektron muatan negatif yang sama banyaknya. Tarik-menarik antara muatan tak sejenis dari elektron dan proton adalah yang melekatkan atom. Karena tiap atom bersifat netral, jumlah atom dan inti haruslah tepat sama dengan jumlah elektron dalam awan elektron. Massa dan muatan masing-masing partikel dasar penyusun atom seperti tabel di bawah ini:
Partikel
dan lambang Massa Muatan
Sesungguhnya Relatif terhadap proton Sesungguhnya Relatif terhadap proton
Proton (p+ )
Neutron (n )
Elektron (e- ) 1,67×10-24 g
1,67×10-24 g
9,11×10-28 g 1
1
1/1836 1,60×10-19 c
0
-1,60×10-19 c +1
0
-1
Karena bahan penyusun energi yang kita hisap berasal dari atom yang mengandung muatan listrik inilah maka tubuh manusia bisa mengandung listrik yang selanjutnya dapat kita ubah menjadi medan magnet atau energi lain. Menurut hukum kekekalan energi, bahwa “Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan”. Ini sudah menjadi sifat dari energi, kita hanya bisa merubah bentuk energi, dari bentuk energi satu ke bentuk energi lain.
Para ahli fisika sekarang mengusulkan bahwa yang dinamakan partikel-partikel elementer seperti proton dan neutron sebenarnya terbuat dari partikel yang lebih elementer yang disebut kuark dengan keragaman warna dan rasa, seperti sifat-sifatnya yang telah diistilahkan dalam upaya keras untuk membuat alam sub nuklir. Apakah kuark merupakan unsur akhir dalam pengertian kita akan alam materi, ataukah ada regresi tak terhingga yang makin dan makin jauh ke dalam partikel fundamental? Inti atom saja sangat kecil, apalagi elemen penyusunnya, bisa Anda bayangkan seberapa kecil elemen penyusun (kuark) dari elemen penyusunnya inti atom!
Sebenarnya yang mereka sebut dengan kuark itu adalah zat hidup (prana) yang biasa digunakan dalam beladiri tenaga dalam aliran lembut. Prana yang diserap dengan melalui seni pernafasan akan menguatkan pancaran aura yang ada pada tubuh manusia sehingga membentuk cahaya yang lebih terang (hanya dapat dilihat dengan mata yang terlatih) yang memiliki banyak warna dan rasa (dapat dirasakan dengan cara mengisi air dengan energi prana) serta dapat menyatu dengan alam bawah sadar manusia, energi ini merupakan sebagian dari energi yang akan kita pelajari/gunakan. Dalam bahasa sangsekerta, prana berasal dari 2 buah kata yaitu pra yang berarti sebelum atau pertama dan naberarti unsur terkecil, prana berarti unsur terkecil yang pertama kali.
Kalau kita perhatikan prinsip kerja magnet listik yang biasanya digunakan untuk mengangkat besi-besi rongsokan dengan menggunakan prinsip percobaan sebuah batangan besi yang dikelilingi kumparan yang dialiri arus listrik akan menghasilkan medan magnet. Sebaliknya kalau kita perhatikan sebuah generator (dinamo), listrik yang dihasilkan adalah berkat batangan besi dan kumparan yang berputar dalam medan magnet. Jadi arus listrik dapat menghasilkan medan magnet dan medan magnet dapat menghasilkan arus listrik.
Listrik mempunyai polaritas yang berbeda, (+) dan (-). Jika kedua polaritas yang berbeda bertemu langsung tanpa melewati beban/tahanan (misal: lampu, kipas angin, dsb) maka akan terjadi konslet (hubungan pendek) dan akan menimbulkan loncatan bunga api, jika kedua polaritas yang berbeda mengalir ke suatu beban akan menimbulkan energi yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam hal. Magnet sendiri terdiri dari 2 kutub yang berbeda, (+) dan (-). Jika kutub yang sama didekatkan akan terjadi tolak- menolak dan jika 2 kutub yang berbeda akan terjadi tarik-menarik. Begitupula prinsip kerja tenaga dalam yang ada dalam tubuh.
Tidak hanya sebatas medan magnet, listrikpun dapat menghasilkan energi-energi lain seperti keterangan di atas, dapat diubah menjadi energi cahaya, gerak, panas, dingin, dsb. Maka tidak heran kalau ada yang namanya pukulan jarak jauh yang berupa angin kencang dan api (ledakan), dapat melihat tembus ke balik tembok dan bahkan menembus ruang dan waktu (dengan mengubahnya menjadi sinar-X/X-Ray), radar, dsb.
Cahaya mempunyai kecepatan yang sangat tinggi, yaitu 3 x 108 m/det, sehingga jika kita mengeluarkan energi ini kepada musuh maka kemungkinan menghindar sangat kecil baginya, biasanya yang dapat mereka lakukan adalah bertahan (mengadu kekuatan), siapa yang kuat dia yang menang.
Kalau kita umpamakan tubuh manusia adalah beban, maka tenaga dalam yang mengalir di tubuhnya adalah arus listrik. Arus yang dihasilkan ini didapat melalui latihan pernafasan dan gerak/jurus yang kemudian disimpan di tempat-tempat tertentu sebagai sumber energi yang suatu saat dapat digunakan kembali sesuai keinginannya.
Udara yang kita hirup terdapat banyak unsur yang tersusun dari atom seperti yang telah saya jelaskan tadi, di dalam inti atom sendiri terdapat prana yang merupakan inti dari sumber energi tersebut. Jika nafas tertahan pada bagian tertentu (dada/ulu hati/perut/dsb) maka gerakan/jurus yang bergesekan pada titik-titik tertentu pada tubuh akan mengalirkan inti prana tersebut keseluruh tubuh dan membentuk jalur khusus bagi prana di dalam tubuh agar menjadi reflek, yang sebagian lagi disimpan pada sumber energi tubuh (chakra) dan ketika nafas dibuang merupakan sisa yang bersifat negative dan tidak dibutuhkan. Semakin sering kita melatih ilmu pernafasan maka semakin banyak energi yang kita miliki.
Pada saat akan digunakan maka nafas yang masuk merupakan pancingan untuk menghidupkan sumber energi tubuh untuk menghasilkan energi yang kita inginkan melalui pikiran, dapat berupa getaran listrik maupun daya magnet yang bersifat selektif sesuai kebutuhan, karena kita sulit untuk menentukan positif-negatifnya makanya secara otomatis keluar sesuai hasil yang kita inginkan. Contohnya untuk menjatuhkan lawan yang menyerang, energi yang keluar bisa positif bisa negative bahkan bisa dua-duanya sebab kita sendiri tidak tahu energi lawan positif atau negatif karena bisa berubah-ubah sesuai kehendak sang penyerang. Terkadang orang menyimpulkan bahwa orang yang menyerang akan menghasilkan energi negatif (emosi = negatif), namun sebenarnya belum tentu begitu, karena ada yang bisa mengubah-ubah energinya walaupun dalam kondisi menyerang. Ini yang sering membuat kita teledor dan meremehkan lawan tanding kita sehingga benteng pertahanan kita tembus. Maka kitapun harus melatih energi kita agar dapat digunakan dalam kondisi apapun, ini membutuhkan ketekunan dan kesabaran dalam berlatih. Adanya medan magnet dan getaran listrik ini dapat kita rasakan jika kita mendekatkan kedua telapak tangan kita, akan terasa dorongan yang semakin lama semakin kuat dan akan terasa getaran seperti semut yang berjalan.
Seperti itulah kira-kira proses bekerjanya tenaga dalam dan memang agak sulit menerangkan secara ilmiah, namun bukan berarti tidak bisa diilmiahkan, hanya saja butuh ketelitian dan kecermatan yang tentunya disertai dengan eksperimen-eksperimen yang tidak cukup dengan hanya satu-dua kali saja.
06.Rukun Iman
Sebagai salah satu syarat dari iman adalah adanya keyakinan. Dan keyakinan tersebut dapat muncul dari pengetahuan atau ilmu tentang hal tersebut. Dan masalah tersebut telah dijelaskan oleh para ulama dengan penjelasan yang tuntas dan sangat jelas bagi umat.
Iman kepada Allah Subhanallohu wa Ta’ala
Kita mengimani Rububiyah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, artinya bahwa Allah adalah Rabb: Pencipta, Penguasa dan Pengatur segala yang ada di alam semesta ini. Kita juga harus mengimani uluhiyah Allah Subhanahu Wa Ta’ala artinya Allah adalah Ilaah (sembahan) Yang hak, sedang segala sembahan selain-Nya adalah batil. Keimanan kita kepada Allah belumlah lengkap kalau tidak mengimani Asma’ dan Sifat-Nya, artinya bahwa Allah memiliki Nama-nama yang maha Indah serta sifat-sifat yang maha sempurna dan maha luhur.
Dan kita mengimani keesaan Allah Subhanallohu wa Ta’aladalam hal itu semua, artinya bahwa Allah Subhanallohu wa Ta’ala tiada sesuatupun yang menjadi sekutu bagi-Nya dalam rububiyah, uluhiyah, maupun dalam Asma’ dan sifat-Nya.
Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya:
“(Dia adalah) Tuhan seluruh langit dan bumi serta semua yang ada di antara keduanya. Maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beridat kepada-Nya. Adakah kamu mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya (yang patut disembah)?”. (QS. Maryam: 65)
Dan firman Allah, yang artinya: “Tiada sesuatupun yang serupa dengan-Nya. Dan Dia-lah yang maha mendengar lagi Maha melihat”. (QS. Asy-Syura:11)
Iman Kepada Malaikat
Bagaimana kita mengimani para malaikat ? mengimani para malaikat Allah yakni dengan meyakini kebenaran adanya para malaikat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan para malaikat itu, sebagaimana firman-Nya, yang artinya:
”Sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan, tidak pernah mereka itu mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.” (QS. Al-anbiya: 26-27)
Mereka diciptakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka mereka beribadah kepada-Nya dan mematuhi segala perintah-Nya. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’, yang artinya: ” …Dan malaikat-malaikat yang disisi-Nya mereka tidak bersikap angkuh untuk beribadah kepada-Nyadan tiada (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya. “ (QS. Al-Anbiya: 19-20).
Iman Kepada Kitab Allah
Kita mengimani bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menurunkan kepada rasul-rasul-Nya kitab-kitab sebagai hujjah buat umat manusia dan sebagai pedoman hidup bagi orang-orang yang mengamalkannya, dengan kitab-kitab itulah para rasul mengajarkan kepada umatnya kebenaran dan kebersihan jiwa mereka dari kemuysrikan. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’, yang artinya:
”Sungguh, kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka Al-kitab dan neraca (keadilan) agar manusia melaksanakan keadilan… “ (QS. Al-Hadid: 25)
Dari kitab-kitab itu, yang kita kenal ialah :
• Taurat, yang Allah turunkan kepada nabi Musa alaihi sallam, sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Maidah: 44.
• Zabur, ialah kitab yang diberikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada Daud alaihi sallam.
• Injil, diturunkan Allah kepada nabi Isa, sebagai pembenar dan pelengkap Taurat. Firman Allah : ”…Dan Kami telah memberikan kepadanya (Isa) injil yang berisi petunjuk dan nur, dan sebagai pembenar kitab yang sebelumnya yaitu Taurat, serta sebagai petunjuk dan pengajaran bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS : Al-Maidah : 46)
• Shuhuf, (lembaran-lembaran) yang diturunkan kepada nabi Ibrahim dan Musa, ‘Alaihimas-shalatu Wassalam.
• Al-Quran, kitab yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala turunkan kepada Nabi Muhammad shalallohu ‘alahi wa sallam, penutup para nabi. Firman AllahSubhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: ” Bulan Ramadhan yang diturunkan padanya (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi umat manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang haq dan yang batil…” (QS. Al Baqarah: 185).
Iman Kepada Rasul-Rasul
Kita mengimani bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengutus rasul-rasul kepada umat manusia, Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: ” (Kami telah mengutus mereka) sebagai rasul-rasul pembawa berita genbira dan pemberi peringatan, supaya tiada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah (diutusnya) rasul-rasul itu. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. AN-Nisa: 165).
Kita mengimani bahwa rasul pertama adalah nabi Nuh dan rasul terakhir adalah Nabi Muhammad shalallohu ‘alahi wa sallam, semoga shalawat dan salam sejahtera untuk mereka semua. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya:”Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi yang (datang) sesudahnya…” (QS. An-Nisa: 163).
Iman Kepada Hari Kiamat
Kita mengimani kebenaran hari akhirat, yaitu hari kiamat, yang tiada kehidupan lain sesudah hari tersebut.
Untuk itu kita mengimani kebangkitan, yaitu dihidupkannya semua mahkluk yang sesudah mati oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,yang artinya:”Dan ditiuuplah sangkakala, maka matilah siapa yang ada dilangit dan siapa yang ada di bumi kecuali yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka bangkit menunggu (putusannya masing-masing).” (QS. Az-Zumar: 68)
Kita mengimani adanya catatan-catatan amal yang diberikan kepada setiap manusia. Ada yang mengambilnya dengan tangan kanan dan ada yang mengambilnya dari belakang punggungnya dengan tangan kiri.
Firman AllahSubhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: ” Adapun orang yang diberikan kitabnya dengan tangan kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang punggungnya, maka dia akan berteriak celakalah aku dan dia akan masuk neraka yang menyala.” (QS. Al-Insyiqaq: 13-14).
Iman Kepada Qadar Baik dan Buruk
Kita juga mengimani qadar (takdir) , yang baik dan yang buruk; yaitu ketentuan yang telah ditetapkan Allah untuk seluruh mahkluk-Nya sesuai dengan ilmu-Nya dan menurut hikmah kebijakan-Nya.
Iman kepada qadar ada empat tingkatan:
1. ‘Ilmu
ialah mengimani bahwa Allah Maha tahu atas segala sesuatu,mengetahui apa yang terjadi, dengan ilmu-Nya yang Azali dan abadi. Allah sama sekali tidak menjadi tahu setelah sebelumnya tidak menjadi tahu dan sama sekali tidak lupa dengan apa yang dikehendaki.
2. Kitabah
ialah mengimani bahwa Allah telah mencatat di Lauh Mahfuzh apa yang terjadi sampai hari kiamat. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: ”Apakah kamu tidak mengetahui bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi. sesungguhnya tu (semua) tertulis dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya Allah yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hajj: 70)
3. Masyi’ah
ialah mengimani bawa Allah Subhanahu Wa Ta’ala. telah menghendaki segala apa yang ada di langit dan di bumi, tiada sesuatupun yang terjadi tanpa dengan kehendak-Nya. Apa yang dikehendaki Allah itulah yang terjadi dan apa yang tidak dikehendaki Allah tidak akan terjadi.
4. Khal
Ialah mengimani Allah Subhanahu Wa Ta’ala. adalah pencipta segala sesuatu. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: ” Alah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. Hanya kepunyaan-Nyalah kunci-kunci (perbendaharaan) langit dan bumi.” (QS. Az-Zumar: 62-63).
Keempat tingkatan ini meliputi apa yang terjadi dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala sendiri dan apa yang terjadi dari mahkluk. Maka segala apa yang dilakukan oleh mahkluk berupa ucapan, perbuatan atau tindakan meninggalkan, adalah diketahui, dicatat dan dikehendaki serta diciptakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
(Sumber Rujukan: Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin)
07.ASMA UL HUSNA
fadhilat yg digunakan sebagian dalil simulasi proteksi dan solusi
1. AR RAHMAAN = MAHA PENGASIH
Jika kita membaca Yaa Rahmaan sebanyak seratus kali, yaitu setiap usai mengerjakan shalat fardu. Dengan seizin Allah kita akan memiliki ingatan yang kuat, pengetahuan yang cemerlang, dan terhindar dari hati yang keras. Wallaahu’alam.
2. AR RAHIIM = MAHA PENYAYANG
Barangsiapa membaca Yaa Rahiim seratus kali seusai shalat subuh, dengan seizin Allah, setiap orang akan bersahabat dan baik kepadanya. Dan bila dibaca tujuh kali maka ia akan berada dalam naungan Allah subhanhu wata’ala . Kemudian bila setiap usai shalat fardu dibaca seratus kali maka Allah akan mengasihinya. Wallaahu’alam.
3. AL MAALIK = MAHA RAJA
Perbanyaklah membaca Yaa Maalik. Dengan seizin Allah subhanu wata’ala, kita akan diberi kekuatan, kekuasaan, kebesaran, serta kepemilikan atas segala sesuatu. Orang-orang akan memberlakukan kita dengan baik dan penuh hormat. Wallaahu’alam.
4. AL QUDDUUS = MAHA SUCI
Bila Yaa Qudduus dibaca seratus kali setiap hari, dengan seizin Allah subhanhu wata’ala , hati orang yang membacanya akan terbebas dari rasa gundah dan gelisah. Orang yang setiap hari rutin membaca zikir ini akan mendapat kejernihan hati yang sempurna. Wallaahu’alam.
5. AS SALAAM = MAHA PEMBERI KEDAMAIAN
Apabila Yaa Salaam dibaca sebanyak 160 kali untuk orang yang sakit, dengan seizin Allahsubhanhu wata’ala , orang yang sakit tersebut akan segera disembuhkan dari penyakitnya. Sering mengucapkan bacaan ini juga akan mendatangkan cinta dan keselamatan serta keamanan dari segala macam bencana. Wallaahu’alam.
6. AL MU’MIN = MAHA PEMBERI KEAMANAN
Barangsiapa sering membaca Yaa Mu’min, dengan seizin Allah subhanhu wata’ala , ia akan terbebas dari segala macam gangguan yang mungkin menghadangnya. Wallaahu’alam.
7. Al MUHAIMIN = MAHA MEMELIHARA
Barang siapa membaca Yaa Muhaimin dalam kondisi suci (wudhunya belum batal), dengan seizin allah subhanahu wata’ala , batinnya bakal memancarkan cahaya. Dan barang siapa melafalkan bacaan ini 125 kali, Insya Allah, hatinya akan menjadi jernih. Ia akan menemukan rahasia dan hakikat dari setiap kejadian. Wallaahu’alam.
8. AL ‘AZIIZ = MAHA PERKASA
Seseorang yang mengamalkan bacaan Yaa ‘Aziiz sebanyak empat puluh kali setiap usai shalat subuh selama empat puluh hari, dengan seizin Allah, dirinya tidak akan bergantung kepada orang lain. Dana barang siapa yang setiap hari setelah terbitnya fajar melafalkan bacaan ini 94 kali, maka Insya Allah, ia akan dianugerahi kewibawaan. Wallaahu’alam.
9. AL JABBAAR = MAHA PEMAKSA
Siapa saja yang sering membaca bacaan Yaa Jabbaar, dengan seizin Allah, ia tidak akan dipaksa oleh siapapun untuk melakukan perbuatan yang tidak ia inginkan. Ia akan terlindung dari berbagai bentuk kekerasan, kekejian, dan kekejaman. Wallaahu’alam.
10. AL MUTAKABBIR = MAHA PEMILIK SEGALA KEAGUNGAN
Orang tua yang gemar membaca Yaa Mutakabbir berulang kali, dengan seizin Allah akan diberikan kepadanya anak-anak yang saleh. Wallaahu’alam.
11. AL KHAALIQ = MAHA PENCIPTA
Barangsiapa membaca Yaa Khaaliq berulang-ulang di malam hari, Insya Allah, Allah akan menciptakan satu malaikat yang bertugas melakukan amal kebaikan untuk orang tersebut. Di hari hisab, pahala amal kebaikan sang malaikat akan diberikan kepada orang itu. Wallaahu’alam.
12. AL BAARI’ = MAHA MENGADAKAN
Perbanyaklah membaca Yaa Baari’ untuk menambah amal kebaikan kita. Wallaahu’alam.
13. AL MUSHAWWIR = MAHA PEMBENTUK
Bila seorang ibu ingin dikarunia anak, hendaknya ia berpuasa selama tujuh hari. Lalu, setiap hari ketika hendak berbuka puasa, ia membaca Yaa Khaaliq, Yaa Baari’, dan Yaa Mushawwir sebanyak 21 kali. Setelah itu meniupkannya ke dalam segelas air. Kemudian ia berbuka puasa dengan air tersebut. Maka atas izin Allah, Allah SWT akan menganugerahinya anak. Wallaahu’alam.
14. AL GHAFFAAR = MAHA PENGAMPUN
Orang yang mengamalkan bacaan Yaa Ghaffaar berulang-ulang, dengan seizin Allah, dosa dan kesalahannya akan dihapuskan. Wallaahu’alam.
15. AL QOHHAAR = MAHA PENAKLUK
Seseorang yang membaca Yaa Qohhaar berulang-ulang, dengan seizin Allah, ia akan mendapatkan beberapa kelebihan. Jiwanya mampu menaklukkan hawa nafsu, hatinya tidak cenderung pada dunia, dan batinnya akan merasa tenang. Bacaan ini juga bisa menjaga seseorang dari kezaliman orang lain. Wallaahu’alam.
16. AL WAHHAAB = MAHA PEMBERI
Orang yang membaca Yaa Wahhaab tujuh kali setelah berdoa. Insya Allah, doanya akan terkabul. Bila mempunyai kebutuhan atau kekurangan materi, bila membaca asma ini 100 kali setelah shalat malam dalam keadaan suci selama tiga hari atau tujuh malam, maka Allah SWT akan mencukupi seluruh kebutuhannya. Wallaahu’alam.
17. AR RAZZAAQ = MAHA PEMBERI REZEKI
Orang yang sering mengamalkan bacaan Yaa Rozzaaq, dengan seizin Allah SWT pintu rezekinya akan dilapangkan oleh Allah. Wallaahu’alam.
18. AL FATTAAH = MAHA PEMBUKA PINTU RAHMAT
Barangsiapa ingin hatinya dibuka dan memperoleh kemenangan, perbanyaklah melafalkan Yaa Fattaah. Usai shalat subuh bacalah lafal ini tujuh puluh kali kemudian letakkan tangan di atas dada. Maka kegelapan yang ada di hati akan sirna. Bila dibaca rutin, lafal ini akan bermanfaat untuk memudahkan semua pekerjaan. Wallaahu’alam.
19. AL ‘ALIIM = MAHA MENGETAHUI
Barangsiapa sering membaca Yaa ‘Aliim, hatinya akan cemerlang dan mampu menyingkapkan cahaya Ilahi. Bacaan ini memiliki manfaat yang besar guna mendapatkan ilmu dan menampakkan hal-hal yang tersembunyi. Melafalkan bacaan ini sepuluh kali setiap selesai shalat, Insya Allah, akan membuka hal-hal yang ghaib. Wallaahu’alam.
20. AL QAABIDH = MAHA MENYEMPITKAN
Barangsiapa menuliskan Yaa Qaabidh di atas lima puluh makanan (buah, roti, dan sebagainya) selama empat puluh hari. Dengan seizin Allah, ia tidak akan kelaparan. Bahkan ia akan mendapatkan limpahan rezeki. Wallaahu’alam.
21. AL BAASITH = MAHA MELAPANGKAN
Barangsiapa membaca Yaa Baasith sepuluh kali di waktu fajar, setelah shalat subuh, dengan tangan terbuka (telapak tangan menghadap ke atas) lalu mengusap wajahnya dengan tangan. Maka, dengan seizin Allah, ia tidak akan bergantung kepada orang lain serta akan memperoleh kekayaan. Wallaahu’alam.
22. AL KHAAFIDH = MAHA MERENDAHKAN
Barangsiapa ingin terbebas dari kejahatan musuh, berpuasalah selama tiga hari. Kemudian pada hari keempatnya membaca Yaa Khaafidh sebanyak 70 ribu kali. Orang yang mengamalkan asma ini sebanyak tujuh puluh kali, Allah SWT akan menjaganya dari kejahatan orang-orang yang zalim. Wallaahu’alam.
23. AR RAAFI’ = MAHA MENINGGIKAN
Barangsiapa mengamalkan bacaan Yaa Raafi’ seratus kali setiap hari, siang atau malam, maka Allah akan memuliakan orang tersebut serta memberinya kekayaan dan kebaikan. Wallaahu’alam.
24. AL MU’IZZ = MAHA MEMULIAKAN
Jika Yaa Mu’izz dibaca 140 kali setelah shalat Isya, yaitu pada malam senin dan jum’at, maka Allah akan membuat hamba yang membacanya menjadi mulia dan terhormat di mata orang lain. Orang tersebut tidak akan memiliki rasa takut kepada siapapun, selain kepada Allah SWT. Wallaahu’alam.
25. AL MUDZILL = MAHA MENGHINAKAN
Barangsiapa mengamalkan Yaa Mudzill sebanyak 75 kali, Insya Allah, dirinya akan terbebas dari gangguan orang-orang yang iri padanya, serta dari orang yang berniat untuk mencelakainya. Ia akan selalu dilindungi oleh Allah SWT. Wallaahu’alam.
26. AS SAMII’ = MAHA MENDENGAR
Barangsiapa membaca Yaa Samii’ pada hari kamis, yaitu setelah shalat Zuhur sebanayak 100 kali, tanpa berbicara dengan siapapun, dengan seizin Allah, keinginannya akan dikabulkan Allah. Wallaahu’alam.
27. AL BASHIIR = MAHA MELIHAT
Barangsiapa mengamalkan Yaa Bashiir sebanyak 100 kali, yaitu antara shalat jum’at dan shalat sunah setelahnya, maka Allah akan meninggikan kedudukannya di mata orang lain. Wallaahu’alam.
28. AL HAKAM = MAHA MENETAPKAN HUKUM
Barangsiapa membaca Yaa Hakam berulang kali pada malam hari, maka dengan izin-Nya, rahasia (hal-hal yang tersembunyi) akan dinampakkan padanya. Wallaahu’alam.
29. AL ‘ADL = MAHA ADIL
Bila seseorang menuliskan bacaan Yaa’Adl di atas sekerat roti pada malam jum’at lalu memakan roti itu, maka dengan izin Allah, orang lain akan menuruti ucapannya. Wallaahu’alam.
30. AL LATHIIF = MAHA LEMBUT
Bacaan Yaa Lathiif memiliki beberapa faedah. Yaitu bisa mendekatkan kita pada hasil, menghilangkan semua rasa sakit, penyakit, dan semua kesulitan. Di saat ada bencana, kesusahan, dan kesedihan, melafalkannya dapat mendatangkan keselamatan, kebahagiaan, keamanan, dan keyakinan. Wallaahu’alam.
31. AL KHABIIR = MAHA MENGETAHUI
Seseorang yang memiliki kebiasaan buruk lalu ia membaca Yaa Khobiir berkali-kali, maka dengan seizin Allah, kebiasaan buruknya itu akan segera menghilang dari dirinya. Wallaahu’alam.
32. AL HALIIM = MAHA SABAR
Dianjurkan untuk rutin membaca Yaa Haliim 100 kali dalam sehari untuk meredakan kemarahan dan mengetahui hal-hal yang ghaib, untuk memadamkan api kemarahan dan kebodohan, serta untuk mendapatkan ketenangan hati dan terjaga dari berbagai bencana. Wallaahu’alam.
33. AL ‘AZHIIM = MAHA AGUNG
Orang yang sering mengamalkan bacaan Yaa ‘Azhiim, dengan seizin Allah, akan dihormati oleh orang lain. Wallaahu’alam.
34. AL GHAFUUR = MAHA PENGAMPUN
Orang yang terserang sakit kepala dan demam lalu ia membaca Yaa Ghofuur, maka dengan siizin Allah, ia akan sembuh dari penyakit yang dideritanya itu. Banyak mengulang-ulang asma ini juga dapat menghilangkan penyakit was-was. Wallaahu’alam.
35. ASY SYAKUUR = MAHA MENGHARGAI
Barangsiapa yang bersedih lalu ia membaca Yaa Syaakuur sebanyak 41 kali kemudian meniupkannya ke dalam segelas air dan membasuh wajahnya dengan air tersebut. Maka dengan siizin Allah, hatinya akan menjadi tentram dan tenang. Dan ia akan dapat mencukupi kebutuhannya. Wallaahu’alam.
36. AL ‘ALIYY = MAHA TINGGI
Barangsiapa kadar imannya sedang turun lalu ia membaca Yaa ‘Aliyy berkali-kali, maka dengan siizin Allah, imannya akan kembali meningkat serta peruntungannya terbuka. Dan bagi seseorang yang tengah dalam perjalanan pulang, dengan seizin Allah, ia akan sampai ke kampung halamannya dengan selamat. Wallaahu’alam.
37. AL KABIIR = MAHA BESAR
Barangsiapa ingin mendapatkan penghormatan maka bacalah Yaa Kabiir seratus kali setiap hari. Wallaahu’alam.
38. AL HAAFIIZH = MAHA MEMELIHARA
Orang yang membaca Yaa Haafiizh enam belas kali setiap hari, dengan siizin Allah, ia akan terlindung dari berbagai musibah. Jika dibaca 998 kali, ia akan terlindung dari segala macam ketakutan meski ia pergi ke tempat berbahaya. Ia juga terjaga dari bahaya tenggelam. Ucapannya akan selalu terjaga dan doanya akan cepat terjawab. Wallaahu’alam.
39. AL MUQIITU = MAHA MENJAGA
Apabila seseorang mempunyai anak dengan perangai buruk, hendaknya ia membaca Yaa Muqiit berulang-ulang lalu ditiupkan ke dalam segelas air dan meminumkannya kepada anak tersebut. Maka dengan seizin allah, anak tersebut akan berperangai baik. Wallaahu’alam.
40. AL HASIIB = MAHA MENGHITUNG
Jika seseorang takut dirampok, didengki, diganggu, atau dizalimi oleh orang lain, hendaknya mulai hari kamis ia membaca Yaa Hasiib sebanyak 70 kali siang dan malam selama tujuh hari. Dan pada hitungan ke-71 ia mengucapkan Hasbiyallaahul-Hasiib. Insya Allah, rasa takut yang ada di dalam dirinya itu akan lenyap. Wallaahu’alam.
41. AL JALIIL = MAHA LUHUR
Perbanyaklah membaca Yaa Jaliil untuk menambah amalan pahala kebaikan. Wallaahu’alam.
42. AL KARIIM = MAHA PEMURAH
Orang yang mengamalkan bacaan Yaa Kariim, dengan seizin Allah, ia akan mendapatkan kemuliaan baik di dunia maupun di akhirat kelak. Wallaahu’alam.
43. AR RAQIIB = MAHA MENGAWASI
Barangsiapa membaca Yaa Raqiib sebanyak tujuh kali untuk dirinya sendiri, keluarga, dan kekayaannya, dengan seizin Allah, semuanya itu akan berada di bawah perlindungan Allah. Jika bacaan ini senantiasa diamalkan maka kelalaian akan sirna dari hati. Wallaahu’alam.
44. AL MUJIIB = MAHA MENGABULKAN
Permohonan seorang hamba yang disertai dengan penyebutan Yaa Mujiib, Insya Allah, akan dikabulkan oleh Allah. Wallaahu’alam.
45. AL WAASI’ = MAHA LUAS
Barangsiapa sulit mendapatkan nafkah lalu membaca Yaa Waasi’, dengan seizin Allah, ia akan mendapatkan sumber nafkah yang layak. Wallaahu’alam.
46. AL HAKIIM = MAHA BIJAKSANA
Seseorang yang rajin membaca Yaa Hakiim dari waktu ke waktu, dengan seizin Allah, ia tidak akan mendapatkan kesulitan dalam pekerjaannya. Wallaahu’alam.
47. AL WADUUD = MAHA MENGASIHI
Bila terjadi persengketaan di antara dua orang, kemudian salah satunya membaca Yaa Waduud seribu kali pada makanan atau minuman lalu meminta orang yang bersengketa dengannya mengkonsumsi makanan atau minuman tersebut, dengan seizin Allah, persengketaan mereka berdua akan selesai. Wallaahu’alam.
48. AL MAJIID = MAHA MULIA
Orang yang sering membaca Yaa Majiid, dengan seizin allah, ia akan dianugerahi kemuliaan oleh Allah SWT. Wallaahu’alam.
49. AL BAA’ITS = MAHA MEMBANGKITKAN
Membaca Yaa Baa’its berulang-ulang akan mendatangkan rasa takut kita kepada Allah SWT. Seseorang yang sebelum tidur mengusapkan tangannya ke dada dan melafalkan bacaan ini seratus kali, Allah SWT akan menghidupkan hatinya dengan cahaya makrifat-Nya. Wallaahu’alam.
50. ASY SYAHIID = MAHA MENYAKSIKAN
Orangtua yang mempunyai anak yang nakal dianjurkan untuk membaca Yaa Syahiid berulang-ulang untuk anaknya tersebut. Insya Allah, Allah akan memberikan kesalihan kepada anak itu. Wallaahu’alam.
51. AL HAQQ = MAHA BENAR
Apabila seseorang kehilangan sesuatu lalu membaca Yaa Haqq berulang-ulang, dengan seizin Allah, ia akan menemukan sesuatu yang hilang tersebut. Wallaahu’alam.
52. AL WAKIIL = MAHA MEWAKILI
Orang yang takut tenggelam, terbakar api, atau bahaya lain yang sejenis, hendaknya sering mengulang-ulang membaca Yaa Wakiil. Dengan seizin Allah, ia akan selalu berada dalam lindungan Allah SWT. Bacaan ini juga memiliki pengaruh yang luar biasa untuk mendekatkan kita pada apa yang diinginkan dan juga untuk memenuhi kebutuhan kita. Wallaahu’alam.
53. AL QAWIYY = MAHA KUAT
Seseorang yang tidak mampu mengalahkan musuhnya lalu mengucapkan Yaa Qowiyy dengan tujuan agar tidak dizalimi, dengan seizin Allah, ia akan terbebas dari gangguan musuhnya itu. Wallaahu’alam.
54. AL MATIIN = MAHA KOKOH
Barangsiapa yang sedang tertimpa suatu kesulitan lalu melafalkan Yaa Matiin berulang-ulang, dengan seizin Allah, kesulitannya akan sirna. Wallaahu’alam.
55. AL WALIYY = MAHA PELINDUNG
Barangsiapa sering mengamalkan Yaa Waliyy, dengan seizin Allah, ia akan menjadi kekasih atau wali Allah. Wallaahu’alam.
56. AL HAMIID = MAHA TERPUJI
Orang yang sering mengucapkan Yaa Hamiid, dengan seizin Allah, ia akan dicintai dan dihormati oleh orang lain. Wallaahu’alam.
57. AL MUHSHII = MAHA PENGHITUNG
Bila seseorang takut tidak bisa menjawab pertanyaan pada hari pengadilan di akhirat kelak, hendaknya ia sering membaca Yaa Muhshii sebanyak seribu kali. Insya Allah, ia akan mendapat kemudahan. Wallaahu’alam.
58. AL MUBDI’ = MAHA MEMULAI
Sekiranya Yaa Mubdi’ dibaca berulang-ulang lalu ditiupkan kepada wanita yang hamil yang takut keguguran, Insya Allah, ia tidak akan mengalami musibah itu. Wallaahu’alam.
59. AL MU’IID = MAHA MENGEMBALIKAN
Jika Yaa Mu’iid dibaca sebanyak tujuh puluh kali dan ditujukan kepada seeorang yang jauh dari keluarganya, dengan seizin Allah, orang tersebut akan pulang dengan selamat. Wallaahu’alam.
60.AL MUHYII = MAHA PEMBERI KEHIDUPAN
Bila seseorang sedang memikul beban persoalan yang berat lalu ia mengucakan Yaa Muhyii tujuh kali setiap hari, Insya Allah, beban tersebut akan terlepas darinya. Wallaahu’alam.
61. AL MUMIIT = MAHA MEMATIKAN
Bacaan Yaa Mumiit memiliki manfaat besar untuk menghancurkan dan mematahkan kekuatan musuh. Wallaahu’alam.
62. AL HAYY = MAHA HIDUP
Bacaan Yaa Hayy berkhasiat memanjangkan umur. Baragsiapa yang rutin membacanya, khususnya setiap setelah selesai shalat sebanyak 18 kali, Insya Allah, ia akan terhindar dari kematian mendadak dan rejekinya diluaskan. Untuk mengobati sakit mata, bacalah Yaa Hayy sembilan belas kali. Insya Allah akan sembuh. Wallaahu ‘alam.
63. AL QOYYUUM = MAHA BERDIRI SENDIRI
Barangsiapa tidak ingin tertimpa kekurangan apapun, hendaknya sering membaca Yaa Qoyyuum. Wallaahu’alam.
64. AL WAAJID = MAHA MENEMUKAN
Seseorang yang ingin jadi pemurah hendaknya memperbanyak mambaca Yaa Waajid. Wallaahu’alam.
65. AL MAAJID = MAHA MULIA
Orang yang sering mengamalkan Yaa Maajid, dengan seizin Allah, hatinya akan tercerahkan. Wallaahu’alam.
66. AL WAAHID = MAHA TUNGGAL
Orang yang membaca Yaa Waahid berulang-ulang dalam kondisi yang menyendiri dan di tempat yang tenang, dengan seizin Allah dia akan terlepas dari rasa takut dan angan-angan. Bacaan ini juga berpengaruh besar dalam mendatangkan kasih sayang. Juga kedekatan serta kemuliaan di antara keluarga dan sanak keluarga dan sanak saudara. Wallaahu’alam.
67. AL AHAD = MAHA ESA
Orang yang membaca Yaa Ahad seribu kali, dengan seizin Allah, sejumlah rahasia tertentu akan disingkap baginya. Barangsiapa yang tengah sendiri setelah menahan nafsu atau memperbanyak ibadah kemudian mengucapkan Yaa Ahad seribu kali, Insya Allah, ia akan menyaksikan malaikat di sekitarnya. Wallaahu’alam.
68. ASH SHAMAD = MAHA DIBUTUHKAN
Barangsiapa rajin membaca Yaa Shomad berulang-ulang, Insya allah, Allah akan memenuhi kebutuhannya. Wallaahu‘alam.
69. AL QOODIR = MAHA MAMPU
Barangsiapa sering mengamalkan Yaa Qoodir, dengan seizin Allah, semua hasrat dan keinginannya akan terkabul. Wallaahu’alam.
70. AL MUQTADIR = MAHA BERKUASA
Orang yang membaca Yaa Muqtadir terus menerus, dengan seizin Allah, ia akan memiliki pengetahuan tentang kebenaran. Wallaahu’alam.
71. AL MUQADDIM = MAHA MEMPERCEPAT
Seseorang yang membaca Yaa Muqoddim berkali-kali di medan peperangan atau di suatu tempat yang menakutkan, Insya Allah, ia tidak akan terkena gangguan. Wallaahu’alam.
72. AL MUAKHKHIR = MAHA MENUNDA
Barangsiapa membaca Yaa Muakhkhir di dalam hati sebanyak seratus kali setiap hari, Insya Allah, relung hatinya akan dipenuhi dengan kecintaan kepada Allah. Tidak ada kecintaan kepada selain-Nya. Wallaahu’alam.
73. AL AWWAL = MAHA AWAL
Barangsiapa ingin dikaruniaiseorang anak, atau ingin bertemu dengan seseorang yang sedang berpergian jauh maka bacalah Yaa Awwal sebanyak seribu kali selama empat puluh jum’at.
74. AL AAKHIR = MAHA AKHIR
Seseorang yang sering membaca Yaa Aakhir akan menjalani hidup dengan baik. Dan di akhir hayatnya, Insya Allah, ia akan menutup usianya dengan baik. Wallaahu’alam.
75. AZH ZHAAHIR = MAHA NYATA
Barangsiapa membaca Yaa Zhaahir sebanyak lima belas kali setelah shalat jum’at, dengan seizin Allah, cahaya Ilahi akan masuk ke hatinya. Wallaahu’alam.
76. AL BAATHIN = MAHA TERSEMBUNYI
Barangsiapa ingin melihat kebenaran dalam berbagai hal, bacalah Yaa Baathin tiga kali setiap hari. Wallaahu’alam.
77. AL WAALII = MAHA MEMERINTAH
Bila seseorang membaca Yaa Waalii berulang-ulang lalu meniupkannya ke dalam rumahnya, maka dengan seizin Allah, Allah akan melindungi rumah tersebut dari bahaya. Wallaahu’alam.
78. AL MUTA’AALII = MAHA TINGGI
Bila seseorang rajin membaca Yaa Muta’aalii berulang-ulang, dengan seizin Allah, Allah akan memberinya banyak kebaikan. Wallaahu’alam.
79. AL BARR = SUMBER SEGALA KEBAIKAN
Bila seseorang rajin membaca Yaa Barr untuk anaknya, dengan seizin Allah, anaknya akan terlepas dari berbagai kemalangan. Wallaahu’alam.
80. AT TAWWAAB = MAHA PENERIMA TOBAT
Bila seseoarang rajin membaca Yaa Tawwaab berulang-ulang, dengan seizin Allah, Allah akan menerima tobatnya. Wallaahu’alam.
81. AL MUNTAQIM = MAHA PENUNTUT BALAS
Bila seseorang rajin membaca Yaa Muntaqim berulang-ulang, dengan seizin Allah, Allah akan memberinya kemenangan bila ia berhadapan dengan musuh.
82. AL ‘AFUWW = MAHA PEMAAF
Bila seseorang rajin membaca Yaa ‘Afuww berulang-ulang, dengan seizin Allah, Allah akan mengampuni dosa-dosanya. Wallaahu’alam.
83. AR RA’UUF = MAHA BELAS KASIH
Bila Seseorang rajin membaca Yaa Roo’uuf berulang-ulang, dengan seizin Allah, ia akan mendapatkan keberkahan dari Allah. Wallaahu’alam.
84. MAALIKUL-MULK = MAHA MEMILIKI KERAJAAN ABADI
Bila seseorang rajin membaca Yaa Maalikul-Mulk berulang-ulang, dengan seizin Allah, Allah akan memberi martabat dan harga diri kepadanya di mata manusia. Wallaahu’alam.
85. DZUUL-JALAALI-WAL-IKROOM = MAHA MEMILIKI KEBESARAN DAN KEMULIAAN
Bila seseorang rajin membaca Yaa Dzul-Jalaali-Wal-Ikroom, dengan seizin Allah, Allah akan memberinya kekayaan. Wallaahu’alam.
86. AL MUQSITH = MAHA ADIL
Bila seseorang rajin membaca Yaa Muqsith berulang-ulang, dengan seizin Allah, Allah akan melindunginya dari gangguan setan. Wallaahu’alam.
87. AL JAAMI’ = MAHA MENGHIMPUN
Bila seseorang kehilangan sesuatu, ia bisa membaca Yaa jaami’ berulang-ulang. Allah akan membantu mempermudah pencarian barangnya yang hilang itu. Wallaahu’alam.
88. AL GHANIYY = MAHA KAYA
Bila seseorang rajin membaca Yaa Ghaniyy, dengan seizin Allah, Allah akan memberinya perasaan cukup dengan apa yang dimiliki dan tidak akan dijangkiti sifat serakah. Wallaahu’alam.
89. AL MUGHNII = MAHA PEMBERI KEKAYAAN
Bila seseorang rajin membaca Yaa Mughnii sebanyak sepuluh kali selama sepuluh jumat, dengan seizin Allah, Allah akan mencukupi kebutuhannya. Wallaahu’alam.
90. AL MAANI’ = MAHA PENCEGAH
Bagi orang yang sudah berumah tangga, bila rajin membaca Yaa Maani’, dengan seizin Allah, Allah akan memberi ketenteraman hidup dalam rumah tangganya. Wallaahu’alam.
91. ADH DHAAR = MAHA PEMBERI KESUKARAN
Bila seseorang rajin membaca Yaa Dhaar pada malam jumat, dengan seizin Allah, Allah akan mengangkat derajat dan kedudukannya ke tempat yang lebih tinggi. Wallaahu’alam.
92. AN NAAFI’ = MAHA PEMBERI MANFAAT
Bila seseorang membaca Yaa Naafi’ empat hari berturut-turut, maka dengan seizin Allah, ia bakal terhindar dari banyak gangguan. Wallaahu’alam.
93. AN NUUR = MAHA PEMBERI CAHAYA
Bila Seseorang rajin membaca Yaa Nuur, maka dengan seizin Allah, Allah akan memberinya karunia cahaya batiniah. Dan Allah juga akan memberinya pengetahuan untuk mengetahui hal-hal yang tersembunyi. Wallaahu’alam.
94. AL HAADII = MAHA PEMBERI PETUNJUK
Bila seseorang ingin memiliki pengetahuan spiritual dan makrifat atau ilmu mengenai Allah SWT. Maka perbanyaklah membaca Yaa Haadii. Wallaahu’alam.
95. AL BADII’ = MAHA PENCIPTA HAL BARU
Bila seseorang membaca Yaa Badii’assamaawaati wal ardh (wahai Sang Pencipta segala sesuatu yang tiada banding di muka bumi dan jagat alam semesta) sebanyak tujuh puluh kali maka dengan seizin Allah, segala kesulitan yang menimpanya akan berakhir. Wallaahu’alam.
96. AL BAAQII = MAHA KEKAL
Bila seseorang membaca Yaa Baaqii seratus kali sebelum matahari terbit maka, dengan seizin Allah, ia akan terbebas dari seluruh bencana di sepanjang hidupnya. Dan di akhirat kelak, ia akan dikasihi oleh Allah SWT. Wallaahu’alam.
97. AL WAARITSU = MAHA MEWARISI
Bila seseorang sering membaca Yaa Waarits maka Allah akan memperpanjang usianya. Wallaahu’alam.
98. AR ROSYIID = MAHA PEMBERI PETUNJUK KE JALAN YANG BENAR
Bila seseorang membaca Yaa Rosyiid sebanyak seribu kali, yaitu diantara waktu shalat Maghrib dan shalat Isya, dengan seizin Allah, berbagai persoalannya akan terselesaikan. Wallaahu’alam.
99. YAA SHABUUR = MAHA SABAR
Ketika seseorang dalam kesulitan atau berduka, bacalah Yaa Shobuur sebanyak tiga ribu kali, dengan izin Allah, Allah akan memberinya jalan keluar. Jika Yaa Shobuur dibaca sebanyak seribu kali, Allah akan memberinya ilham berupa kesabaran atas segala kesusahan dan bala bencana yang menimpanya. Wallaahu’alam.
Doa-doa Yang Makbul:
1. Orang yang terdesak.
2. Orang yang teraniaya/dizalimi.
3. Anak yang berbuat baik terhadap kedua ibubapanya.
4. Doa seorang Muslim yang tidak berbuat zalim & tidak memutuskan silaturrahim.
Tanda-tanda Doa Yang Makbul:
1. Terasa sesuatu yang menakutkan.
2. Menangis tatkala berdoa.
3. Terasa menggeletar.
Cara-cara Berdoa:
1. Bersungguh-sungguh semasa berdoa. Rasulullah s.a.w pernah bersabda:
“Sesungguhnya Allah amat menyukai orang yang bersungguh-sungguh semasa ia berdoa”
2. Menghadirkan diri kpd Allah dengan penuh kekhusyukkan kerana Allah tidak menerima doa dari hati yang lalai.
3. Hendaklah makanan, minuman, pakaian dan sebagainya dari harta yang halal kerana sesungguhnya Allah itu baik & menerima melainkan yang baik belaka.
4. Doa itu bukan bertujuan untuk melakukan dosa, khianat, memutuskan silaturrahim & jangan sesekali memohon SEGERA dimakbulkan doa tersebut.
5. Digalakkan memperbanyakkan menyebut Asmaul Husna, dimulai dengan bertaubat, istighfar, hamdalah serta selawat ke atas Rasulullah s.a.w & para sahabat.
6. Sebelum berdoa, bersedekahlah terlebih dahulu (al-fatihah dan sebagainya).
KATA-KATA NASIHAT IBNU QAYYIM
* Di dalam hati manusia ada kekusutan dan tidak akan terurai kecuali menerima kehendak Allah swt.
* Di dalam hati manusia ada keganasan dan tidak akan hilang kecuali berjinak dengan dengan Allah swt
* Di dalam hati manusia ada kesedihan dan tidak akan hilang kecuali seronok mengenali Allah swt
* Di dalam hati manusia ada kegelisahan dan tidak akan tenang damai kecuali berlindung, bertemu dan berjumpa denganNya
* Di dalam hati manusia ada penyesalan dan tidak akan padam kecuali redha dengan suruhan dan laranganNya serta qadha dan qadarNya serta kesenantiasaan sabar sehingga menemuiNya
* Di dalam hati manusia ada hajat dan tidak akan terbendung kecuali kecintaan kepadaNya dan bermohon kepadaNya.
* Kesentiasaan berzikir kepadaNya adalah keikhlasan sebenar kepadaNya. . . . . . Andai dunia dan isinya diberikan kepada manusia masih tidak lagi dapat membendunghajat hati sihamba itu.
08.Dalil Halal-Haram Mempelajari Ilmu Tenaga Dalam korelasi dgn alfitrah
Pernah suatu ketika seorang teman menolak ketika saya ajak untuk berlatih tenaga dalam dengan alasan Rasulullaha shalllahualaihiwassalam tidak memiliki tenaga dalam atau tidak pernah mempelajarinya. Namun saya jawab sambiltersenyum, “Dulu Rasululllah shalllahualaihiwassalam pergi ke suatu tempat dengan jalan kaki atau menaiki unta dan tidak pernah naik sedan!”.Bagaimana dengan pendapat Anda? Bolehkah kita mempelajari tenaga dalam/ilmu hikmah/ilmu ghaib menurut ajaran agama Islam? Untuk lebih jelasnya kita perhatikan penjelasan di bawah ini!
a. White Magic
ﻭﻠﺳﻟﻳﻣﻥ ﺍﻠﺭﻴﺢ ﻋﺎ ﺼﻔﺔ ﺗﺠﺭﻱ ﺒﺎ ﻤﺭﻩ ﺍﻠﻰ ﺍﻻﺮﺽ ﺍﻠﺗﻲ ﺒﺭﻜﻧﺎ ﻓﻳﻬﺎ ﻮﻜﻧﺎ ﺒﻛﻝ ﺷﻲﺀ ﻋﻟﻣﻳﻥ
ﻗﻟﻧﺎ ﻴﺎ ﻧﺎ ﺭﻜﻭﻧﻲ ﺒﺭﺪﺍ ﻮﺴﻟﻣﺎ ﻋﻟﻰ ﺍ ﺒﺭﻫﻳﻢ
ﻗﻞ ﺍﻟﺬﻱ ﻋﻧﺩﻩ ﻋﻟﻡ ﻤﻥ ﺍﻠﻜﺏ ﺍﻧﺎ ﺍ ﺗﻳﻚ ﺒﻪ ﻗﺑﻝ ﺍ ﻥ ﻴﺭﺗﺩ ﺍﻠﻳﻚ ﻄﺭﻓﻙ
“Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu” (Q.S.Al-Anbiya`[21]: 81)
“Kami berfirman: ‘Hai api menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”(Q.S.Al-Anbiya`[21]: 69)
“Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari kitab: ‘Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip’…” (Q.S.Al-Naml [27]: 40)
Di dalam Al-Qur`an banyak kisah-kisah tentang orang yang diberi kelebihan oleh Allah subhanhu wata’ala , baik para Nabi dan Rasul yang disebut mu’jizat, bahkan orang-orang yang sholeh yang disebut dengan ilmu hikmah/hikmah saja.
Pada dasarnya ilmu hikmah (white magic) dan tenaga dalam itu sama, bedanya pada cara mendapatkannya.
ilmu hikmah kelebihan yang didapat langsung dari Allah subhnahu wata’ala ,
tenaga dalam didapat dengan cara berlatih pernafasan/meditasi/tirakat/wirid/dsb,
kedua-duanya adalah karunia yang diberikan-Nya kepada hamba-hamba yang ‘alim (memiliki ilmu).
Terlepas dari bahasan ini saya mengajak para Jemaah untuk selalu menuntut ilmu walau sampai ke negeri China, seperti sabda Rasul Muhammad Shallalllahulaihiwassalam dan orang yang berilmu (ilmu apa saja) itu ditinggikan beberapa derajat dari yang tidak berilmu, sedangkan ilmu Allah subhanhu wata’ala itu luas sekali, firman Allah dalam Q.S.Al-Kahfi [18]: 109, “Katakanlah: ‘Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”.
Seluruh ilmu ghaib yang diperoleh dengan cara-cara yang baik termasuk ke dalam kategori white magic, karena pada hakekatnya ilmu-ilmu tersebut bersifat netral, tinggal bagaimana kita menggunakannya, apabila untuk hal yang bersifat baik maka ilmu tersebut akan bernilai baik, dan apabila akan kita gunakan untuk sesuatu yang bersifat jelek/negative maka ia akan bernilai buruk, semua itu terserah kepada empunya.
b. Black Magic
Pada zaman Musa terkenal dengan para tukang sihirnya (black magic), salah satu kisahnya tertera dalam Q.S.Thaha [20]: 57-70. Black magic didapat dengan cara bersekutu dengan jin kafir (Q.S.Al-Jin [72]: 6, 8, 9, 10), dengan menggunakan syarat-syarat tertentu yang mengikat orang tersebut ke dalam perbuatan dosa.
ﻋﻥ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺯﻭﺝ ﺍﻠﻧﺑﻰ ﺺ. ﻡ, ﺍﻧﻬﺎ ﺴﻣﻌﺕ ﺭﺴﻭﻞ ﺍﷲ ﺺ. ﻡ, ﻳﻘﻭﻝ ﺍﻥ ﺍﻠﻣﻼ ﺌﻜﺔ ﺗﻧﺯﻞ ﻓﻰ ﺍﻠﻌﻧﺎ ﻥ ﻭﻫﻭﺍﻟﺳﺣﺎ ﺏ ﻓﺗﺫ ﻜﺭ ﺍﻻﻤﺭ ﻗﺿﻲ ﻓﻰﺍﻠﺳﻣﺎﺀ ﻓﺗﺳﺗﺭﻕ ﺍﻠﺷﻳﺎﻃﻳﻥ ﺍﻠﺳﻣﻊ ﻓﺗﺳﻣﻌﻪ ﻓﺗﻭﺤﻳﻪ ﺍﻠﻰ ﺍﻠﻜﻬﺎ ﻥ ﻓﻳﻜﺫ ﺒﻭﻥ ﻤﻌﻬﺎ ﻤﺎﺌﺔ ﻜﺫ ﺒﺔ ﻤﻥ ﻋﻧﺪ ﺍ ﻧﻔﺴﻬﻢ (ﺼﺣﻳﺢ ﺍﻠﺒﺧﺎ ﺭﻯ)
Dari ‘Aisyah r.a istri Nabi S.A.W ia mendengar Rasul Allah Shalalllahulahiwassalam. bersabda: “Malaikat-malaikat turun ke awan lalu menyebutkan perintah yang diputuskan di langit, syaithan-syaithan dapat mencuri pendengaran, lalu didengarkannya dan ia terus membisikkan kepada peramal, lalu mereka memasukkan ke dalamnya seratus dusta atas kehendaknya sendiri” (Shahih Al-Bukhori)
Para peramal mendapat berita dari jin yang mencuri dengar berita langit, sehingga terkadang bisa mengetahui yang akan terjadi. Allah subhanhu wata’ala sengaja membiarkan hal itu untuk menguji manusia apakah manusia akan yakin dengan Allah subhanu wata’ala atau dengan si peramal? Jika meyakini si peramal maka dia termasuk orang musyrik, begitulah syaithan-syaithan memperdaya manusia.
Berbicara ilmu hitam, maka tidak bisa lepas dari masalah santet. Santet/teluh/tenung yang dikirim oleh tukang tenung, biasanya menggunakan jin untuk memasukkan benda-benda seperti jarum, silet, paku, dsb ke dalam tubuh orang yang dikehendaki. Ada cara mudah untuk mengatasi hal ini, melihat dari cara pengiriman santet yang biasanya dengan salah satu cara di bawah ini:
– Lewat atas/udara, santet jenis ini tidak dapat mencapai target di bawah 60 cm di atas permukaan tanah, dengan tidur di lantai (tanpa dipan) maka insya Allah aman dari santet jenis ini, biasanya jenis ini lebih banyak dipakai oleh para tukang tenung;
– Lewat tanah, santet jenis ini tidak dapat mencapai target yang berada pada ketinggian 60 cm di atas tanah, dengan tidur di atas dipan pada ketinggian di atas ini insya Allah akan selamat, santet jenis ini jarang digunakan dan termasuk ilmu langka.
Namun yang menjadi kendala bagi orang awam adalah tidak mengetahui serangan santet tersebut menggunakan jenis apa. Maka perlu bagi kita memiliki benteng pertahanan yang tidak dapat ditembus dari arah mana saja, salah satunya dengan mempelajari ilmu ini sebagai bentuk ikhtiar kita kepada Allah subhanhu wata’ala sebab jika hanya mengandalkan keimanan saja (pasrah) belum cukup. Banyak kasus pak Haji dan pak kyai kena santet, jangankan mereka, Nabi Muhammad shallalllahualaihi wassalam saja pernah disantet oleh orang yahudi.
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Rasul Allah Shallalllhualaihiwassalam pernah mengalami sakit parah, maka datanglah kepada beliau dua malaikat, yang satu duduk di sebelah kepala beliau dan yang satu lagi di sebelah kaki beliau. Berkatalah malaikat yang duduk di sebelah kaki beliau kepada malaikat yang duduk di sebelah kaki beliau: “Apa yang engkau lihat?”, ia menjawab: “Beliau terkena guna-guna.”. Dia bertanya lagi: “Apa guna-guna itu?”, ia menjawab: “Guna-guna itu sihir!”. Dia bertanya lagi: “Siapa yang membuat sihirnya?”, ia menjawab: “Labid Bin Al-A`Sham Al-Yahudi, yang sihirnya berupa gulungan yang disimpan di dalam sumur keluarga si anu di bawah sebuah batu besar. Datanglah ke sumur itu, timbalah airnya dan angkat batunya, kemudian ambillah gulungannya dan bakarlah!”.
Pada pagi harinya Rasul Allah Shallalllahulaihiwassalam mengutus `Ammar Bin Yasir dan kawan-kawannya. Setibanya di sumur itu, tampaklah airnya merah seperti air pacar. Air itu ditimbanya dan diangkat batunya serta dikeluarkan gulungannya, kemudian dibakar. Ternyata di dalam gulungan itu ada tali yang terdiri atas sebelas simpul. Peristiwa ini berkenaan dengan turunnya surat Al-Falaq dan Al-Nas, setiap kali Rasul Allah mengucap satu ayat terbukalah satu simpulnya (Al-Falaq: 5 ayat, Al-Nas: 6 ayat, total: 11 ayat). Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi di dalam kitab Dala-il Al-Nubuwwah dari kitab Al-Kalbi, dari Abu shalih yang bersumber dari Ibn `Abbas. Peristiwa ini terjadi untuk menegaskan kepada umat Islam bahwa Rasul Allah Muhammad Shallalllahualaihiwassalam adalah manusia biasa yang juga punya kekurangan.
Selain santet, ilmu kedigdayaan yang merupakan ilmu hitam sangat banyak ragamnya, salah satunya adalah Rawa Rontek. Ilmu ini sangat aneh, orang yang memilikinya tidak dapat mati, bila ada bagian tubuhnya yang putus maka akan tersambung kembali. Konon, orang seperti ini hanya bisa mati jika dibunuh tanpa menyentuh tanah dan potongan kepala serta badannya dikubur secara terpisah, mengerikan bukan?
lmu-ilmu yang diperoleh dari cara-cara yang tidak baik, maka ilmu itu akan bernilai buruk. Lalu pertanyaannya adalah bagaimana nilai ilmu tersebut jika digunakan untuk hal-hal yang baik? Hal ini sudah dijelaskan oleh Allah subhanhu wat’ala bahwa jika dasar sesuatu itu buruk maka apapun yang keluar darinya maka akan buruk pula. Maka dasar/pondasi adalah hal yang paling utama, selanjutnya terserah Anda.
Dari kedua jenis ilmu ghaib di atas, tinggal kita yang harus pandai-pandai memilih dan memilah serta pandai menjaga diri dari hal-hal yang berbau kemusyrikan dan yang berlabel haram, bisa jadi ilmu yang kita pelajari bernilai baik pada awalnya namun kemudian menjadi salah ketika terjadi penyimpangan dalam penggunaan (contohnya menggunakan hipnotis untuk merampok) sebab kita diberi af`idah (hati dan pikiran/akal) yang tentunya harus merujuk kepada Al-Qu`an dan Al-Hadits, kedua pegangan ini berperan sebagai ﺍﻠﻣﻘﺩﺍﺭﺍﻠﺤﻖ Al-Miqdar Al-Haqq (standar kebenaran). Satu hal yang harus diingat bahwa yang benar/haq akan menjadi salah/bathal jika tidak tepat waktu, kondisi dan atau tidak pada tempatnya (misal hubungan suami-istri pada: siang hari di bulan puasa; saat istri sedang haid; tempat-tempat umum /terbuka).
Menurut cerita pada tahun 1.000 SM ada sebuah mantera untuk mengobati sakit gigi, oleh orang Assiri malah dikira sebagai penyebab sakit gigi, yang bunyinya:
Dan sesudah Anu menciptakan langit
Dan langit menciptakan bumi
Dan bumi menciptakan sungai
Dan sungai menciptakan kanal
Dan kanal menciptakan rawa
Dan rawa menciptakan cacing
Dan cacing pergi menghadap Shamash, sambil menangis
Air matanya bercucuran di depan Ea:
“Apa yang akan Tuan berikan untuk makananku,
Apa yang akan Tuan berikan untuk minumanku?”
“Aku akan memberi kau buah ara yang kering dan aprikot.”
“Apa artinya semua itu bagiku? Buah ara yang kering dan aprikot!
Angkatlah aku dan di antara gigi dan gusi, biarkan aku tinggal….”
Karena kau sudah mengatakan ini, O cacing,
Semoga Ea menghantam engkau dengan kekuatan tangannya!
Mantera ini dibaca tiga kali pada bir mutu kelas dua dicampur minyak, kemudian dioleskan di atas gigi. Begitulah orang-orang zaman itu mengobati sakit gigi dengan menggunakan nama dewa-dewa (Anu, Shamash, dan Ea), ini menandakan magic sudah ada sejak zaman dahulu.
Pada saat saya masih SLTA, seorang teman satu kelas yang pernah mondok di pesantren tradisional, mengerjai pengawas ujian (guru wanita) dengan menggunakan merica, sehingga mengeluarkan cairan dari kemaluannya dengan maksud agar sang pengawas keluar dan ia leluasa membuka buku. Setelah selesai ujian ketika saya tanyakan ilmu dari mana dia bilang dari kyai pondoknya. Kalau kita pikir kok seorang kyai pondok pesantren mengajarkan hal yang dilarang agama dan sebenarnya cara-cara tersebut pernah juga saya baca dalam sebuah buku tentang ilmu ghaib dengan sub judul yang seronok dan tanpa penjelasan maksud yang sesungguhnya. Kemungkinan tujuan awal dari ilmu itu adalah untuk para istri yang frigiditas (dingin sex) namun kemudian disalahgunakan, atau salah dalam penyampaian dari sang kyai sehingga tidak dipahami santri-santrinya dan dibuat main-main.
Hal-hal semacam itulah yang terkadang menjadikan orang memandang salah sampai men-vonis haram untuk semua jenis tenaga dalam/ilmu ghaib. Ini yang harus diluruskan, jangan sampai “karena nila setitik rusak susu sebelanga”. Dan jadikanlah dalam belajar tenaga dalam sebagai media dakwah dan memberikan contoh-contoh yang baik sehingga akan terkikis habis citra buruknya di mata masyarakat.
Kalau kita melihat dari segi manfaat dalam kesehatan, latihan tenaga dalam pernafasan, sangatlah baik untuk kesehatan bahkan untuk terapi pengobatan, dan yang namanya sehat sangat dianjurkan oleh siapapun serta tidak ada satu dalilpun yang melarang. Dari segi beladiripun Rasul Allah pernah bersabda, “Ajarilah anak-anakmu memanah, bergulat, berkuda dan berenang” sebab Allah subhanhu wata’ala menyukai muslim yang kuat dan tangguh.
09.Rahasia-Rahasia Keistimewaan, Keutamaan & Mukjizat Ayat Kursi.
-Makanan yang tampak sedikit ternyata mampu mencukupi oleh sekian banyak para sahabat dan semuanya merasa kenyang.
-Orang-orang yg mengucapkan ” Laa Ilaaha illallah ” tidak akan pernah meninggal dunia dalam keadaan menderita, juga pada saat dibangkitkan kembali
Banyak hal yang terkandung dalam ayat kursi dan banyak rahasia yang ada di dalamnya.
Di sebutkan dalam beberapa hadits Rasulullah Muhammad Shalllahulahiwassalam ,betapa banyaknya manfaat Ayat Kursi, keistimewaannya, khasiat dan mukjizatnya yang di dapat oleh orang yg mengamalkannya.
Adalah tidak mungkin kita dapat mengungkap seluruh isi dan kandungannya.
KURSI, MAKNA DAN KEDUDUKANNYA.
Para Ulama memberikan makna “kursi” yang berbeda-beda, tetapi sesungguhnya satu dengan yang lain saling mengokohkan.
Ada 4 penafsiran kata “kursi” yaitu :
1. Kursi adalah ruangan besar yang kapasitasnya melebihi langit dan bumi.
2. Kursi adalah pemerintahan, kekuasaan & kerajaan Allah Subhnahuwata’ala
3. Kursi adalah ilmu karena ilmu merupakan bagian dari Sifatullah. Dengan ilmu Allah Subhnahuwata’ala mengatur makhluk yang diciptakan-Nya.
4. Kursi adalah simbol dari betapa keagungan dan kebesaran Allah Subhnahuwata’ala .
Alhasil dari 4 penafsiran di atas dapat diambil kesimpulan bahwa ” Kursi merupakan pondasi kebijakan /hukum Allah subhnahuwata’ala dan simbol dari kekuasaan-Nya. Dan ayat kursi merupakan ayat yang memberikan petunjuk atas ketuhanan Allah secara mutlak”.
SYAFAAT, MAKNA & KEDUDUKANNYA.
Syafaat artinya pertolongan, oleh karena itu pertolongan secara mutlak milik Allah Subhnahuwata’ala . Tetapi dengan sifat Rahman dan Rahim-Nya Allah memberikan pertolongan dapat melalui beberapa wasilah diantaranya :
1. Melalui Rasulullah shalllhualahiwassalam , secara khusus Allah subhnahuwata’ala memberikan syafaat kepada Rasulullah shalllahulahiwassalam di saat siapapun dan amal apapun tidak berguna bagi seseorang yaitu dihari Yaumil Hisab. Dengan izin Allah swt Rasulullah shalllahulahiwassalam akan memberikan syafaat kepada umatnya yang punya masalah dan dosa besar.
2. Melalui amal sholeh. Amal yang dikerjakan dengan benar dan ikhlas dapat menjadi penolong di saat seseorang mengalami kesulitan hidup.
3. Melalui zikir dan bacaan. Kalimat thoyyibah, bacaan Al-quran, istighfar, tasbih dan zikir-zikir yang lain akan menjadi penolong di saat seseorang dalam kesulitan, kesedihan dan kekalutan dalam hidup.
KEAGUNGAN KURSI ALLAH SUBHNAHUWATA’ALA .
Rasulullah shallallahualahiwassalam berkata kepada Abu Dzar : Hai Abu Dzar, perbandingan langit yang tujuh dan bumi yang tujuh dengan ayat kursi itu bagaikan lingkaran yang diletakkan dipadang luas. Bumi dan langit ibarat lingkaran kecil dan ayat kursi adalah padang luas membentang yang tidak berujung. Perbandingan langit yang tujuh di gabung dengan bumi yang tujuh dan kursi disatu sisi dengan Arsyullah disisi lain bagaikan lingkaran ditengah padang luas. Keutamaan Arsyullah dengan Kursi seperti keutamaan padang luas dengan lingkaran kecil.
Imam Ali Bin Abi Tholib berkata
“Kursi Allah adalah berlian dan pena (kalam) Allah juga berlian. Panjang pena sama dengan perjalanan 70 tahun dan panjang kursi tidak diketahui kecuali orang-orang yang diberi ilmu”.
Imam As-Suddy berkata :
“Langit dan bumi ada di dalam Kursi yang di dekat Arsy. Para malaikat penjaga Arsy dan malaikat panjaga Kursi terhalang oleh 70 hijab kegelapan dan 70 hijab cahaya. Ketebalan setiap hijab sama dengan perjalanan 500 tahun. Kalaulah tidak ada hijab tersebut maka malaikat penjaga Kursi terbakar oleh cahaya malaikat penjaga Arsy”.
Ikrimah berkata “Matahari merupakan satu bagian dari 70 cahaya Kursi sedangkan Kursi merupakan satu bagian dari 70 cahaya Arsy”.
BILANGAN DALAM AYAT KURSI.
Ketahuilah bahwa setiap bilangan yang ditentukan oleh Allah Subhnahuwata’ala mempunyai nilai keberkahan yang luar biasa. Bilangan-bilangan yang telah di tetapkan oleh Allah subhnahuwata’ala dan Rasulullah shalahualahiwassalam dalam berbagai keterangan sungguh sangat banyak dan semua itu terkait dengan rahasia kebesaran Allah subhnahuwata’ala . Jika kita mengikutinya maka rahasia itu dengan seizin-Nya akan terbuka, misalnya :
Alquran terdiri dari 144 surat, 6236 ayat, 77.437 kata dan 340.740 huruf, dengan surat yang terpanjang adalah surat Al-Baqoroh terdiri dari 286 ayat.
Jumlah para Rasul 313 orang. Jumlah para Nabi 120.000 orang. Jumlah pasukan Perang Badar 313 orang, dll.
Begitu juga dengan ayat kursi yang terdiri dari :
9 anak kalimat sempurna, 50 kata, 187 huruf dan 236 karakter.
Dalam suatu amaliyah ayat kursi memiliki bilangan khusus yaitu
1,3,7,9,11,41,70,99,100,187,236,300,313,333,777,1000,1707,4000 dan 70.000.
Namun dari Jumhur Ulama banyak yang menyarankan untuk mengamalkannya sebanyak 1000x setiap siang dan malam.
Tidak ada orang yang mengetahui sebuah rahasia sebelum mengalami.
Kalau dia bisa berbicara itu hanya sebatas kata orang.
Tidak ada orang yang mengalami kecuali telah mengalami percobaan. Tidak ada percobaan yg berhasil kecuali dilakukan berulang-ulang.
TURUNNYA AYAT KURSI YANG MULIA.
Betapa dahsyatnya mukjizat ayat kursi. Pada saat di turunkan:
syetan bertabrakan, saling berbenturan karena kepanasan dan kebingungan.
Ayat Kursi diturunkan kepada Rasulullah Muhammmad shalllahulahiwassalam pada malam hari. Saat itu juga Rasulullah saw memanggil Zaid Bin Tsabit untuk menulisnya.
Di riwayatkan oleh Muhammad Bin Al-Hanafiyah bahwa sesudah ayat kursi turun seluruh berhala di dunia berjatuhan, seluruh malaikat bersujud, seluruh penguasa menjatuhkan wajahnya ke bumi, mahkota yang tersungging di kepala para pembesar berjatuhan, syetan berlarian kebingungan, bertabrakan, takut dan kepanasan.
Kemudian para syetan melapor kepada Iblis memberi tahu keadaan dunia yang menggemparkan. Sang Iblis memerintahkan para syetan untuk mencari tahu apa penyebabnya. Maka para syetan berdatangan ke Madinah dimana Rasulullah shalllahulahiwassalam tingggal disana.
Mereka mendapat berita bahwa “Ayat Kursi” telah diturunkan Allah subhnahuwata’ala dan itulah penyebab utamanya.
DAHSYATNYA AYAT KURSI.
Ayat kursi dimulai dari lafaz Lafdzul Jalalah (Allah) dan diakhiri oleh Sifatullah (Al- ‟Azhiim).
Ini menandakan bahwa kehidupan harus bersama Allah subhnahuwata’ala ketika hendak memulai dan mengakhiri sesuatu.
Sungguh menakjubkan wahai saudaraku ! betapa dahsyatnya ayat kursi . Seandainya kita dapat bersenyawa dengannya maka ada jaminan oleh Allah Subhnahuwata’ala tidak ada ketakutan, kegelisahan dan kesulitan.
Berikut takjubnya ayat kursi :
– Saudara akan mendapatkan apa yang saudara inginkan.
– Saudara tidak akan takut miskin karena ayat kursi akan menjadi sumber kekayaan.
– Saudara tidak akan takut kekurangan karena ayat kursi menjadi kecukupan.
– Saudara tidak akan takut musuh karena ayat kursi akan menghadirkan bala bantuan.
– Saudara tidak akan takut sendirian karena ayat kursi akan menjadi teman di manapun.
– Saudara tidak akan takut melarat karena ayat kursi menghadirkan kelimpahan.
Sekarang marilah bangkitkan dan bangun gagasan untuk memperbaiki hidup dan pancangkan semangat untuk merubah nasib dan hidupkan harapan untuk menjadi orang yang berhasil.
PAHALA MEMBACA AYAT KURSI.
Kebanyakan manusia baru percaya setelah melihat fakta. Padahal janji Allah dan fakta kebesaran-Nya tidak selalu selamanya terlihat dengan mata telanjang. Orang- orang yang hebat dan bermartabat tinggi mereka justeru lebih banyak melihat fakta yg sesungguhnya dengan mata hati bukan pandangan mata karena mata hati dijamin kebenarannya.
Kelompok inilah yang tahu persis bahwa setiap perbuatan sebenarnya dibalas oleh Allah subhnahuwataa’ala dengan segera. Abu Abdillah berkata :
” Ayat kursi ini diturunkan oleh Allah Yang Maha Agung. Allah subhnahuwata’ala wmenjadikan pahala ayat kursi bagi yang membacanya. Pahala yang diberikan itu dengan segera dan nanti. Adapun balasan yang disegerakan yaitu bahwa ayat kursi akan menjaga orang yang membacanya dari berbagai macam bencana “.
GUDANG KEKAYAAN ALLAH SUBHNAHUWATA’ALA
Dari Ibnu Abbas berkata : Adalah rasulullah shalllahulahiwassalam apabila membaca akhir Surat Al- Baqoroh dan ayat kursi selalu tertawa dan beliau bersabda
” Sesungguhnya kedua ayat tersebut merupakan gudang kekayaan Allah Yang Maha Pengasih yang ada di bawah Arsy “.
Diriwayatkan dari Imam Abu hamid Bin Muhammad Al-Gozhali berkata
” Ayat kursi merupakan ayat yang diberkahi, tidak ada yang membukakan kesulitan, menyingkirkan bencana dan menghilangkan kesedihan lebih cepat daripada ayat kursi “.
Saudaraku sungguh asma-Nya sumber dari seluruh kebaikan. Sifat-Nya adalah samudera akhlak kehidupan seluruh makhluk-Nya.
Ada satu ayat dalam Al-Qur‟an yang tidak terlalu panjang namun mencakup seluruh asma dan sifat-Nya, dialah Ayat Kursi.-
Saudara jangan bertanya” berapa luas ayat kursi ” karena luasnya tak bisa dilihat dengan ukuran panjang.
– Saudara jangan bertanya” apa isinya ” karena isinya tak tertampung oleh langit dan bumi.
– Saudara jangan bertanya“apa saja khasiatnya” karena khasiatnya luar biasa di sebabkan Rasulullah shalllahulhiwassalam membacanya seumur hidup untuk berbagai masalah.
– Saudara jangan bertanyaapa saja mukjizatnya” karena para nabi dan rasul, shiddiqin, wali dan juga abdush sholihin telah membuktikan beraneka ragam mukjizat dan keajaibannya.
1. AYAT KURSI ( AYAT KEKUASAAN ).
Dinamakan Ayat Kursi karena di dalamnya ada kata “KURSI” . Di sebut dalam hadits bahwa
” Allah menciptakan Kursi yang dikelilingi oleh 7 langit dan 7 bumi. Kursi bagai sebuah lingkaran yang ada ditengah-tengahnya padang luas. Dikirinya ada 10.000 Kursi dan dikanannya juga ada 10.000. Diatas setiap Kursi ada malaikat yang duduk membaca Ayat Kursi & mencatat pahala orang-orang yang membaca Ayat Kursi. Allah juga memerintahkan pena untuk mencatat Ayat Kursi dan pahalanya. Barangsiapa yang melanggengkan membaca Ayat Kursi, Allah berikan pahala sebesar Ayat Kursi pada hari kiamat “.
2. AYAT AZHIMAH { AYAT PALING AGUNG }
Disebutkan dalam hadits dari Ubay bin Kaab berkata, Rasulullah saw bersabda ” Hai Abu Mundzir ayat azhimah (agung) apa yang sudah kamu hafal ? Dia menjawab ” Allah dan Rasul-Nya yang paling mengetahui. Rasulullah shalllahulahiwassalam bersabda ” Ketahuilah bahwa Ayat Azhimah adalah Allahu Laa Ilaaha Illa Huwal Hayyul Qoyyum. Dalam sebuah riwayat Rasulullah mengulanginya sebanyak 3 kali lalu menepuk dada Abu Mundzir.
Ar-Rabi‟ bin Abdullah Al-Kalai berkata ” Seseorang bertanya pada Rasulullah shalllahulahiwassalam , Wahai
Rasulullah ayat mana yang paling agung dalam Al-Quran ? Rasulullah shalllahulahiwassalam menjawab
Ars, tidak ada ” Dialah ayat kursi. Orang itu bertanya lagi ” Ayat apa yang paling menyenangkan bagi Rasul dan umatnya ? Rasul menjawab ” Akhir surat Al-Baqarah dan ayat kursi karena keduanya adalah gudang rahmat yang ada dibawah kebaikan di dunia dan akhirat kecuali terkandung di dalamnya “.
Nabi shalllahulahiwassalam bersabda :
” Sesungguhnya ayat yang paling agung dalam Al-Quran adalah Ayat Kursi. Barangsiapa yg membacanya Allah mengutus malaikat untuk menulis kebaikannya dan menghapus keburukannya sampai besok terhitung dari saat dia membaca “.
Syaikh Ali Al-Buni berkata :
” Orang yang membaca Ayat Kursi akan di taati oleh makhluk yang ada disekitarnya . Tidak satupun dari makhluk Allah yang membahayakan dirinya, baik berupa perkataan maupun perbuatan sepanjang tahun. Seorang pemimpin yang melanggengkan membaca Ayat Kursi dia akan ditaati pengikutnya “.
AYAT SAYYIDAH { AYAT PENGHULU AL-QURAN } Dari Abu Hurairah berkata Rasulullah shalllahulahiwassalam bersabda
” Segala sesuatu pasti ada yang lebih unggul dan lebih tinggi. Sesungguhnya yang lebih unggul dan lebih tinggi dari Al-Quran adalah Surat Al-Baqarah. Dan di dalam Surat Al-Baqarah ada ayat yaitu Penghulu Ayat-Ayat Al-Quran, dialah Ayat Kursi “.Rasulullah shalllahulahiwassalamw bersabda pada Sahabat Ali bin Abi Tholib
” Hai Ali penghulu manusia adalah Adam, penghulu orang arab adalah Muhammad, penghulu orang persia adalah Salman, penghulu orang Rum adalah (Yordan, Palestina, Siria dan Afghan) adalah Suhaib, penghulu orang Habbasyah adalah Bilal, penghulu gunung adalah Thursina, penghulu pohon adalah Bidara, penghulu bulan adalah Muharram, penghulu hari adalah Jum‟at, penghulu ucapan adalah Al- Quran, penghulu Al-Quran adalah Ayat Kursi. Didalam Ayat Kursi ada 50 kata dan setiap kata ada 50 keberkahan “. { H.R. Ad-Dailami }
Dalam hal ini Ad-Sailami mengatakan „ Barangsiapa yang melanggengkan membaca Ayat Kursi maka orang itu akan memperoleh kemuliaan, jadilah ia sebagai penghulu diantara umat manusia. Maka bacalah dengan langgeng sesuai dengan bilangan kalimat atau hurufnya setiap hari, Insya Allah akan mendapatkan kemuliaan dalam diri “.
AYAT FADHILAH { AYAT PALING UTAMA }
Fadhilah artinya keutamaan. Keutamaan adalah anugerah yang paling indah. Orang yang diberi keutamaan derajatnya lebih tinggi. Orang yang memiliki keutamaan posisinya jauh lebih baik dan terhotmat dari yang lain.
Ayat Kursi disebut Ayat Fadhilah karena memiliki keutamaan yang lebih dari ayat- ayat lainnya. Keutamaannya tidak hanya pada redaksinya yang mengagumkan dan kandungan yang menjadi asas kebijaksanaan Allah tetapi juga bagi orang yg membacanya. Para Ulama menyatakan kedudukannya sama dengan 1/3 Al-Quran. Dari Rabiah bin Harits berkata Rasulullah shalllahulahiwassalam ditanya ” Wahai Rasul surat Al-Quran mana yang paling utama ? Rasulullah shallahulahiwassalam menjawab ” Surat yang di dalamnya disebut Al-Baqarah. Beliau ditanya lagi ” Ayat mana dari Surat Al-Baqarah yang paling utama ? Rasulullah shalllahulahiwassalam menjawab ” Ayat Kursi dan akhir surat Al-Baqarah yang turun langsung dari bawah Arsy “.
Dikisahkan dari Al-Hasan bahwa seseorang mempunyai saudara yang sudah meninggal dunia. Pada suatu malam dia bertemu dalam mimpi dan terjadilah dialog. ” Saudaraku amal-amal apa yang paling mulia dan kamu rasakan nikmatnya ? ” Tanya yang masih hidup.
” Al-Quran”, jawab yang sudah wafat.
” Ayat Al-Quran mana yang paling utama ? “ ” Ayat Kursi “
” Saudaraku adakah sesuatu yang kamu sampaikan kepada kami yang masih hidup ? “
Dia berkata ” Benar sesungguhnya kamu semua masih dapat melakukannya tetapi kamu tidak tahu. Sedangkan aku sudah tahu tetapi tidak dapat melakukannya “.
5. AYAT SYARIFAH { AYAT PALING MULIA }
Syarifah artinya mulia dan berkedudukan tinggi. Kemuliaan Ayat Kursi ini dibuktikan oleh Allah dengan dikeluarkannya dari Arsy dan turunnya disertai pengawalan 70.000 malaikat.
Tidak seorangpun yang membaca Ayat Kursi kecuali malaikat datang mendengarkan dan berdiri menghormat padanya.
Abu Dzar Al-Ghifari bertanya kepada Rasulullah shakllahualahiwassalam
” Wahai Rasullullah ayat Al- Quran mana yang paling mulia ? Rasulullah menjawab ” Ayat Kursi, langit dan bumi jika dibandingkan dengan Kursi bagaikan mangkok yang diletakkan di padang tanah yang luas, dimana mangkoknya adalah langit dan bumi sedangkan padang tanahnya adalah Ayat Kursi. Seandainya langit dan bumi dan seluruh yang ada di dalamnya dikumpulkan dan diletakkan dalam satu sisi neraca dan di sisi lain adalah Ayat Kursi tentu masih berat timbangan Ayat Kursi “.
Syaikh Muhammad bin Asmuni dalam Tafsir Ayat Kursi mengatakan
” Zikir, mukjizatnya akan hadir sesuai dengan inti dan makna kata yang dizikirkan. Ilmu, mukjizatnya akan hadir setelah diamalkan. Bila zikir yang dibaca adalah zikir mulia dan ilmu yang diamalkan adalah ilmu mulia yaitu Ayat Kursi maka Allah akan memberikan penghasilan yang berlimpah.
Barangsiapa mengistiqomahkan Ayat Kursi maka dia akan dimuliakan, dihormati, dan disegani oleh orang-orang yang disekitarnya. Di sisi Allah tidak diragukan lagi mendapat tempat yang sangat terhormat “.
AYAT DZARWAH { AYAT PALING PUNCAK }
Dzarwah artinya puncak yaitu ujung tertinggi dan sesudahnya tidak ada lagi. Ayat Kursi disebut Ayat paling Puncak karena tidak ada lagi ayat yang lebih tinggi darinya.
Ma‟qql bin Yasar berkata, Rasulullah shalllahulahiwassalam berasbda ” Al-Baqarah adalah puncaknya Al-Quran dan puncaknya Al-Baqarah adalah Ayat Kursi. Dalam setiap ayat turun bersamanya 70.000 malaikat dan Ayat Kursi dikeluarkan dari gudang kekayaan Allah yang ada dibawah Arsy lalu digabung dengan Surat Al-Baqarah “. Subhaanallaah………….! Bagaimana jika 70.000 malaikat tersebut mengaminkan doa orang yang istiqomah dalam membaca Ayat Kursi…..?
AYAT AL-FATAH { AYAT PEMBUKAAN }
Ayat Kursi disebuat Ayat Al-Fatah karena ayat ini merupakan awal dari seluruh ayat dan kemenangan dalam perjuangan. Banyak kemenangan yang dicapai oleh Rasulullah dalam menghadapi musuh musuhnya. Banyak jalan dibuka oleh Allah subhnahuwata’ala ketika Rasulullah menghadapi berbagai kesulitan. Rasulullah tidak pernah berhenti berzikir Ayat Kursi.
Rasulullah shalllahulahiwassalam bersabda
” Sesungguhnya Allah Subhnahuwata’ala menciptakan mutiara putih. Dan mutiara itu sendiri diproses dari lendir kekuning-kuningan (tinta emas). Dan lendir itu dipakai untuk menulis Ayat Kursi. Allah bersumpah demi keperkasaan-Nya dan demi kekuasaan- Nya sesungguhnya barangsiapa yang belajar Ayat Kursi dan tahu hak-haknya Allah akan membuka 8 pintu syurga untuknya, masuk pintu yang mana saja dipersilahkan “.
Ali bin Abi Tholib berkata ” Ketika terjadi Perang Badar aku mendatangi Rasulullah ingin melihat apa yang dikerjakan. Ternyata Rasulullah bersujud dan mengucapkan ” Yaa hayyu Yaa qoyyum ” tidak lebih dari itu,lalu aku meninggalkannya dan kembali ke medan perang.
Untuk yang kedua kalinya aku datangi Rasulullah kudapati beliau masih sujud membaca ” Yaa hayyu Yaa qoyyum “. Berkali-kali aku datang dan pergi, Rasulullah tetap seperti itu, sampai Allah memberikan kemenangan yang gemilang “.
AYAT AN-NAMA‟ ( AYAT PENGEMBANGAN )
Diriwayatkan oleh Aisyah, bahwa suatu hari ada seorang yang datang kapada Rasulullah shalllahulahiwassalam dan mengadukan bahwa dirumahnya tdk ada keberkahan. Maka Rasulullah bertanya.
” Dimana kamu menempatkan Ayat Kursi itu ? Tidak ada makanan dan lauk pauk atau apapun juga yang kamu bacakan Ayat Kursi kecuali Allah subhnahuwaat’ala mengembangkan Keberkahan hanya diberikan oleh Allah ketika membaca Ayat Kursi dalam semua bidang. Berkah merupakan kebaikan yang banyak dan selalu bertambah. Tidak seorang pun yang tidak ingin memperoleh keberkahan. Kita ingin berkah rumah tangga, anak dan cucu, harta, penghasilan, pekerjaan dll.
Saudara tentu pernah mendengar mukjizat Rasulullah ketika sedang menyiapkan parit untuk menghadapi kaum musyrikin dalam perang Khanzaq.
Makanan yang tampak sedikit ternyata mampu mencukupi oleh sekian banyak para sahabat dan semuanya merasa kenyang.
AYAT MUQODDASAH ( AYAT YANG DISUCIKAN )
Muqaddasah artinya disucikan karena para malaikat khususnya penjaga Arsyullah selalu menyucikannya.
Rasulullah shalllahulahiwassalam bersabda ” Demi Zat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya sesungguhnya Ayat Kursi ini mempunyai 1 lidah dan 2 bibir. Para malaikat yang menjaga Arsy senantiasa menyucikannya “. ( H.R. At-Tirmidzi )
Ayat Kursi memiliki 1 lidah dan 2 bibir artinya Ayat ini bukanlah benda mati yang tidak memiliki kekuatan apapun. Ayat Kursi , jika diamalkan oleh orang yang beriman dan haqqul yaqin maka akan memberikan reaksi balik yang maha dahsyat.
Setiap huruf yang ada dalam Ayat Kursi dijadikan oleh Allah ada malaikat yang senantiasa menjaganya dan dia akan memberikan umpan balik kepada yang membacanya dengan kekuatan yang lebih dahsyat lagi.
Ayat Kursi adalah ayat yang disucikan oleh para malaikat. Kesuciannya menjadi poros yang bergerak menyucikan siapa saja yang mengistiqomahkannya. Mereka yang membacanya akan disucikan oleh Allah karena pada hakikatnya Ayat Kursi adalah ayat untuk menyucikan Allah dengan pemurnian dalam tauhid Uluhiyah, Ubudiyah dan Rububiyah.
AYAT SHIFATULLAH ( AYAT SIFAT ALLAH ).
Ketika Rasulullah diperjalankan pada malam Mi‟raj, beliau bersabda
” Aku melihat Lauhil ( papan besar ) disana ada 3 cahaya ditempat yang berbeda-beda. Lalu aku bertanya ” Ya Allah apa itu 3 cahaya ? ” Allah menjawab
” Itu adalah tempat Ayat Kursi, Yasin dan Al-ikhlas “.
Rasulullah bertanya ” Apa pahala Ayat Kursi ? ” Allah menjawab ”
Ayat Kursi adalah sifat-Ku, barangsiapa yang membacanya sekali saja dia akan melihat wajah-Ku di hari kiamat nanti, lalu Allah berfirman ” Wajah orang- orang yang beriman pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat. ( Q.S. Al-Qiyamah 22-23 ) “.
AYAT AT-TAUHID ( AYAT PEMURNIAN ALLAH ).
Ibnu Arabi berkata ” Mengapa Ayat Kursi disebut ayat yang paling agung ? Itu karena kandunganya yang sangat agung dan luar biasa.
Didalamnya terkandung kalimat Tauhid „ Laa Ilaaha Illaa Huwa „. Kata ganti ” Huwa ” lebih dahsyat daripada lafzul jalalah ” Allah “. Zhamir ” Huwa ” menurut ahli thoriqoh lebih dekat dihati dan yang sangat dekat lagi adalah Zhamir ” Hu “. Bahkan Zhamir ” Hu ” itu sendiri adalah inti dari hati “.
Membaca Ayat Kursi sama dengan mempertebal tauhid. Orang yang tauhidnya baik maka ada jaminan masuk syurga, dialah yang hidup dan mati berpegang pada kaliamat ” Laa Ilaaha Illallah “.
Diriwayatkan dari Ibnu Umar, dari Rasulullah shalllahulahiwssalam bersabda”
Orang-orang yg mengucapkan ” Laa Ilaaha illallah ” tidak akan pernah meninggal dunia dalam keadaan menderita, juga pada saat dibangkitkan kembali “.
Dari An-Nasaiburi, dari kakeknya berkata, dari Rasulullah shalllahulahiwassalam , dari Jibril as berkata ” sesungguhnya Allah berfirman ” Kalimat laa ilaaha illallah adalah perlindungan-Ku, barangsiapa yang masuk dalam perlindungan-Ku dia akan selamat dari siksa-Ku “.
AYAT AL-ISTIGHATSAH ( AYAT PERMOHONAN )
Dalam Q.S. Al-Anfal ayat 9 Allah berfirman
” Ingatlah ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu. Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan 1000 malaikat yang datang berturut-turut “.
Dari Umar Bin Khatthab ra berkata ” Pada hari terjadinya Perang Badar, Rasulullah saw melihat sahat-sahabatnya yang hanya berjumlah 313 orang dan melihat kaum musyrikin yang jumlahnya 1300 orang. Maka Rasulullah saw menghadap kiblat,selendang dan sorbannya menempel dipundaknya, kemudian berdoa ” Ya Allah penuhilah untukku apa yang telah Engkau janjikan ! Jika hari Engkau hancurkan kelompok umat islam ini maka Engkau tidak akan disembah di muka bumi untuk selamanya “. Rasulullah terus menerus memohon pada Tuhannya dan berdoa sampai selendangnya jatuh dari pundaknya. Abu Bkar mendatangi Rasulullah dan mengambil selendang itu dan dikembalikan kepundaknya sambil terus mengikuti dari belakangnya. Abu Bakar berkata ” Wahai Nabiyullah, cukuplah pengaduanmmu kepada Tuhan, Dia akan memenuhi apa yang dijanjikan kepadamu “.
Maka pada saat itu turun wahyu Q.S. Al-Anfal ayat 9. Dan pada saat petempuran terjadi Allah menghancurkan kaum musyrikin. Dari kaum musyrikin terbunuh 70 orang dan 70 orang menjadi tawanan “.
Ayat Kursi disebut Ayat Istighotsah karena orang yang membacanya akan mendapat pertolongan Allah sebagaimana tertulis dalam Kitab Al-Firdaus Al-Khittab yang artinya dari Qatadah, dari Rasulullah saw bersabda
” Barangsiapa yang membaca Ayat Kursi disaat mendapatkan kesusahan maka Allah akan menolongnya “.
AYAT AL-ISTI‟ANAH ( AYAT PETOLONGAN )
Diriwayatkan oleh Ibnu As-Sunni dari qatadah berkata bahwa Rasulullah saw bersabda
” Barangsiapa yang membaca Ayat Kursi dan akhir surat Al-Baqarah ketika mendapatkan kesulitan maka Allah akan menghilangkan kesulitannya “.
Syaikh Ahmad Ali Al-Buni berkata
” Barangsiapa yang membaca Ayat Kursi sebanyak bilangan hurufnya ( 187 ) maka Allah akan memberikan pertolongan untuk semua urusan, mengabulkan hajatnya, memberikan cahaya hikmah dalam hatinya, menghindarkan dari segala marabahaya, meluaskan rizkinya dan memperolah apa yang dicarinya “.
AYAT AL-ISTI‟ADZAH ( AYAT PEMBEBASAN )
Disebut Ayat Pembebasan karena dengan membacanya Allah akan membebaskan dan melindungi dari segala macam yang tidak di inginkan.
Diriwayatkan oleh Ubay Bin Ka‟ab ra berkata ” aku berada disebelah Rasulullah saw, ketika ada seseorang Baduwi datang dan berkata ” Wahai Nabiyullah aku mempunyai saudara yang sedang sakit “. Rasulullah bertanya ” Apa yang menimpanya ? Ajaklah dia kemari “. Orang itu lalu pulang dan membawanya menghadap Rasulullah.
Lalu Rasulullah meletakkan tangannya, membaca Ta‟awaudz, Al-Fatihah, 4 ayat pertama Surat Al-Baqarah, ayat Kursi, dan 3 ayat terakhir Surat Al-Baqarah, maka orang itu langsung berdiri seakan tidak terjadi apa- apa “.
AYAT AL-ISTIRJA ( AYAT PENGEMBALIAN )
Disebut demikian karena banyak orang yang telah membuktikan kemujarabannya dalam mengamalkan dengan bilangan khusus maka dia akan mampu kembali kepada kebenaran yang hakiki.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah saw ketika membaca Surat Al- Baqarah dan Ayat Kursi beliau tersenyum, lalu bersabda ” sesungguhnya Ayat Kursi dan akhrir Surat Al-Baqarah dikeluarkan dari gudang yang tersimpan di bawah Arsy, bila dibacakan untuk orang yang berbuat jahat, orang itu mendapatkan balasan kejahatannya, orang itu akan kembali bertaubat dan tenang hidupnya “.
AYAT AL-ISTIJAR ( AYAT PENYELAMAT )
Disebut demikian karena Allah akan menyelamatkan orang yang membacanya dari kejahatan khususnya dari gangguan jin dan syetan .
Seorang mendatangi sebuah pohon kurma, kemudian dia mendengar ada gerakan dan suara yang berbicara, tidak satupun yang menjawab. Orang itu lalu membaca Ayat Kursi dan tiba-tiba syetan dalam bentuk makhluk asing menjatuhi dirinya. Orang itu kesakitan dan berkata ” Kamu telah membuat aku sakit, dengan apa aku harus mengobatinya ? ” Syetan menjawab ” Obatilah dengan bacaan yang membuat aku terjatuh dari pohon ( Ayat Kursi ) “.
Diriwayatkan oleh Ubay Bin Ka‟ab bahwa bapaknya mempunyai sebuah bakul yang berisi makanan. Bakul itu dipelihara dan dijaga agar makanannya tetap utuh. Ternyata makanan itu lama kelaman berkurang. Maka ketika malam datang Ka‟ab mengintai siapa yang mengambil makanan itu. Tanpa diduga Ka‟ab melihat sesosok tubuh yang datang mengambilnya. Sosok yang tidak jelas itu diberi salam dan ditanya ” Kamu siapa ? Apakah kamu jin atau manusia ? Ulurkan tanganmu padaku ! Apa yang mendorong kamu melakukan ini ? “.
Sosok tersebut menjawab ” Aku adalah jin, aku mendengar kamu adalah seorang ahli shodaqoh. Aku ingin mengambil makanan yang hendak kamu hendak sedekahkan “.
Ka‟ab berkata ” apa yang dapat menyelamatkan kami dari kamu ? “
Jin menjawab ” Ayat yang terdapat diakhir surat Al-Baqarah dan Ayat Kursi itulah yang menyelamatkan kamu dari kami.
Barangsiapa yang membacanya pagi hari maka akan selamat hingga sore hari dan jika dibaca sore hari akan selamat hingga pagi hari “.
Ketika pagi tiba Ka‟ab menceritakan apa yang dialaminya malam itu kepada Rasulullah, maka Rasul bersabda ” Benar dia itu adalah syetan “
AYAT AMINAH ( AYAT PENGAMAN )
Disebut demikian karena Ayat Kursi atas izin Allah akan memberikan jaminan pengamanan dari segala sesuatu yang tampak maupun yang ghaib. Keamanan itu diberikan ketika benar-benar dalam ketidak berdayaan.
Diriwayatkan dalam Kitab Sunan Al-Baihaqi, dari Ali Bin Abi Bin Thalib berkata , aku mendengar Rasulullah saw bersabda ” Barangsiapa yang membaca Ayat Kursi ketika hendak tidur , maka Allah akan mengamankan rumahnya, rumah tetangganya dan rumah-rumah terdekat disekitarnya “.
18. AYAT NAFI‟AH ( AYAT PEMBERI MANFAAT )
Disebut ayat pemberi manfaat karena orang yang membacanya dijamin mendapatkan manfaat dari ayat ini.
Dari Ali Bin Abi Tholib berkata bahwa Rasulullah saw bersabda ”
Barangsiapa yang membaca Ayat Kursi ketika melakukan pengobatan bekam, maka manfaatnya sungguh sangat besar, 2 kali dibandingkan bekam biasa tanpa dibacakan Ayat Kursi “.
AYAT HAFIZHAH ( AYAT PEMELIHARA ).
Diriwayatkan dari Ibnu mas‟ud ra bahwa seseorang berkata kepada Rasulullah ” Wahai Rasulullah ! Ajarkan aku sesuatu yang membuat Allah berkenan memberikan manfaat dalam hidupku ! ” Rasulullah menjawab „ Bacalah Ayat Kursi ! Sesungguhnya dia akan memelihara kamu dan keluargamu,memelihara rumahmu dan rumah-rumah yang ada disekitar rumah kamu “.
Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Anas bahwa Rasulullah saw bersabda
” Barangsiapa yang membaca Ayat Kursi setiap selesai sholat fardhu maka Allah akan memeliharanya sampai tiba waktu sholat berikutnya.
Barangsiapa yang mengistiqomahkan maka ia akan dicatat sebagai seorang Nabi. Shiddiqin dan syahidin “.
Dari Qatadah ra, dari Nabi saw bersabda
” Barangsiapa yang membaca Ayat Kursi ketika mau tidur maka Allah kirimkan 2 malaikat untuk menjaganya hingga pagi hari “.
AYAT HARITSAH ( AYAT PENJAGA )
Diriwayatkan bahwa Abdurrahman Bin Auf ketika hendak masuk rumah membaca
Ayat Kursi di 4 sudut rumahnya. Dia lakukan itu agar rumahnya selalu dijaga dan dijauhkan dari kejahatan syetan.
Syaikh Al-Buni berkata ” Barangsiapa yang membaca
Ayat Kursi ketika keluar rumah maka keperluannya akan dikabulkan oleh Allah, diampuni dosanya, syetan lari menjauhinya, Allah menyerahkan dirinya dijaga oleh malaikat dari setiap keburukan, gangguan jin dan manusia dan dari seluruh yang ditakutkan “.
Dari Abu Hurairah berkata,
Rasulullah saw bersabda ”
Barangsiapa yang keluar rumah membaca Ayat Kursi maka Allah mengirimkan 70.000 malaikat memohonkan ampun dan mendoakan untuknya.
Barangsiapa yang pulang ke rumah dan membaca Ayat Kursi, Allah akan cabut kemiskinan dari pandangan matanya “.
AYAT AL-WAQIAH ( AYAT PELINDUNG )
Dari Anas bin malik ra bahwa Rasulullah saw bersabda
” Tidak seorang pun dari umatku yang pada subuh Jum‟at membaca Ayat Kursi sebanyak 12 x kemudian berwudhu dan sholat 2 rakaat, kecuali Allah memberikan perlindungan dirinya dari kejahatan syetan dan penguasa. Dan dia memiliki kedudukan sama dengan orang yang Khatam Quran 3 x , di hari kiamat nanti diberikan mahkota dari cahaya yang mampu menerangi orang-orang yang kebingungan “
.Barangsiapa yang membacanya pada pagi hari maka penghulu malaikat mendatanginya dan memenuhi apa yang menjadi keinginannya.
AYAT MAHIYAH ( AYAT PENGHAPUS )
Diriwayatkan dari Rasulullah saw bahwa ” Sesungguhnya ayat yang paling agung dalam Al-quran adalah Ayat Kursi. Barangsiapa yang membaca Ayat Kursi,
maka Allah akan mengutus malaikat untuk menuliskan seluruh kebaikannya dan menghapus seluruh keburukannya sejak saat itu sampai esok harinya “
AYAT DAFI‟AH ( AYAT PENOLAK BALA )
Barangsiapa yang membaca Ayat Kursi maka
Allah akan menolak seluruh bala, penyakit dan berbagai macam akhlak tercela, syetan akan keluar dari rumahnya dan keberkahan akan mendatanginya.
Abu Muhammad As-Samarqandi berkata, bahwa Ka‟ab Bin Al-Akhbar berkata
” Barangsiapa yang membiasakan diri membaca Al-Ikhlas dan Ayat Kursi sebanyak 10 x dimalam hari atau siang hari maka dia akan mendapatkan Ridho Allah yang besar, dia akan berkumpul dengan para Nabi di padang Mahsyar dan terpelihara dari syetan “.
Dari Ali Bin Abi Thalib, dari Rasulullah saw bersabda ”
Tidaklah ayat ini dibaca di dalam rumah kecuali syetan lari tunggang langgang meninggalkan rumah itu selama 30 hari dan tidak akan pernah ada sihir yang masuk selama 40 malam “.
AYAT MUHSHINAH ( AYAT YANG MEMBENTENGI )
Ali Bin Abi Thalib berkata bahwa Rasulullah saw bersabda ” Allah Swt berfirman
„ Laa ilaaha illallah adalah benteng-Ku. Barangsiapa yang membacanya, dia masuk kedalam benteng-Ku. Dan barangsiapa yang masuk dalam benteng-Ku maka dia akan aman dari siksa-Ku “
Dikisahkan ada seorang pedagang berjalan diikuti oleh perampok. Merasa ada yang membuntuti dia segera keluar dan turun ketengah sawah lalu membaca Ayat Kursi sebanyak 7 x sambil mengarahkan wajahnya ke 6 penjuru. Ketika penjahat itu telah mendekat dan hendak menyerang, Allah menjadikan Ayat Kursi tersebut sebagai benteng. Penjahat terhalang pandangannya, tidak melihat dimana keberadaan yang di incarnya. Maka pergilah penjahat itu dan menjauh untuk sementara waktu sambil mengintai datangnya kesempatan yang lain.
Ketika penjahat sudah jauh, dia melihat kebelakang dan tampak sang pedagang sedang duduk. Setelah beristirahat sebentar penjahat kembali menghampirinya. Tetapi lagi-lagi matanya terhalang dan tidak melihat apa-apa. Kejadian itu sampai berulang-ulang dan akhirnya penjahat itupun insyaf seketika.
Dalam hatinya dia menyatakan bertaubat dan tidak akan melakukan kejahatan. Pada saat itulah dia bisa melihat dan mendatangi pedagang tanpa ada halangan. Disitu dia menyatakan masuk islam.
AYAT AL-WILAYAH ( AYAT KEWALIYAN )
Sifat-sifat-Nya yang terkandung dalam Ayat Kursi sebagai tanda kesempurnaan akan kekuasaan-Nya.
Orang-orang yang teus membacanya dengan kemantapan haqqul yaqin akan diperlakukan oleh Allah sebagai kekasihnya , sebagaimana Dia memperlakukan para Nabi dan Rasul-Nya. Kepada orang tersebut Allah memberikan karomah yang dengan karomah itu dia akan terangkat derajat dan bahkan dikagumi oleh makhluk lainnya. Maka tidak heran jika doa dan keinginannya tidak terhambat dan bagi Allah orang tersebut telah menduduki Maqam Muqorrobatul Aulia ( wali ).
Disebutkan Ibnu Sunni dan Ad-Dailami dari abu Umamah, bahwa Rasulullah saw bersabda ”
Barangsiapa yang membaca Ayat Kursi setelah sholat fardhu, maka Allah sendirilah kelak yang akan mencabut ruhnya, dia seperti orang yang berperang bersama nabi-nabi-Nya hingga meninggal dalam keadaan mati syahid “.
Disebut Ayat Kewalian karena orang yang membacanya akan mendapat karomah, dia berada dalam naungan Allah dan Dia sendiri yang kelak mencabut ruhnya dengan penuh kasih sayang.
Al-Wilayah artinya kekuasaan yang dijalankan dengan penuh kelembutan. Orang yang diberikan wilayah ( derajat kewalian ) dialah orang yang santun dan lembut sifatnya tetapi mampu menghadirkan hal-hal yang luar biasa.
AYAT MUZHHIRAH ( AYAT PEMBERI KEJELASAN )
Muzhhirah artinya membuat sesuatu yang tadinya tidak terlihat menjadi terlihat secara jelas karena Allah menjanjikan kepada orang yang membaca Ayat Kursi
akan melihat apa yang tidak terlihat oleh kebanyakan orang. Mengapa ? Karena mendapat pemahaman ilahiyah ( laduni ) melalui ilham dan tuntunan firasat. Dengan hal itu pengamalnya akan mampu membaca gejala alam yang tidak diketahui orang melalui indera batin Allah mengilhamkan apa yang seharusnya dilakukan. Dan ia akan menjadi manusia unggul dari yang lain. Ibarat sebuah berita, sebelum berita itu dimuat diberbagai media, dia sudah tahu dan tidak terkejut lagi.
AYAT MUHDHIRAH ( AYAT YANG MENDATANGKAN )
Disebut demikian karena Allah akan menghadirkan sesuatu yang semula tidak ada menjadi ada. Ketika mewiridkan Ayat Kursi maka malaikat berdatangan ikut duduk dan mendengarkan apa yang diwiridkan. Para malaikat itu akan kembali ke Alam Malakut dan memohonkan ampun kepada pengamal Ayat Kursi.
Rasulullah saw bersabda ” Barangsiapa yang membaca Ayat Kursi ketika dalam sakitnya,
maka Allah akan memudahkan dalam sakaratul maut. Tidaklah malaikat melewati rumah yang di dalamnya dibacakan Ayat Kursi, kecuali mereka berhenti dan membuat barisan “.
Syaikh Muhyiddin Ibnu Al-Arabi berkata
” Barangsiapa yang Membaca Ayat Kursi dimalam dan siang hari sebanyak 1.000x selama 40 hari maka demi Allah, demi Allah, demi Allah Yang Maha Agung, demi kebenaran Al-Quran yang agung, Demi Rasulullah yang mulia, baginya akan dibukakan tabir ruhaninya, malaikat datang berduyun-duyun dan seluruh apa yang di inginkan akan berhasil, kemana menuju akan diantarkan Allah.
AYAT MUHTAWIYAH ( AYAT SATU UNTUK SEMUA )
Muhtawiyah artinya memuat semua yang ada. Ayat Kursi memuat banyak nama Allah yang tidak dimuat di ayat lain. Setiap ayat Al-Quran yang di dalamnya disebut nama Allah pasti memiliki tujuan sangat besar.
Nama-nama yang terkandung dalam Ayat Kursi merupakan representasi dari seluruh nama-Nya yang lain. Karena itulah Ayat Kursi disebut ayat satu untuk semua.
AYAT ISMULLAH AL- „AZHAM ( AYAT PALING AGUNG ) Rasulullah sebagai penerima wahyu dan pihak yang berhak menjelaskan wahyu beliau memberikan jaminan betapa dahsyatnya Ismul Azham. Dan Ismul „Azham itu terdapat dalam Ayat Kursi.
Rasulullah saw bersabda
” Ismul „Azham itu ada dalam tiga tempat yaitu dalam Surat
Al-Baqarah ( Ayat Kursi ),
dalam awal Surat Ali Imram dan dalam Surat Thaha “.
Rasulullah saw bersabda
” Ismul „Azham jika dibaca untuk berdoa,maka Allah mengabulkan. Jika dibaca untuk meminta maka Allah memberi “.
Disebutkan dalam hadits bahwa
Nabi Isa ketika menyembuhkan orang sakit dengan membaca Ayat Kursi, ketika menghidupkan orang mati juga dengan membaca Ayat Kursi. Ashif Bin Barhiya, staf kerajaan Nabi Sulaiman ketika menghadirkan kerajaan Ratu Bilqis juga membaca Ayat Kursi.
AYAT QADHA‟ AL-HAJAH ( AYAT MEMENUHI KEBUTUHAN )
Disebut demikian karena Allah akan memberikan kebutuhan hidup bagi orang yang membacanya dengan sungguh-sungguh. Ayat Kursi bagi orang beriman dapat menjadi senjata yang ampuh dalam memenuhi hajat dan keperluan lainnya. Rasulullah saw pernah berwasiat pada Ali Bin Abi Thalib ra bahwa Rasulullah saw bersabda
” Jika kamu menghendaki sebuah keperluan maka bacalah Ayat Kursi kemudian mulailah melangkah dengan kaki kanan “.
Ketahuilah wahai saudaraku bahwa di dalam Ayat Kursi ada banyak khasiat yang tak terbilang dan tak terhingga.
31. AYAT AS-SA‟ADAH ( AYAT KESEJAHTERAAN )
Disebut demikian karena mereka yang membacanya akan mendapatkan kesejahteraan hidupnya terutama kesejahteraan di hari akhir nanti. Ketahuilah hanya orang-orang Haqqul Yaqin yang akan memperoleh manfaat dari Ayat Kursi. Sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah ” Tidaklah ada yang mau melanggengkan membaca Ayat Kursi kecuali para Nabi, Shiddiqin, Syuhada dan Sholihin. Orang- orang munafik dan fasik adalah mereka enggan dan malas membaca Ayat Kursi. Mereka yang membaca Ayat Kursi akan mendapat cahaya terang dan keberkahan dalam usahanya. Ayat Kursi bagi mereka ibarat lampu penyelamat dalam segala situasi “.
Rasulullah saw bersabda ”
Sekiranya presiden tahu apa yang terkandung dalam Ayat Kursi, sungguh dia akan meninggalkan pemerintahannya. Sekiranya pedagang tahu apa yang terkandung dalam Ayat Kursi, sungguh dia akan meninggalkan dagangannya.
Dan sekiranya pahala Ayat Kursi dibagikan di muka bumi, sungguh setiap orang akan mendapatkan bagian 10 kali lipat dunia dan isinya “.
AYAT ALFI BARAKAH ( AYAT 1000 BERKAH )
Disebut demikian karena dapat mendatangkan 1000 berkah, 1000 rahmat dan 1000 kebaikan. Rasulullah saw bersabda kepada Ali Bin Abi Thalib
” Jangan kamu tinggalkan membaca Ayat Kursi karena dalam setiap hurufnya ada 1000 berkah dan 1000 rahmat “.
Rasulullah saw berwasiat kepada Abu Hurairah
” Banyaklah membaca Ayat Kursi karena dengan Ayat Kursi itu kamu dituliskan setiap huruf darinya mendapat 40.000 kebaikan “.
AYATT AL-MUKHTAR ( AYAT PILIHAN )
Pada hakikatnya setiap jenis apapun yang tercipta pasti ada yang lebih unggul dari yang lain diantaranya :Semua negara adalah sama tetapi Allah melebihkan negara yang memiliki Kiblat bagi umat islam.
Semua tanah adalah sama tetapi Allah melebihkan tanah yang diatasnya dibangun Masjid.
Semua Nabi adalah sama tetapi Allah melebihkan Nabi Muhamad saw dari yang lain.
Surat yang terdapat dalam Al-Quran adalah sama namun Allah melebihkan Surat Al- Baqarah dari yang lainnya.
Semua ayat dalam Surat Al-Baqarah sama tetapi Allah melebihkan Ayat 255 ( Ayat Kursi ) dari yang lainnya.
Semua orang beriman adalah sama tetapi Allah melebihkan mereka yang membaca Ayat Kursi.
Ibnu Umar berkata ”
Sesungguhnya Allah memilih Al-Quran dari semua kalam, Allah memilih Surat Al-Baqarah dari Al-Quran dan memilih Ayat Kursi dari Surat Al- Baqarah “.
Disebutkan dalam Kitab Al-Faidh Al-Qudsy
” Barangsiapa yang melanggengkan Ayat Kursi maka dia akan menjadi manusia yang terpilih, diutamakan dan dimuliakan oleh masyarakat, juga disisi Allah swt, di dunia dan akhirat “.
34. AYAT MUHRIJAH ( AYAT PENGUSIR KEJAHATAN )
Ayat Kursi yang dibaca terus menerus dapat menciptakan suasana batin menjadi tenang dan suasana rumah menjadi Aman. Jika kejahatan itu datang dari manusia maka manusia itu akan dibuat takut dan membatalkan niatnya. Jika kejahatan itu dari syetan maka syetan akan pergi meninggalkan tempat tersebut.
35. AYAT MAFHUMAH ( AYAT PEMAHAMAN )
Ayat Kursi sangat mudah dipahami karena secara keseluruhan menjelaskan ketauhidan, kebesaran, keluasan ilmu dan kekuatan serta kekuasaan Allah dalam mengatur ciptaan-Nya. Tidak ada yang diragukan dan sulit diterima oleh akal apa yang terkandung dalam Ayat Kursi. Ayat Kursi dapat dijadikan pegangan dasar dalam Ma‟rifatullah maka dengan memperbanyak membacanya akan mampu memahami semua kejadian yang diluar logika.
36. AYAT THARIDAH ( AYAT PENDOBRAK )
Disebut demikian karena jika dibaca untuk menghadapi kejahatan syetan bisa mendobrak hingga lari tunggang langgang.
Dari Abu Hirairah berkata, Jibril berkata kepada Rasulullah ”
Sesungguhnya Ifrit dari golongan jin akan membuat tipu daya kepadamu, maka dobraklah dengan Ayat Kursi “
Rasulullah saw bersabda ”
Barangsiapa yang membaca Ayat Kursi ketika hendak tidur Allah akan mengirimkan malaikat yang menjaganya hingga pagi hari “.
37. AYAT AN-NASHAR ( AYAT PERTOLONGAN )
Perang badar terjadi pada Bulan Ramadhan. Pasukan umat islam jumlahnya lebih kecil dibandingkan pihak musuh. Dalam perang ini Rasulullah bertindak langsung sebagai panglima. Setelah pasukan di instruksikan untuk menghadang pasukan musyrikin, Rasulullah saw bersujud di sebuah tempat seraya membaca Ayat Kursi. ali Bin Abi Thalib yang menjadi salah satu komandan perang melihat Rasulullah mambaca Ayat Kursi. Setelah bergabung dengan pasukan Ali kembali lagi ingin memastikan Rasulullah masih berada ditempat semula dan benar beliau masih berada disana dan terus membaca Ayat Kursi hingga akhirnya perang dimenangkan oleh kaum muslimin.
AYAT ASY-SYUKUR ( AYAT SYUKUR )
Dari Anas bahwa Rasulullah saw bersabda ” Allah memberikan wahyu pada Nabi Musa as „
barang siapa yang melanggengkan membaca Ayat Kursi setiap selesai sholat, Aku ( Allah ) memberikan padanya lebih banyak daripada yang aku berikan kepada orang yang bersyukur, Aku berikan pahala para Nabi, aku berikan balasan melebihi balasan amal para shiddiqin, aku hamparkan tangan kanan-Ku penuh rahmat untuknya, tidak ada yang bisa mencegah-Ku memasukkan dia kedalam syurga sampai datang padanya malaikat maut „. Musa bertanya „ Wahai Tuhan bagaimana dengan orang yang mendengar firman-Mu ini lalu tidak melanggengkannya ? „ Allah menjawab „ Sungguh Aku tidak berikannya kecuali kepada para Nabi, orang-orang jujur pengikut Nabi, orang-orang yang aku cintai atau orang-orang yang Aku kehendaki mati dijalan-Ku.
Abu Abdullah menjelaskan bahwa ayat ini mengandung tauhid dan sifat-sifat Allah yang luhur, terdiri dari 50 kalimat, setiap kalimat memberikan 50 keberkahan dan ayat ini sebanding dengan sepertiga Al-Quran.
AYAT ADZ-DZIKRI ( AYAT PENGINGAT )
Zikir yang paling agung adalah zikir Ismul „azham diantaranya dengan Ayat Kursi karena Allah akan melebihkan dari yang lainnya.
Dari Abu Musa Al-Asy-Ari dari Raslulullah saw bersabda ” Allah memberikan wahyu kepada Nabi Musa as
” Bacalah Ayat Kursi setiap selesai sholat fardhu. Sungguh barangsiapa yang membacanya Allah akan membuat hatinya menjadi hati orang yang bersyukur, lisannya menjadi lisan orang yang selalu berzikir, pahalanya seperti pahala yang diberikan kepada para Nabi, dan amalnya seperti amal Shiddiqin „.
AYAT ASH-SHIDIQ ( AYAT KEBENARAN )
Ayat Kursi sungguh sangat dahsyat pahalanya karena mereka yang membacanya Allah memberikan pahala kepadanya seperti pahala para Shiddiqin. Doa yang mereka panjatkan dan di dahului oleh Ayat Kursi sama mustajabnya dengan doa Shiddiqin. Barangsiapa yang ingin mendapatkan kejujuran dari orang yg mengkhianatinya maka perbanyaklah membaca Ayat Kursi. Dengan demikian akan memperoleh kejujuran dan keterbukaan atas segala yang disembunyikan.
AYAT AN-NABIYYI 9 AYAT NABI
Semua Nabi Allah membaca Ayat kursi. Nabi Musa membaca Ayat Kursi ketika menghadapi musuh-musuhnya. Nabi Isa membaca Ayat Kursi ketika menghidupka orang mati. Begitu juga dengan Nabi yang lainnya.
Dari Annas ra bahwa Rasulullah saw bersabda ” Jika orang beriman membaca Ayat Kursi dan menjadikan pahalanya untuk orang-orang yang sudah meninggal maka Allah memasukkan cahaya terang kedalam kubur setiap mayit dari ujung timur hinggan ke ujung barat, Allah melapangkan hatinya, mengangkat derajat setiap mayit, Allah memberikan pahala bagi yang membacanya sama dengan pahala 60 Nabi dan Allah menjadikan untuk setiap huruf ada malaikat yang terus bertasbih kepada Allah sampai hari kiamat “.
AYAT SYAFIYAH ( AYAT PENYEMBUHAN ).
Dalam banyak hadits, Rasulullah saw mengajarkan untuk melakukan penyembuhan dengan membaca Ayat Kursi seperti pada bekam, ruqyah, mengobati sihir, dll. Abdullah Bin Ja‟far berkata ” Aku terkena sakit yang parah dan para dokter sudah tidak mampu menanganinya. Dalam ketidakberdayaan aku memutuskan pada dirisendiri untuk mengobati dengan sesuatu yang ada dalam Al-Quran. Kemudian aku membaca Ayat Kursi, aku usap diriku dengan tangan setelah membacanya lalu tidur. Dalam tidur aku melihat 2 orang yang berdiri di depanku. Satu dengan yang lain berkata ” Sungguh orang ini telah membaca Ayat Kursi yang menghadirkan 365 rahmat sedangkan dia sampai sekarang baru mendapat 1 rahmat “. Dan aku terbangun dari tidurku, sungguh sakit itu telah hilang dari diriku “.
AYAT SAKINAH ( AYAT KETENANGAN ).
Disebut demikian karena akan diberikan ketenangan oleh Allah swt dan mampu menyelesaikan segala permasalah hidup dan mampu mengalahkan musuh musuhnya. Disebutkan dalam hadits riwayat Al-Bukhari dari Zaid Bin Arqam, Rasulullah saw memimpin perang sebanyak 29x. Setiap kali menghadapi musuh Rasulullah tidak pernah lepas dari membaca Ayat Kursi.
Dari Usaid Bin Hudhair bahwa di suatu malam dia membaca Surat Al-Baqarah yang di dalamnya ada Ayat Kursi. Dia punya kuda dan kuda itu di ikat disebelahnya. Tiba- tiba kuda menyeringai lalu Ibnu Hudhair berhenti ( tidak membaca Ayat Kursi ) dan kudanya ikut diam. Ketika Ibnu Hudhair membacanyalagi kuda itu menyeringai kembali. Ibnu Hudhair diam dan kuda pun ikut diam, begitu seterusnya. Ibnu Hudhair berpindah tempat dan meminta Yahya, anaknya, untuk mendekati kuda. Ketika Yahya sudah ada didekat kuda dia mengangkat kepalanya memandang langit dan subhaanallah, dia melihat apa yang tidak pernah terlihat. Pagi harinya, Hudhair menceritakan kepada Rasulullah tentang apa yang dilihat olehnya dan putranya. Rasulullah bersabda ” Ucapkan, ucapkan apa yang ingin kamu katakan hai Ibnu Hudhair ! Maka Ibnu Hudhair berkata ” Ya Rasul, ketika Yahya berjalan mendekati kuda dan anakku berjalan menjauh dari kuda, aku angkat kepalaku melihat keatas tiba-tiba aku melihat ada mega bergelayut laksana lampu-lampu bersinar terang hingga aku tak bisa melihatnya lagi. Rasulullah bertanya ” Tahukah kamu apa itu ? Ibnu Hudhair menjawab ” Tidak tahu “. Rasulullah saw bersabda ”
Itu adalah malaikat yang mendekati suaramu ketika membaca Ayat Kursi. Sekiranya kamu terus membacanya tentu kamu dan orang-orang lain akan melihatnya sehingga tidak hilang dari kamu dan orang banyak “.
FAEDAH AYAT KURSI
Ayat ini diturunkan setelah hijrah.
Semasa penurunannya ia telah diiringi oleh beribu-ribu malaikat kerana kehebatan dan kemuliaannya.
Syaitan dan iblis juga menjadi gempar kerana adanya satu perintang dalam perjuangan mereka. Rasullah s.a.w. dengan segera memerintahkan Zaid b Tsabit menulis serta menyebarkannya.
Sesiapa yang membaca ayat Kursi dengan khusyuk setiap kali selepas sembahyang fardhu, setiap pagi dan petang setiap kali keluar masuk rumah atau hendak musafir, InsyaAllah akan terpeliharalah dirinya dari godaan syaitan, kejahatan manusia, binatang buas yang akan memudaratkan dirinya bahkan keluarga, anak-anak, harta bendanya juga akan terpelihara dengan izin Allah s.w.t.Mengikut keterangan dari kitab”Asraarul Mufidah” sesiapa mengamalkan membacanya setiap hari sebanyak 18 kali maka akan dibukakan dadanya dengan berbagai hikmah, dimurahkan rezekinya, dinaikkan darjatnya dan diberikannya pengaruh sehingga semua orang akan menghormatinya serta terpelihara ia dari segala bencana dengan izin Allah.
Syeikh Abu Abbas ada menerangkan, siapa yang membacanya sebanyak 50 kali lalu ditiupkannya pada air hujan kemudian diminumnya, InsyaAllah Allah akan mencerdaskan akal fikirannya serta memudahkannya menerima ilmu pengetahuan.
Fadhilat Ayat Al-Kursi mengikut Hadis-Hadis
Rasullullah s.a.w. bersabda bermaksud: “Sesiapa pulang ke rumahnya serta membaca ayat Kursi, Allah hilangkan segala kefakiran di depan matanya. Sabda baginda lagi; “Umatku yang membaca ayat Kursi 12 kali pada pagi Jumaat, kemudian berwudhu dan sholat sunat dua rakaat, Allah memeliharanya daripada kejahatan syaitan dan kejahatan pembesar.” Orang yang selalu membaca ayat Kursi dicintai dan dipelihara Allah sebagaimana DIA memelihara Nabi Muhammad.
Mereka yang beramal dengan bacaan ayat Kursi akan mendapat pertolongan serta perlindungan Allah daripada gangguan serta hasutan syaitan.
Pengamal ayat Kursi juga, dengan izin Allah, akan terhindar daripada pencerobohan pencuri. Ayat Kursi menjadi benteng yang kuat menyekat pencuri daripada memasuki rumah.
Mengamalkan bacaan ayat Kursi juga akan memberikan keselamatan ketika dalam perjalanannya. Ayat Kursi yang dibaca dengan penuh khusyuk, Insya-Allah, dapat menyebabkan syaitan dan jin terbakar. Jika anda berpindah ke rumah baru maka pada malam pertama anda menduduki rumah itu sebaiknya anda membaca ayat Kursi 100 kali, insya-Allah mudah-mudahan anda sekeluarga terhindar daripada gangguan lahir dan batin.
Barang siapa membaca ayat Al-Kursi apabila berbaring di tempat tidurnya, Allah mewakilkan 2 orang Malaikat memeliharanya hingga subuh.
Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir setiap sembahyang Fardhu, ia akan berada dalam lindungan Allah hingga sembahyang yang lain.
Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir tiap sembahyang, tidak menegah akan dia daripada masuk syurga kecuali maut, dan barang siapa membacanya ketika hendak tidur, Allah memelihara akan dia ke atas rumahnya, rumah jirannya & ahli rumah2 di sekitarnya.
Barang siapa membaca ayat Al-Kursi diakhir tiap-tiap sholat Fardhu, Allah menganugerahkan dia hati-hati orang yang bersyukur perbuatan2 orang yang benar, pahala nabi2 juga Allah melimpahkan padanya rahmat.Barang siapa membaca ayat Al-Kursi sebelum keluar rumahnya, maka Allah mengutuskan 70,000 Malaikat kepadanya, mereka semua memohon keampunan dan mendoakan baginya.
Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir sholat Allah azza wajalla akan mengendalikan pengambilan rohnya dan ia adalah seperti orang yang berperang bersama nabi Allah sehingga mati syahid.
Barang siapa yang membaca ayat al-Kursi ketika dalam kesempitan nescaya Allah berkenan memberi pertolongan kepadanya
Syeikh alBuni menerangkan: Sesiapa yang membaca ayat Kursi sebanyak hitungan hurufnya (170 huruf), maka insyaallah, Tuhan akan memberi pertolongan dalam segala hal dan menunaikan segala hajatnya, dam melapangkan fikiranyan, diluluskan rezekinya, dihilangkan kedukaannya dan diberikan apa yang dituntutnya
Abdurahman bin Auf menerangkan bahawa, ia apabila masuk kerumahnya dibaca ayat Kursi pada empat penjuru rumahnya dan mengharapkan dengan itu menjadi penjaga dan pelindung syaitan.
• Syeikh Buni menerangkan:
sesiapa yang takut terhadap serangan musuh hendaklah ia membuat garis lingkaran dengan isyarat nafas sambil membaca ayat Kursi. Kemudian ia masuk bersama jamaahnya kedalam garis lingkaran tersebut menghadap kearah musuh, sambil membaca ayat Kursi sebayak 50 kali, atau sebanyak 170 kali, insyaallah musuh tidak akan melihatnya dan tidak akan memudharatkannya.
Syeikul Kabir Muhyiddin Ibnul Arabi menerangkan bahawa;
sesiapa yang membaca ayat Kursi sebayak 1000 kali dalam sehari semalam selama 40 hari, maka demi Allah, demi Rasul, demi alQuran yang mulia, Tuhan akan membukakan baginya pandangan rohani, dihasilkan yang dimaksud dan diberi pengaruh kepada manusia. (dari kitab Khawasul Qur‟an)
Dari Anas bin Malik r.a. berkata, “Rasulullah S.A.W bersabda :
Apabila seseorang dari umatku membaca ayat Kursi 12 kali, kemudian dia berwuduk dan mengerjakan solat subuh, nescaya Allah akan menjaganya dari kejahatan syaitan dan derajatnya sama dengan orang yang membaca seluruh al-Qur‟an sebanyak tiga kali, dan pada hari kiamat ia akan diberi mahkota dari cahaya yang menyinari semua penghuni dunia.”
“Allah tidak ada Ilah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya, Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Q.s.,al-Baqarah:255)
Keutamaannya
Rasulullah SAW., menginformasikan kepada kita bahwa ayat kursi merupakan ayat yang paling agung di dalam al-Qur‟an karena memuat makna-makna tauhid, pengagungan serta keluasan sifat-sifat Allah Ta‟ala. (Taysir:91)Dalil-Dalil Tentang Keutamaannya
1. Hadits dari Ubay bin Ka‟b bahwasanya Nabi SAW., berkata kepadanya, “Ayat apa yang paling agung di dalam Kitabullah?.” Dia berkata, “Aku menjawab, Allah dan Rasul-Nya-lah Yang Maha Mengetahui.” Hingga beliau mengulangi pertanyaannya sampai tiga kali, kemudian aku berkata, “Allâhu Lâ ilâha illa huwal Hayyul Qayyûm.” Dia berkata, “Lalu beliau menepuk dadanya sembari berkata, “Semoga ilmumu menjadi ringan, wahai Abul Mundzir!.” (HR.Muslim)
2. Dari Abu Hurairah r.a., dia berkata, “Rasulullah SAW., mengangkatku sebagai wakil untuk menjaga (mengutip) zakat Ramadlan, lalu seseorang datang kepadaku seraya membuang makanan yang ada di tangannya, lantas aku memungutnya sembari berkata, „Akan aku laporkan hal ini kepada Rasulullah SAW. Lalu Abu Hurairah menceritakan tentang hadits tersebut, diantara isinya adalah, „Beliau bersabda,
„Bila engkau akan beranjak ke tempat tidurmu, maka bacalah ayat Kursi karena sesungguhnya ia (dapat menjadikanmu) senantiasa mendapatkan penjagaan dari Allah dan syaithan tidak akan mendekatimu hingga pagi hari.‟
Lalu Nabi SAW., bersabda kepadanya, “Dia telah berkata jujur padamu padahal seorang pembohong, itulah syaithan.” (HR.al-Bukhari)
Demikian sebagian hadits yang shahih terkait dengan keutamaannya. Sebenarnya banyak sekali dalil-dalil yang terkait dengan keutamaan ayat yang agung ini bahkan beragam karya tulis dikarang mengenai keutamaan dan penafsirannya.
Temanya
Yaitu, mengagungkan Allah, menyinggung perihal bertauhid kepada-Nya dan Qudrat-Nya.
Kapan Dibaca
Dianjurkan membaca ayat Kursi seusai setiap shalat fardlu, ketika akan tidur dan dibaca di dalam rumah untuk mengusir syaithan (sebagaiman telah disinggung di atas).
Ayat agung yang memuat makna-makna paling agung yang mengisi hati dengan rasa takut kepada Allah, terhadap kemuliaan dan kesempurnaan-Nya ini memang berhak untuk menjadi ayat al-Qur‟an yang paling agung dan berhak pula mengisi hati pembacanya dengan keyakinan dan keimanan serta mendapatkan pemeliharaan Allah dari syaithan manakala diiringi dengan tadabbur dan pemahaman terhadap maknanya.
Kandungan Ayat Semua ayat ini mengandung faedah, bahkan tiap katanya mengandung banyak sekali faedah. Diantara yang paling penting dan besar adalah:
a. Bahwa ayat Kursi merupakan ayat yang paling agung di dalam Kitabullah secara umum karena ia memuat banyak sekali asma-asma Allah dan sifat-sifat-Nya.
b. Kesempurnaan Qayyûm-Nya, Qudrat-Nya, keluasan kekuasaan dan keagungan-Nya sehingga hal ini mengajak kita untuk mentadabburi dan merenungkannya.
c. Bahwa tidak terselubung dan luput satupun yang tersembunyi di muka bumi ataupun di langit oleh Allah Ta‟ala “Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka.” Hal ini mengandung konsekuensi keharusan seorang Muslim untuk menghayatinya di dalam seluruh kehidupannya.d. Menetapkan adanya syafa‟at dan bahwa ia tidak akan dapa diraih kecuali dengan beberapa persyaratan, diantaranya idzin dan ridla-Nya terhadap hal yang disyafa‟ati, “Siapakah yang dapat memberi syafa‟at di sisi Allah tanpa izin-Nya.”Jazaqumullah hubil khoir
10.Hukum Mempelajari Tenaga Dalam
Assalamu’alaikum.saya mau tanya tentang hukum mempelajari tenaga dalam menurut pemahaman salafus shalih (apa sama dengan sihir bila menggunakan teknik pernapasan/tanpa mantra2 baik dari Al Qur’an maupun selainnya].Wassalamu’alaikum.
Wa ‘alaikum salam.
“Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara suami dan istrinya” [Al-Baqarah : 102]
Banyak istilah baru untuk sihir yang terlarang itu, diantaranya tenaga dalam, kekuatan gaib, bio-elektrik, reiki dapat disingkat dgn istilah kekuatan di luar kebiasaan /’khawariqul ‘adah’.
Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Al-Furqan Baina Auliya’ir Rahman wa Auliya’isy Syaithan, singkatnya kemampuan tsb ada dua macam :
1. Dicapai dgn bid’ah dalam dzikir yg tidak disyariatkan, jumlah-jumlah, bentuk-bentuk, suara-suara, atau cara-cara, gerakan tertentu yang tidak ada contohnya dalam syari’at. Apabila demikian keadaan orangnya, maka ‘khawariqul ‘adah yang diperoleh adalah berasal dari syaithan, yang merupakan istidraj dari ALLAH Ta’ala/tipu daya atasnya.
2. Dicapai oleh orang yang mendapatkannya adalah orang yang bertaqwa, dari kalangan ahli tauhid, ikhlas dalam beribadah, tidak mengamalkan amalan-amalan bid’ah yaitu amalan ibadah yang tidak mencontoh tuntunan Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam dan bukan termasuk pelaku maksiat, maka apabila iamendapatkan ‘khawariqul ‘adah’ berarti itu merupakan anugerah Allah subhnahuwata’ala
Islam tidak mengajarkan seorang muslim beribadah untuk tujuan mendapatkan ‘khawariqu‘adah’(kemampuan luar biasa).
Ringkasnya, siapapun yang mencari “kemampuan luar biasa” baik dinamai tenaga dalam, teknik pernafasan, rajah, tulisan, laku puasa, pantangan-pantangan, mantara-mantra baik dari Al Quran, bahasa lain, untuk kesehatan, beladiri, dan sebagainya namun dia dapat ‘memakainya’ sekehendaknya maka jelas dia wali syaitan.
Sedangkan wali ALLAH subhnahuwata’ala mereka mencari keridloan ALLAH subhnahuwata’ala , mengikuti Sunnah Rasulullah shalllahulaihiwassalam memberantas Bid’ah, bukan mencari kemampuan tsb, dalam kasus tertentu ALLAH subhnahuwata’ala berkenan menyelamatkannya, dan ini tidak disengaja orang tsb, melainkan anugrah ALLAH Ta’ala.
Inilah perbedaan yang sangat jelas, antara karamah para Wali ALLAH dan wali syaithon, karamah dari para wali ALLAH subhnahuwata’ala TIDAK BISA DISENGAJA semaunya, karena keridlaan ALLAH Ta’ala tidak mungkin diatur hambaNya, Wallahu a’lam.
Kadang ada pertanyaan masa Tenaga Dalam bisa dijelaskan secara ilmiah, bawa2 proton, elektron, neutron lagi. banyak yang bilang tenaga dalam berasal dari ATP manusia yang dikeluarkan lebih besar dari normalnya…itu bullshit, ATP=sumber energi bagi otot untuk bergerak, jika digunakan hasilnya adalah panas dan hasil akhir dari ATP adalah asam laktat yg membuat otot kita pegal2
contoh jika kita akan mengangkat barbel 100 kali, ATP akan digunakan otot bisep dan dihasilkan panas(tangan kita akan terasa panas) kemudian tangan kita akan merasa pegal2 (akibat tertimbun asam laktat) dan kesemua proses itu dilakukan bertahap dari penggunaan ATP sedikit sampai maksimal berdasarkan kapasitas masa otot, dikatakan dalam tenaga dalam bahwa ATP digunakan sangat besar untuk menghasilkan energi besar dan mementalkan lawannya.., benarkah? bullshit..tidak mungkin ATP dikeluarkan sebesar itu apalagi dikeluarkan dalam bentuk radiasi, reaksi dasar dari ATP adalah gula adenosin(berasal dr makanan, kebanyakan dr karbohidrat) + as phophat = Adenosin Monophosphat + as phospat = Adenosin diphosphat + phospat = ATP adenosin tri phospat, then ATP + oksigen menghasilkan energi berupa panas. jika ATP dikeluarkan secara besar besaran sebagai tenaga dalam, maka akibatnya adalah panas yang sangat luar biasa maka organ hati sebagai tempat penyimpan ATP akan terbakar dan rusak dan ATP adalah bahan kimia = materi, bagaimana caranya merubahnya menjadi radiasi? materi menjadi energi hanya bisa dilakukan dengan reaksi nuklir E=mC2 energi adalah masa yang hilang berbanding kecepatan cahaya Bul, lebih baik tinggalkan tenaga dalam, tidak ada hasilnya, Tenaga Dalam adalah bentuk kerja sama manusia dengan jin, ingat bahwa jin yang bersifat setan adalah makhluk yang licik dan cerdik, Nabi Muhammad saja tidak pernah belajar Tenaga Dalam
kenapa Tenaga Dalam atau santet tidak mempan kepada orang2 barat, seperti penjajah? jelaslah bahwa jin yang bersifat syetan tidak mau berurusan dengan orang2 non islam spt penjajah buat apa digodain? malah jin tsb takut ketularan mereka. jin saja yang jahat takut dan mengetahui pedihnya siksaan neraka, kalo orang2 barat seperti penjajah kenal ALLAH aja ga, makanya santet ga mempan
so, saya sarankan tidak usah belajar tenaga dalam, tidak ada gunanya mending belajar fisika, biologi, ekonomi, dll yang jelas bermanfaat
bertobatlah sebelum terlambat, perlu diingat bahwa tidak ada hubungan antara subpartikel atomik dengan tenaga dalam, proton,elektron,neutron mereka saling berinteraksi secara seimbang dengan memanfaatkan 4 gaya fundamental alam semesta (nuklir kuat dan lemah, elektrostatik, grativasi) membentuk sebuah atom dengan karakteristik tertentu, jadi ketiga subpartikel tsb hanya sebagai pemberi sifat kepada atom, misal tembaga terdiri dari 29 proton, namun seng terdiri dari 30 proton
Apakah Tenaga Dalam memanfaatkan ketiga subpartikel tsb untuk memberikan energi? Bullshit,,,,,,, penjelasannya adalah jika tembaga adalah paduan proton, elektron, neutron yang seimbang dan stabil, apabila salah satu elektron lepas, krn Tenaga Dalam akibatnya tembaga berubah menjadi ion dan tdk ada energi yang keluar apapun, biasa saja. kemudian apabila proton atau neutron terusik atau lepas atau berubah konfigurasi, kecepatan, jaraknya, atau apapun yang mengakibatkan posisi yang berbeda akibatnya tembaga akan meluruh menjadi radioaktif, sedikit massanya akan berubah menjadi energi yang besar dan proses ini bisa dikaitkan dengan reaksi nuklir. reaksi nuklir hanya bisa dilakukan di dalam reaktor dengan suhu 1juta derajat celcius. Nah dalam proses Tenaga Dalam manakah yang terjadi? kalau memang begitu berarti TD = Nuklir…? hebat sekali Ari dari tanganya bisa keluar energi nuklir,
makanya belajar fisika aja daripada belajar Tenaga Dalam tidak jelas
saya adalah mahasiswa yang sedang belajar farmasi dan fisika partikel
Maaf sebelumnya, jika pendapat saya tidak berkenan..
saya juga seorang yang gemar akan olah nafas untuk membangkitkan kekuatan yang ada dalam tubuh. sudah puluhan tahun saya menggelutinya. menurut apa yang saya rasakan tenaga dalam itu bisa berkurang atau bertambah sesuai dengan intensitas latihan dan aktivitas kita sehari hari. Tenaga dalam tersebut bermanfaat untuk menjaga kesehatan kita, antibody dalam tubuh semakin kuat karena aliran darah juga semakin cepat. energi listrik yang terdapat dalam tubuh juga semakin kuat, sehingga efektif untuk mengcounter gejala infeksi dalam tubuh.
OLah nafas pada hakikatnya adalah sebuah teknik mengolah atau melatih otot dan persyarafan manusia agar persyarafan itu mampu bekerja diluar kemampuan manusia yang tak melatihnya. jika kita perbandingkan dengan cara-cara melatih otot dan syaraf dalam tubuh manusia ini sama dengan kita berlatih dengan menggunakan alat-alat dari besi/barbel.
di sini sudah tentu kita berhati-hati dan menyelidiki terhadap latihan2 Tenaga Dalam yang tidak pada tempatnya dan terobsesi oleh sesuatu yang tak rasional. yang membuat laku-laku ritual tertentu demi mencapai obsesinya. inilah yang menjadi ciri-ciri bahwa mereka terkena bisikan-bisikan oleh sesuatu yang tidak bertanggung jawab.
salah satu contoh. Ada orang belajar Tenaga Dalam agar badannya tak mempan dibacok…
Anda harus sadar Apakah dengan latihan olah nafas Anda akan mampu berbuat seperti itu??? Butuh berapa lama Anda berlatih Tenaga Dalam sehingga mampu berbuat seperti itu???
Ini menarik untuk dikaji dan dibuktikan dalam kehidupan masyarakat indonesia yang syarat dengan klenik dan ramalan. Kalau perlu kita dirikan sekolah yang mengajari secara detail tentang Tenaga Dalam. Jika Ada Orang yang belajar Tenaga Dalam sehingga tak mempan dibacok, semestinya orang tersebut bisa juga menyembuhkan luka2 kebalikan dari kebal bacok. sayang sekali sudah sering kita lihat dan dengar, mereka yang tak mempan dibacok/tembak akan tetapi tak mampu mengobati dirinya sendiri maupun orang lain jika ada luka2 pada dirinya/orang lain.
Sayang sekali bukan?? mereka sudah terlanjur yakin bahwa dirinya hebat tak mempan dibacok, tapi tak bisa berbuat apa2 jika dirinya mengalami luka. Dia memamerkan kekebalannya pada masyarakat, akan tetapi saat dibacakan bismillah dan ditusuk dengan sebuah jarum, badannya berdarah-darah. Inilah kenyataan yang sebenarnya terjadi di indonesia ini.
Mengenai Jin, kita manusia tak ada yang tahu bentuknya dan dimana dia berada. Hanya disebutkan bahwa dia bertempat tinggal di satu tempat. Dia bisa melihat kita dan kita tak mampu melihatnya. sedangkat akibat yang disebabkan oleh jin kebanyakan adalah kesurupan yang terjadi pada mereka yang terganggu. Kita tidak bijak dan rasional jika mengatakan si A terkena gangguan jin atau bersahabat dengan jin atau dibantu jin, tanpa mempelajari dan melakukan penyelidikan akan apa yang dilakukan Si A dalam aktivitas kehidupannya sehari-hari, mengingat kita manusia adalah awam tak mampu mengetahui jin yang sebenarnya, seperti yang dimiliki oleh para nabi.
Semoga Allah subhanahuwata’alwt memberi pengetahuan dan petunjuk pada diri kita semua, dan memberi ampunan bagi kita karena sebaik-baik manusia adalah yang selalu bertobat kepadaNya atau kebodohan dan kelemahan yang kita miliki.
Amien
11.Do’a Orang Teraniaya
Rasulullah shallalllahualaihiwassalam bersabda:
“Tiga do’a yang dikabulkan, yaitu do’a orang yang berpuasa, do’a orang yang bepergian, dan do’a orang yang teraniaya.” (HR. Uqaili, dari Abu Hurairah)
”Ada tiga doa yang tak akan ditolak oleh Allah Subhnahuwata’ala , yakni doa orang tua kepada anaknya, doa orang yang teraniaya, dan doa seorang musafir.” (HR. Abu Hurairah)
Dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Artinya : Takutlah kepada doa orang-orang yang teraniyaya, sebab tidak ada hijab antaranya dengan Allah (untuk mengabulkan)”.(Shahih Muslim, kitab Iman 1/37-38)
Orang teraniaya atau orang yang dizhalimi yaitu orang yang diperlakukan secara tidak benar oleh orang lain. Orang-orang ini tidak mendapatkan hak yang wajib diterimanya. Misalnya, seseorang menagih uangnya kepada orang lain, tetapi yang ditagih ternyata mengingkari hutangnya. Penagih semacam ini termasuk dalam kategori orang yang teraniaya. Seorang buruh menutut gaji kepada majikannya. Oleh majikan gaji tersebut tidak dibayarkan atau dibayar kurang dari seharusnya dia terima. Buruh semacam ini termasuk orang-orang yang teraniaya.
Contoh lain ialah sesorang dituduh melakukan suatu kejahatan, padahal yang bersangkutan sama sekali tidak melakukannya. Ia lalu dijatuhi hukuman. Seorang istri tidak diberi uang belanja oleh suaminya, bahkan disuruh mencari nafkah sendiri. Orang-orang ini termasuk golongan yang teraniaya.
Bilamana orang yang yang teraniaya memohon kepada Allah subhanhu wata’ala agar membinasakan penganiayanya, maka do’anya dijanjikan oleh Allah subhanhu wata’ala akan dikabulkan. Karena itu, kita wajib takut kepada orang-orang yang teraniaya oleh perbuatan kita. Sebab walaupun mereka tidak mampu membalas kejahatan kita secara langsung, namun do’a mereka akan menjadi senjata yang ampuh nuntuk menghancurkan kita melalui adzab dan siksa yang diturunkan oleh Allah.subhanhu wata’ala
Sebuah contoh dalam sejarah yang dikemukakan oleh Allah subhanhu wata’ala dalam Al-Qur’an ialah tindakan Fir’aun yang berbuat aniaya dan zhalim kepada kaum Nabi Musa alaihissalam . Walaupun kaum Nabi Musa alaihissalam tidak mampu membalas kezhaliman Fir’aun secara langsung dan bahkan Musa dengan kaumnya dikejar-kejar oleh Fir’aun secara langsung dan bahkan Musa dengan kaumnya dikejar-kejar oleh Fir’aun dan tentaranya untuk dibunuh, namun ternyata allah yang membalas kezhaliman Fir’aun dan tentaranya. Allah subhanhu wata’ala menenggelamkan mereka di Laut Merah ketika mengejar Musa dan Kaumnya. Jadi, yang langsung menghancurkan dan menghukum Fir’aun dan pasukannya adalah Allah subhanahuwata’ala sendiri. Kejadian ini wajib menjadi pelajaran bagi kita dimana saja dan kapan saja bahwa orang-orang yang teraniaya dekat dengan Allah subhanhu wata’ala . Allah subhanhu wata’ala selalu memberikan pembelaan dan pertolongan kepada mereka untuk membalas orang-orang yang menganiayanya.
Orang-orang yang teraniaya tidak perlu berputus asa menghadapi keperkasaan dan kekuatan penganiayanya. Mereka dijanjikan oleh Allah subhanhu wata’ala untuk mendapat pembelaan, perlindungan, dan pertolongan guna melawan penganiaya itu. Cara memperoleh jaminan tersebut adalah dengan selalu berdo’a kepada Allah subhanhu wata’ala agar para penganiaya itu mendapat adzab dan siksa dari Allah subhanhu wata’ala sehingga mereka tidak merajalela berbuat kezhaliman ditengah masyarakat. Karena itu, mereka seharusnya tidak meremehkan senjata do’a sebagai saran melawan kezhaliman orang-orang yang berbuat zhalim, karena permohonan mereka dikabulkan oleh Allah subhanhuwata’ala . Sebaliknya, orang-orang yang suka menganiaya seharusnya takut dan berhati-hati menghadapi orang-orang yang teraniaya, karena orang-orang yang teraniaya itu pasti dibela dan dilindungi oleh Allah subhanhu wata’ala . Permohonan apa saja untuk penganiayanya akan dikabulkan oleh Allah subhanahu wata’ala .
12.Khakikat Bela Diri Bukan Tenaga Dalam Ilmu Metafisika
Kalau saya boleh berfatwa, maka bela diri akan saya wajibkan untuk setiap Muslim dan Muslimah. Tapi berhubung derajat saya masih bagaikan bumi dan langit dengan ulama-ulama sekaliber Yusuf al-Qaradhawi, misalnya, maka biarkanlah hal ini tetap menjadi sebuah saran pribadi. Tapi ini adalah sebuah saran yang amat serius. Tidak main-main.
Paling tidak ada dua alasan kenapa saya ‘berfatwa’ demikian :
1. Kenyataannya, bela diri adalah sunnah Rasulullah shallallahulahiwassalam . Banyak orang bilang bahwa Rasulullah shallallhulaihiwassalam hallallhualaihiwassalam . tidak pernah belajar bela diri. Kalau dikatakan beliau tidak pernah berguru pada seorang guru silat, mungkin memang benar. Namun rasanya terlalu gegabah kalau mengatakan bahwa beliau tidak bisa bela diri, mengingat track record beliau yang sangat mengagumkan di medan perang. Tidak seperti jenderal jaman sekarang, beliau selalu berada di garis terdepan. Memang beliau pun bisa terluka, tapi kehebatan tempurnya tidak bisa diragukan lagi. Menurut saya, mereka yang bilang bahwa Rasulullah . tidak bisa bela diri harus rajin-rajin menelaah sirah nabawiyah kembali. Faktanya sudah sangat jelas, kok!
2. Bela diri adalah kebutuhan dakwah. Sudah bukan rahasia lagi bahwa dakwah Islamiyah sekarang ini dimusuhi habis-habisan. Musuh-musuh Islam tidak akan segan-segan melakukan kekerasan pada para kader dakwah. Di Mesir, Ikhwanul Muslimin menjadi oposisi terbesar, sekaligus menjadi golongan penghuni penjara yang paling banyak. Di Aljazair, partai Islam dikudeta oleh militer meskipun memenangkan pemilu secara adil. Di Indonesia, para preman tidak jarang dikerahkan untuk mengintimidasi kegiatan-kegiatan partai dakwah. Ini adalah kenyataan, bung! Kita harus survive. Bela diri Lalu apa gunanya mempelajari gerakan-gerakan belalang sembah, harimau, bangau, dan sebagainya? Mengapa kita tidak menghadapi kenyataan bahwa anatomi manusia memang begini adanya, lalu merumuskan teknik-teknik yang sesuai dengannya?
Masutatsu Oyama, seorang pemilik nama besar di dunia Karate, juga melakukan ‘revolusi’ yang sama dalam bela diri. Beliau tidak dikenal karena penguasaan rangkaian jurusnya (kata). Oyama dikenal karena kekuatannya. Latihannya sederhana. Pergi ke hutan, cari apa pun yang bisa dipatahkan dengan tangan dan kaki. Alhasil, ia menjadi salah seorang petarung yang paling ditakuti di Jepang. Inilah realita lapangan. Setuju atau tidak, ya terserah!
Bela diri bukanlah seni yang berindah-indah. Bela diri adalah segala cara yang bisa digunakan untuk menjamin keselamatan pribadi dan orang lain (tidak termasuk keselamatan lawan). Mungkin terdengar kasar dan kejam, tapi dunia ini memang kejam.
Semua ada tahapannya. Belajar bela diri tidak mungkin tanpa tahapan. Kita tidak mungkin langsung berlatih ke tahap advance tanpa melalui tahap-tahap basic terlebih dahulu. Ini juga merupakan sunnatullaah. Tidak ada manusia yang langsung bisa. Kalau berhasil, maka kita tidak perlu bangga, karena masih ada tahapan lain yang lebih tinggi dan lebih susah. Kalau gagal, kita pun tidak perlu kecewa, karena semuanya pernah gagal. Bruce Lee dan Masutatsu Oyama juga pasti pernah gagal. Kesadaran akan ‘tahapan’ ini memberikan banyak konsekuensi dan memberikan banyak pelajaran bagi kita.
Jam terbang adalah segalanya. Percayalah, meskipun sama-sama latihan memukul, orang yang baru belajar sehari jelas beda dengan orang yang sudah berlatih setahun. Dalam bela diri, tidak ada jalan pintas atau calo. Kalau mau lebih hebat, ya berlatihlah lebih giat! Tidak ada tempat untuk orang manja yang mau enaknya saja. Dengan repetisi ratusan atau ribuan kali, jurus yang sulit pun akan terkuasai. Cepat atau lambatnya itu urusan belakangan (lebih tepatnya lagi : itu urusan Allah subhanahuwata’ala ). Yang penting ikhtiar saja dulu habis-habisan. Inilah cara berpikir yang harus digunakan oleh setiap Muslim, apalagi mereka yang membaktikan dirinya dalam dakwah.
dengan imbalan mendapatkan peningkatan kemampuan yang signifikan.
13.ayat-ayat Al-Qur’an dan As-Sunnah mengandung power dan energi
Tekhnologi Al-Quran Dan Kajian Islam Indonesia
Kita bersyukur kehadhirat Allah subhanahu wata’ala mengenai hal yang Maha Penting dalam Al-Islam mulia raya.
Sejak jaman dahulu, agama manapun tidak pernah di-ilmiahkan, walaupun Rasulullah Shallallahualaihiwassalam sejak dahulu bersabda:
“Al Islaamu „ilmiyyun wa „amaliyyun, al Islaamu ya‟luu walaa yu‟laa „alaihi,” nampaknya baru pada jaman sekarang inilah mulai diriset dengan seksama bagian-bagian khusus daripada al-Islam itu dan mulai pula secara ilmiah teknologis diriset ayat-ayat Al-Qur’an dan As-Sunnah yang mengandung power dan energi.
Kita mengetahui bahwa power dan energi dapat dikeluarkan dengan menggunakan Ilmu Fisika. Dan setiap pelaksanaan teknologi wajib memakai suatu cara, suatu metode untuk mewujudkannya, baru dapat direalisir dengan nyata.
Kalau kita mengatakan bahwa terdapat ilmu teknologi dalam Al-Qur’an karena jelas banyak ayat-ayat Al-Qur’anul Karim yang mampu mengeluarkan energi dan power yang ternyata lebih tinggi dan lebih dahsyat dari energi dan power yang dikeluarkan dari alam Fisika. Ini disebabkan dimensi Al-Qur’anul Karim itu adalah Maha Tinggi. Diatas telah dikatakan bahwa dalam Al-Qur‟anul ada tersimpan, tersembunyi tenaga Maha Dahsyat, yang hanya mampu dikeluarkan melalui hukum-hukum dari ilmu teknologi Al-Qur‟an itu sendiri, yaitu memakai cara metodologinya yang khusus.
Dan para teknolog mengetahui bahwa ilmu teknologi harus mempunyai metodologi khusus untuk mewujudkan, mengeluarkan power dan energi tersebut sesuai dengan hukum-hukum dari alam itu sendiri; begitu juga Al-Qur’an, metodologinya tersimpan (tersembunyi) dalam ilmu Tasawuf, itulah yang dinamakan ilmu thariqat.
Mungkin ada diantara kita yang terheran-heran, mendengar bahwa Thariqat yang kadang-kadang mereka dengar sebagai sesuatu yang misterius, yang meragukan, disini malah disebut sebagai metode teknologi dalam ilmu Tasawuf, yang mampu mengeluarkan power dan energi Maha Dahsyat dari Al-Quran dan Al-Hadits. Keraguan akan Ilmu Tasawuf sebenarnya akibat dari kecerdikan para orientalis yang berhasil menghantam dan melemahkan serta memecah-belah umat Islam dengan menyembunyikan kedahsyatan-kedahsyatan daripada thariqatullah dan menyelewengkannya, serta meng-expose-nya sebagai non-Islamis bahkan dikatakan syirik, sesat dan sebagainya. Sedangkan Allah Subhanahuwata’ala terang dan nyata mengatakan dalam surat Jin, 16: Artinya :
”Barang siapa yang berdiri tetap di atas jalan yang benar (metodologi yang benar) Allah subhanahuwata’ala akan melimpahkan kepada mereka karunia seperti hujan yang lebat dari langit.”
Selanjutnya, Allah subhanahuwata’ala berfirman dalam surat Ar-Ra‟ad, 11: Artinya :
”Sesungguhnya Allah subhanahuwata’ala tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaannya yang ada pada diri mereka sendiri”. (Tidak Kuubah nasib sesuatu bangsa, kalau bangsa itu tidak mengubah nasibnya sendiri.)
Kurnia alam Fisika yang tersembunyi tersimpan dalam perut alam ini, yang disediakan Tuhan sejak bumi ini terkembang, tidak akan keluar dengan sendirinya tanpa teknologi. Begitu juga dengan power Alam Metafisika Al-Qur‟an tidak akan keluar dengan sendirinya, tanpa diusahakan oleh umatnya yang tentunya dengan memakai metode teknologis Al-Qur‟an sendiri, yaitu dengan menggunakan ayat akbar seperti dinyatakan Allah Subhanahuwata’ala dalam Surat Jin, 16 di atas dan didukung oleh ayat-ayat akbar lainnya yang dibawah ini akan kami terangkan sekedarnya, Insya Allah.
Inilah ruginya kalau umat Islam tidak meriset Al-Islam mulia raya secara ilmiah teknologis, dan masih tetap saja mendekati kitab Suci tersebut seperti selama ini yakni secara dogma, kepercayan tanpa membuktikannya. Sedangkan Islam adalah sangat ilmiah dan tinggi sekali ilmiahnya, tak ada tolak bandingannya.
Kalau Al-Qur‟an saja sudah sangat ilmiah, apalagi Allah Ta‟ala, Ia adalah MAHA-ILMIAH, jelas Allah ta’ala menghendaki hamba hambanya yang mukmin juga harus sangat ilmiah. Supaya mampu memahami firman-firmanNya secara keseluruhan seperti dikatakanNya pada Surat Al-Baqarah, 208: Artinya:
”Hai orang orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan.” Bukankah Allah ta’ala Berfirman:
Artinya: ”Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta) ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. Al-Luqman,27)
Isi Al-Qur‟an itu, habispun kayu di rimba sebagai pena dan habispun delapan buah lautan sebagai dawat untuk menuliskannya, Al-Qur‟an belum habis-habisnya (KurniaNya sebanyak bintang di langit dan sebanyak pasir di lautan). Namun semua itu terhimpun dalam satu Kalimatullahi Hiyal Kalimah Allah yang Maha Akbar, Maha Agung, Maha Sakti, Maha Segala Yang Maha Baik, dan semata mata hanya kalimah Allah inilah yang diamalkan secara teknologs oleh para ahli dzikrullah yang mengamalkannya dengan secara metodologi. Thariqatullah yang dilandasi atas perintah Ilahi yang nyata dalam ayat-ayat Al Qur‟an dan As=Sunnah serta diterangkan atas dasar teknologi yang sebagai Sunnatullah:
Artinya: ”Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah ta’ala ) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling daripadanya.” (Q.S. Yusuf, 105).
Inilah ia amalan dzikrullah murni yang diperintahkan Allah ta’ala dan Rasul Shallallahualaihiwassalam beratus-ratus kali untuk mengamalkannya. Dan metode Thariqatullah dipelajari agar akhirnya mampu mengeluarkan power-Nya dengan energi-Nya yang akan dapat muncul dalam dimensi yang Maha Akbar. Dan yang bersumber dari power dan energi metafisika Al-Qur‟an sendiri. Yang kedahsyatannya antara lain mampu membelah bumi, memindah-mindahkan bukit, menghidupkan orang mati, membungkam gunung berapi, menjinakkan angin topan, menghancurkan segala bencana antara bumi dan langit, mampu menunda kiamat dunia, menolak segala macam penyakit, termasuk AIDS, mampu melebur syaitan, iblis, jin jahat, segala macam sihir, guna-guna, santet, teluh dan lain lainnya.
Semua yang disebutkan diatas ada dengan nyata tertulis dalam Al-Qur‟an atau Al-Hadits. Lihat di bawah pada ayat-ayat dan hadits-hadits yang mengadung teknologi Al-Quran. Dan selama ini tak satupun dari ayat-ayat tersebut yang pernah diriset secara teknologis oleh para ilmuwan kaum Muslimin, apakah tidak kalah mereka itu terus-menerus sepanjang masa? Ini disebabkan karena mereka sama sekali tidak tahu cara pelaksanaan teknisnya. Sedangkan perintah Ilahi selalu menyatakan ”Risetlah, fikirkanlah.” Karena tidak pernah tahu cara meriset teknologi Al-Qur‟an, yang mampu mengeluarkan segala energi yang disebut diatas, disebabkan tertipu oleh kaum orientalis barat. Dan ilmiahnya sesuai dengan Al-Qur’an, 105 yakni paralel dengan ilmu teknologi dalam alam Fisika.
Apakah tidak dahsyat prinsip dasar dari dzikrullah yang sedemikian rupa yang karena amalan yang intensif, akhirnya mampu turun kedahsyatan power dan energi dari Alam Metafisika Al-Quran. Ini disadari betul oleh kaum orientalis barat. Maka itulah sebabnya para orientalis barat itu selalu berusaha keras untuk mendiskreditkannya pada umat Islam yang masih dogmatik dan yang tidak tahu akan ilmu teknologi.
Apakah Tuan-tuan yang tidak pernah mengenal Thariqatullah sudah pernah menguji coba ayat-ayat di atas ini? Oleh sebab itu wahai Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, semoga insan yang belum mengetahui akan ilmu Thariqat, apalagi yang tidak pernah mengamalkan dzikrullah dengan metode Thariqatullah, janganlah hendaknya dengan serta-merta memberikan fatwa yang negatif kalau ia tidak mengetahui akan ilmu Tasawuf yang begitu halus dan dalam.
Apalagi tentang Thariqatullah yang merupakan satu-satunya metodologi yang hebat dan akbar yaitu bagaimana cara pelaksanaan teknis yang khas dalam realisasi teknologi Al-Qur’an yang benar-benar mampu membuktikan dengan nyata dan faktuil adanya power dan energi yang berada tersembunyi dalam Al-Qur‟an dan Al-Hadits yang hanya dapat kita saksikan secara terang dan jelas akan kedahsyatan ilmiahnya dalam pengalaman hidup ini, bukan sampai menunggu di akhirat kelak. Memang sangat Mereka yang mencela atau menyalahkan atau mendeskreditkannya, sebenarnya mereka sama sekali tidak pernah tahu, karena tidak pernah mengamalkan, dan tidak pernah menyelidikinya secara ilmiah teknologis, dan tidak pernah mampu membuktikannya secara rinci ilmiah satu-persatu ayat atau satu-persatu As-Sunnah tersebut diatas. Bagaimana mungkin mereka akan dapat menilai metode Thariqatullah ini, apakah mereka berani menilai tentang sesuatu yang tidak mereka ketahui sama sekali dan tidak mengalami sama sekali serta tidak pula mau merisetnya?
Kita harus sadar dan mau mencoba untuk membuktikan sendiri akan kerealitasannya. Kenyataan-kenyataan daripada ayat-ayat Al-Qur‟an dari yang telah kami terterakan di atas ini atau yang kelihatan di bawah ini, silahkan kita uji coba sendiri apakah berhasil atau tidak? Sekali lagi, kalau ia mengeluarkan power, kita harus memakai ilmu teknologi terhadap ayat-ayat atau Al-Hadits yang kami sebutkan di atas. Betul betul nanti akan ternyata, bahwa Thariqatullah telah diputar-balikkan oleh para Orientalis Barat. Sehingga kita beramal tanpa metode. Tanpa metode (tharikat) jelas tidak akan berhasil.
Mari kita mensitir sebuah ayat Al-Quran, Surat Al-Hasyir, 21 yang berbunyi: Artinya:
”Andaikata Al Quran ini kami letakkan di atas bukit, engkau akan melihat bukit itu hancur berantakan karena takutnya kepada Allah subhanahuwata’ala dan perumpamaan ini kami jadikan untuk manusia agar mereka merisetnya”.
Kita melihat di sini suatu kejadian yang sangat aneh, yang kalau diujicoba oleh orang awam dia akan menghasilkan sebaliknya. Coba kita letakkan beribu-ribu kitab Al-Quran di atas bukit, apalagi di gunung yang berapi, tidak sampai satu hari satu malam, beribu-ribu kitab Al-Qur’an itu akan musnah terbakar.
Tapi yang mengatakannya adalah Allah Subhanahuwata’ala dalam firman-Nya yang diakhiri dengan perintah: ”Wahai orang Mukmin”, ini suatu contoh bagi kita untuk merisetnya.
Para Orientalis Barat mengissukannya bahwa Tharikat bertentangan dengan Syari‟at Islam, ternyata sama sekali tidak benar. Thariqatullah malahan mengukuhkan dan merealisasi Syari‟at Islam, Thariqatullah adalah murni mentauhidkan Allah Subhanahuwata’ala dalam Syari‟at Islam semurni-murninya. Maka oleh sebab itu, barangsiapa yang tidak mengetahui Tasawuf dan teknologi, mohon diminta jangan bicara, mereka sebenarnya tidak ada hak dan saham untuk itu. Bagaimana dia akan mampu menilainya, sedangkan ilmu Tasawuf ia tidak tahu, teknologi-pun tidak, pengalamannya tidak ada dalam mengamalkannya. Ayat-ayat Al-Qur‟an itu bukan main tinggi dan dahsyatnya, jangan disalahkan begitu saja. Thariqatullah dan Syari‟at adalah satu, dakwah Thariqat sama dengan dakwah Syari‟at.
Kalau ini masih tidak dimengerti, atau masih salah dimengerti, Islam akan jelas terus dan kaum muslimin akan lumpuh total, akan dipijak-pijak oleh siapapun, hancur-lebur, dan kacau-balau sehingga terus menerus merupakan neraka dunia dan akhirat bagi kaum Muslimin.
Bila Kalimatullahi Hiyal Ulya diamalkan secara teknologi, jangankan bala-bala di dunia, neraka dunia akhirat pasti mampu habis dileburkannya. Kami telah merisetnya lebih lamanya, yang diikuti oleh para sarjana, para cendekiawan lainnya, kontinyu terus menerus, bukan main akbarnya itu.
Setelah diatas tadi kita memberikan uraian umum, sekarang marilah kita baca di bawah ini ayat-ayat Al-Qur’anul Karim dan Al-Hadits yang banyak mengandung power dan energi dari teknologi Al-Qur’an. Sudah jelas tidak perlu kita uraikan seluruhnya, namun beberapa saja ayat Al-Qur’anul Karim dan Al-Hadits yang banyak mengandung power dan energi, kemudian perintah untuk melaksanakan amaliah dzikrullah.
Kami telah hitung jumlahnya, kira-kira 120 kali mengenai perintah untuk melaksanakan dzikrullah, tetapi kami hanya tuliskan beberapa saja disini. Motto:
1. ”Al Islaamu ‟ilmiyyun wa a‟maliyyun”.
2. ”Al Islaamu ya‟luu walaa yu‟laa ‟alaihi”
3. ”Believe in god is no longer merely a believe, but it has become to be a science of the highest dimension”. Ayat-ayat Qur’a dan Al-Hadits Yang Mengandung Teknologi
1. ”Andaikata Kami turunkan Al-Qur‟an ini diatas bukit, niscaya engkau akan melihat bukit itu tunduk hancur berantakkan demi takutnya kepada Allah Ta’ala. Dan PERUMPAMAAN ITU KAMI JADIKAN UNTUK MANUSIA AGAR MEREKA BERPIKIR” (A.S. Al Hasyir : 21)
2. ”Laa ilaaha illAllah, Kalimah Allah itu adalah perkataan-Ku, dan ia adalah Aku, siapa yang masuk ke dalam benteng-Ku terpeliharalah ia dari siksaan-Ku” (Hadits Qudsi riwayat Ibnu Najjar).
Komentar: KALIMAH ALLAH YANG diamalkan secara metodologi mampu memadamkan api peperangan (mengamankan dan mendamaikan dunia) sedangkan api neraka jahanam dapat dipadamkan oleh kekuatan KALIMAH ALLAH yang dahsyat, apalagi peperangan di dunia.
3. ”Allah ta’ala telah menetapkan bahwa tiada kamus kalah bagi-Ku dan Rasul-Rasul-Ku sesungguhnya Allah Maha Kuat dan Maha Gagah” (Q.S. Al Mujadilah, 21)
Konklusi: NAMA-Nya-pun MAHA KUAT dan MAHA GAGAH dan juga tidak mempunyai kamus kalah pula. Kalimah ALLAH inilah yang kita jadikan mata tombak dalam hidup kita dunia-akhirat. Oleh sebab itu Ia harus masuk juga dalam sukma (Ruh) kita, untuk memasukkannya ini harus memakai metodologi.
4. ”Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada ALLAH Ta’ala (termasuk banyak berdzikir dan shalat) dan carilah CARA (Metode) untuk menghampirkan diri kepada Allah subhanahuwata’ala dan berjihadlah (sungguh-sungguhlah berjuang, secara intensiflah beramal pada jalan-NYA itu, pada metode itu) supaya kamu menang (beruntung).” (Q.S. Al Maidah, 35)
5. ”Bukan engkau (ya Muhammad) yang melontar, memukul, memanah, ”menyebut” melainkan Allah.” (Q.S. Al Anfal : 17). KONKLUSI: NAMA ALLAH yang mengandung MAHA ENERGI harus mampu disalurkan dengan metodologi yang tepat pada sasaran-sasarannya.
6.”Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah (bersungguh-sungguhlah) kamu dan kuatkanlah kesabaranmu (tingkatkan kesabaranmu) dan tetaplah bersiap-siaga (kuatlah berpegang pada ilmu-ilmu-mu) dan bertaqwalah kepada Allah ta’ala, supaya kamu menang (beruntung).” (Q.S. Ali Imran, 200)
7.”Dan bahwasanya jika mereka tetap berdiri di atas metode yang benar, niscaya akan kami turunkan hujan (Rahmat) yang lebat (Kemenangan/Nikmat yang banyak)” (Q.S. Al jin, 16)
8.”Tiada akan datang kiamat (dunia) sehingga di muka bumi ini tiada lagi orang yang berdzikir Allah, Allah.” (HR. Muslim). (Dzikir Allah, Allah jelas dan tegas sebagai penangkal kiamat jagad ini.)
Komentar: Tidak akan terjadi atau tidak akan terjadi malapetaka kehancuran total dalam jagad raya ini yang disebabkan oleh tenaga apa sajapun, Kalau masih ada orang yang mampu menyalurkan tenaga Maha Dahsyat yaitu MAHA ENERGI dari KALIMATULLAHI HIYAL ULYA dengan memakai metodologinya yang tepat, untuk menghadapi dan menggagalkan kehancuran itu.
9. ”Permulaan Islam itu asing, dan akan kembali asing pula (juga asing bagi orang Islam sendiri), maka gembiralah orang-orang yang dianggap asing” (HR Muslim)
10. ”Akan datang pada umatku, suatu masa dimana Agama Islam tinggal namaya dan Al-Qur’an tinggal tulisannya.” (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi)
11. ”Al-Qur‟an tidak dapat disentuh (tidak dapat dimanfaatkan, tidak dapat berjaya) kecuali bagi orang yang disucikan (lahirnya dan bathinnya, jasmaninya dan rohaninya).” (Q.S. Al Waqi‟ah, 79)
Komentar: Mensucikan zahir juga harus dengan metode (yaitu cara bersuci dan berwudhu menurut Fiqih Islam). Mensucikan rohani juga harus dengan metode (yaitu dengan BERDZIKIR pada Allah dengan menggabungkan rohani kita lebih dulu dengan rohani RASULULLAH Shallallahualaihiwassalam dan kemudian barulah BERDZIKRULLAH, untuk itu diperlukan metode).
12. ”Islam ad13. ”Islam adalah Ilmiah dan Amaliah.” (HR. Imam Bukhari).
14. ”Atas nama Allah yang tidak memberi mudharat apa-apa yang di bumi dan di langit ialah bagi orang yang beserta dengan nama-Nya” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).
15. ”Laki-Laki dan perempuan yang banyak berdzikir kepada Allah subhanahuwata’ala maka Allah subhanahuwata’ala menjanjikan kepada mereka pengampunan dan pahala yang besar” (Q.S. Al Ahzab:35). (Sudah jelas dengan persiapan –persiapan yang cukup dan dengan metodologi, baru berhasil).
16. ”Hai jiwa yang tenang (suci), kembalilah kamu kamu kepada Tuhan-mu, dengan (hati) ridha dan diridha-i (Tuhan). Maka masuklah kamu dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah kamu ke dalam Syorga-Ku” (Q.S. Al Fajr, 27-30)
17. ”Tangan Allah ta’ala diatas tangan mereka.” (Q.S. Al Fath, 10).
18. Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku” (Q.S. Thaha : 42).
(Maka musnahlah Fir‟aun dan bala tentaranya serta semua tukang sihirnya, dihantam oleh KALIMAH ALLAH yang dihadapkan Musa as).
19. ”Tak dapat memuat akan zat-Ku, bumi dan langit-Ku. Yang dapat memuat akan zat-Ku, ialah hati hamba-Ku yang Mukmin, lunak dan tenang.” (Hadits Qudsi – Ahmad).
20. ”Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar/obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isra, 82)
21. ”Lazimkan olehmu memakai dua macam penawar/obat (yaitu) Madu dan Al-Qur’an.” (HR. Ibnu Majjah)
22.” Dan sesungguhnya andaikata ada suatu bacaan (kitab suci) yang dapat membuat gunung-gunung berjalan/berguncang dahsyat atau bumi dipotong potong/dibelah-belah atau orang-orang mati diajak bicara/dapat berbicara (niscaya kitab suci itu ialah Al-Qur’an. Dan mereka pun tidak juga mau beriman).”(QS.Ar-Ra‟ad,31)
23. ”Dan banyak sekali tanda-tanda (kebesaran) Allah di langit dan di bumi yang mereka lalu-lalang di atasnya, sedang mereka berpaling daripadanya (tidak mau merisetnya).”(QS. Yusuf, 105)
24. ”Wahai hamba-hambaKu, sesat kalian semuanya kecuali orang yang AKU beri petunjuk kepadanya.” ( Hadits Qudsi Riwayat Imam Bukhari)
25. ”Barang siapa yang diberi PETUNJUK OLEH ALLAH TA’ALA , maka dialah orang yang mendapatkan petunjuk. Dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah, subhnahauwata’ala maka baginya tidak akan mendapatkan seorang WALI MURSYID. ” (QS. Al -Kahfi, 17)
26. ”Maka berdzikirlah kamu akan daku, supaya aku berdzikir kepadamu, bersyukurlah kamu akan daku dan janganlah kamu menyangkal akan nikmatKu.” (QS. Al-Baqarah, 152)
27. ”Dan jikalau mereka telah menganiaya dirinya (berbuat dosa) lantas datang kepadamu (Hai Rasulullah), lalu mereka memohon ampunan kepada Allah dan Rasulpun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapati ALLAH MAHA PENERIMA TAUBAT lagi MAHA PENYAYANG.” (QS. An-Nisa, 64)
28. ”Sesungguhnya ALLAH subhanahuwata’ala dan para malaikatNya bersalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” ( QS. Al-Ahzab, 56)
29. ”Barang siapa bersalawat untukku satu kali, maka Allah subhanahuwata’ala membalas salawat untuknya sepuluh kali.” ( HR. Muslim)
30. ”Wahai orang-orang yang beriman. Jauhilah kebanyakan prasangka buruk. Sesungguhnya sebagian prasangka buruk itu adalah dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain.” (Q.S. Al Hujurat 12)
31. ”Hai orang orang yang beriman. Janganlah hendaknya satu kaum mencela kaum yang lain dengan bentuk apapun juga, boleh jadi mereka yang dicela lebih baik dari mereka yang mencela.” (QS. Al-Hujurat, 11)
32. ”Tiada satu kaumpun berkumpul untuk BERDZIKIR kepada Allah subhanahuwata’ala dengan tujuan hanya mendapatkan keridhaanNya melainkan ada seorang malaikat berseru dari langit bahwa berdirilah kamu dosa-dosa-mu telah diampuni dan kejahatan kejahatanmu telah diganti dengan kebaikan .”( H.R Ahmad, Bazzar, Abu a‟la dan Thabrani)
14
14.Karomah Sahabat-Sahabat Rasulullah Shalllahualaihiwassalam
Dihubungkan dengan berbagai refleksi do’a alfitrah
Karomah Abu Bakar Ash-Sidiq R.a Yang Mengetahui Kematiannya
‘Aisyah bercerita, ‘Ayahku (Abu Bakar Ash-Shiddiq) memberiku 20 wasaq kurma (1 wasaq = 60 gantang) dari hasil kebunnya di hutan. Menjelang wafat, beliau berwasiat, `Demi Allah, wahai putriku, tidak ada seorang pun yang lebih aku cintai ketika aku kaya selain engkau, dan lebih aku muliakan ketika miskin selain engkau. Aku hanya bisa mewariskan 20 wasaq kurma, dan jika lebih, itu menjadi milikmu. Namun, pada hari ini, itu adalah harta warisan untuk dua saudara laki-laki dan dua saudara perempuanmu, maka bagilah sesuai aturan Al-Qur’an.’
Lalu aku berkata, “Ayah, demi Allah, berapa pun jumlah harta itu, aku akan memberikannya untuk Asma’, dan untuk siapa lagi ya?’”
Abu Bakar menjawab, `Untuk anak perempuan yang akan lahir.”‘ (Hadis shahih dari `Urwah bin Zubair)
Menurut Al Taj al-Subki, kisah di atas menjelaskan bahwa Abu Bakar Ash Shidiq R.a. memiliki dua karomah.
Pertama, mengetahui hari kematiannya ketika sakit, seperti diungkapkan dalam perkataannya, “Pada hari ini, itu adalah harta warisan.”
Kedua, mengetahui bahwa anaknya yang akan lahir adalah perempuan. Abu Bakar mengungkapkan rahasia tersebut untuk meminta kebaikan hari Aisyah agar memberikan apa yang telah diwariskan kepadanya kepada saudara-saudaranya, memberitahukan kepadanya tentang ketentuan-ketentuan ukuran yang tepat, memberitahukan bahwa harta tersebut adalah harta warisan dan bahwa ia memiliki dua saudara perempuan dan dua saudara laki-laki.
Indikasi yang menunjukkan bahwa Abu Bakar meminta kebaikan hati ‘Aisyah adalah ucapannya yang menyatakan bahwa tidak ada seorang pun yang ia cintai ketika ia kaya selain `Aisyah (puterinya). Adapun ucapannya yang menyatakan bahwa warisan itu untuk dua saudara laki-laki dan dua saudara perempuanmu menunjukkan bahwa mereka bukan orang asing atau kerabat jauh.
Ketika menafsirkan surah Al-Kahfi, Fakhrurrazi sedikit mengungkapkan karamah para sahabat, di antaranya karamah Abu Bakar R.a. Ketika jenazah Abu Abu Bakar dibawa menuju pintu makam Nabi Shalllahulahiwassalam, jenazahnya mengucapkan
“Assalamu ‘alaika yaa Rasulullah, Ini aku Abu Bakar telah sampai di pintumu.”
Mendadak pintu makam Nabi terbuka dan terdengar suara tanpa rupa dari makam, “Masuklah wahai kekasihku ( Abu Bakar )”
Ali bin Abi Thalib R.a : Berbicara Pada Penghuni Kubur
Sid bin Musayyab menceritakan bahwa ia dan para sahabat menziarahi makam-makam di Madinah bersama Ali bin Abi Thalib R.a.
Ali bin Abi Thalib R.a lalu berseru, “Wahai para penghuni kubur, semoga dan rahmat dari Allah senantiasa tercurah kepada kalian, beritahukanlah keadaan kalian kepada kami atau kami akan memberitahukan keadaan kami kepada kalian.”
Lalu terdengar jawaban, “Semoga keselamatan, rahmat, dan berkah dari Allah senantiasa tercurah untukmu, wahai Amirul Mukminin. Kabarkan kepada kami tentang hal-hal yang terjadi setelah kami.”
Ali bin Abi Thalib R.a berkata, “Isteri-isteri kalian sudah menikah lagi, kekayaan kalian sudah dibagi, anak-anak kalian berkumpul dalam kelompok anak-anak yatim, bangunan-bangunan yang kalian dirikan sudah ditempati musuh-musuh kalian. Inilah kabar dari kami, lalu bagaimana kabar kalian?”
Salah satu mayat menjawab, “Kain kafan telah koyak, rambut telah rontok, kulit mengelupas, biji mata terlepas di atas pipi, hidung mengalirkan darah dan nanah. Kami mendapatkan pahala atas kebaikan yang kami lakukan dan mendapatkan kerugian atas kewajiban yang yang kami tinggalkan. Kami bertanggung jawab atas perbuatan kami.” (Riwayat Al-Baihaqi)
Karomah Abu Bakar R.a, Makanan Jadi Lebih Banyak
Kisah ini diceritakan oleh ‘Abdurrahman bin Abu Bakar Ash Shidiq R.a, bahwa ayahnya datang bersama tiga orang tamu hendak pergi makan malam dengan Nabi Muhammad Shalllahulahiwassalam. Kemudian mereka datang setelah lewat malam.
Isteri Abu Bakar bertanya, “Apa yang bisa kau suguhkan untuk tamumu?”
Abu Bakar balik bertanya, “Apa yang kau miliki untuk menjamu makan malam mereka?”
Sang isteri menjawab, ‘Aku telah bersiap-siap menunggu engkau datang.”
Abu Bakar berkata, “Demi Allah, aku tidak akan bisa menjamu mereka selamanya.”
Abu Bakar mempersilakan para tamunya makan. Salah seorang tamunya berujar, “Demi Allah, setiap kami mengambil sesuap makanan, makanan itu menjadi bertambah banyak. Kami merasa kenyang, tetapi makanan itu malah menjadi lebih banyak dari sebelumnya.”
Abu Bakar melihat makanan itu tetap seperti semula, bahkan jadi lebih banyak, lalu dia bertanya kepada istrinya, “Hai ukhti Bani Firas, apa yang terjadi?”
Sang isteri menjawab, “Mataku tidak salah melihat, makanan ini menjadi tiga kali lebih banyak dari sebelumnya.”
Abu Bakar menyantap makanan itu, lalu berkata, “Ini pasti ulah setan.”
Akhirnya Abu Bakar membawa makanan itu kepada Rasulullah Shallallahualaihiwassalam dan meletakkannya di hadapan beliau. Pada waktu itu, sedang ada pertemuan antara kaum muslimin dan satu kaum. Mereka dibagi menjadi 12 kelompok, hanya Allah Yang Maha Tahu berapa jumlah keseluruhan hadirin. Beliau menyuruh mereka menikmati makanan itu, dan mereka semua menikmati makanan yang dibawa Abu Bakar. (HR Bukhari dan Muslim)
Kisah Karomah Utsman bin ‘Affan R.a
Dalam kitab Al-Thabaqat, Taj al-Subki menceritakan bahwa ada seorang laki-laki bertamu kepada Utsman. Laki-laki tersebut baru saja bertemu dengan seorang perempuan di tengah jalan, lalu ia menghayalkannya.
Utsman berkata kepada laki-laki itu, “Aku melihat ada bekas zinah di matamu.”
Laki-laki itu bertanya, “Apakah wahyu masih diturunkan setelah Rasulullah Shalllahulahiwassalam wafat?”
Utsman menjawab, “Tidak, ini adalah firasat seorang mukmin.”
Utsman bin Affan R.a. mengatakan hal tersebut untuk mendidik dan menegur laki-laki itu agar tidak mengulangi apa yang telah dilakukannya.Selanjutnya Taj al-Subki menjelaskan bahwa bila seseorang hatinya jernih, maka ia akan melihat dengan nur Allah, sehingga ia bisa mengetahui apakah yang dilihatnya itu kotor atau bersih.
Maqam orang-orang seperti itu berbeda-beda. Ada yang mengetahui bahwa yang dilihatnya itu kotor tetapi ia tidak mengetahui sebabnya. Ada yang maqamnya lebih tinggi karena mengetahui sebab kotornya, seperti Utsman R .a. Ketika ada seorang laki-laki datang kepadanya, `Utsman dapat melihat bahwa hati orang itu kotor dan mengetahui sebabnya yakni karena menghayalkan seorang perempuan.
Ibnu Umar bin Khattab R.a menceritakan bahwa Jahjah al- Ghifari mendekati Utsman bin Affan R.a. yang sedang berada di atas mimbar. Jahjah merebut tongkat Utsman, lalu mematahkannya. Belum lewat setahun, Allah Subhanahuwata’ala menimpakan penyakit yang menggerogoti tangan Jahjah, hingga merenggut kematiannya. (Riwayat Al-Barudi dan Ibnu Sakan)
Kisah Karomah Ali bin Abi Thalib R.a : Menyembuhkan Orang Lumpuh
Kisah Ali bin Abi Tholib R.a ini terdapat dalam kitab Al-Tabaqat, Taj al-Subki meriwayatkan bahwa pada suatu malam, Ali bin Abi Tholib R.a dan kedua anaknya, Hasan R.a dan Husein R.a mendengar seseorang bersyair :
“Hai Dzat yang mengabulkan do’a orang yang terhimpit kedzaliman
Wahai Dzat yang menghilangkan penderitaan, bencana, dan sakit
Utusan-Mu tertidur di rumah Rasulullah shallalllahu alaihi wassalam sedang orang-orang kafir mengepungnya
Dan Engkau Yang Maha Hidup lagi Maha Tegak tidak pernah tidur
Dengan kemurahan-Mu, ampunilah dosa- dosaku
Wahai Dzat tempat berharap makhluk di Masjidil Haram
Kalau ampunan-Mu tidak bisa diharapkan oleh orang yang bersalah
Siapa yang akan meng-anugerahi nikmat kepada orang-orang yang durhaka.”
Ali bin Abi Thalib R.a lalu menyuruh orang mencari si pelantun syair itu. Pelantun syair itu datang menghadap Ali bin Abi Thalib seraya berkata, “Aku, yaa Amirul mukminin!”
Laki- laki itu menghadap sambil menyeret sebelah kanan tubuhnya, lalu berhenti di hadapan Ali bin Abi Thalib R.a.
Ali bin Abi Thalib R.a bertanya, “Aku telah mendengar syairmu, apa yang menimpamu?”
Laki-laki itu menjawab, “Dulu aku sibuk memainkan alat musik dan melakukan kemaksiatan, padahal ayahku sudah menasihatiku bahwa Allah memiliki kekuasaan dan siksaan yang pasti akan menimpa orang-orang dzalim. Karena ayah terus-menerus menasihati, aku memukulnya. Karenanya, ayahku bersumpah akan mendo’akan keburukan untukku, lalu ia pergi ke Mekkah untuk memohon pertolongan Allah. Ia berdo’a, belum selesai ia berdo’a, tubuh sebelah kananku tiba-tiba lumpuh. Aku menyesal atas semua yang telah aku lakukan, maka aku meminta belas kasihan dan ridha ayahku sampal la berjanji akan mendo’akan kebaikan untukku jika Ali mau berdo’a untukku. Aku mengendarai untanya, unta betina itu melaju sangat kencang sampai terlempar di antara dua batu besar, lalu mati di sana.”
Ali bin Abi Tholib R.a lalu berkata, “Allah akan meridhaimu, kalau ayahmu meridhaimu.”
Laki-laki itu menjawab, “Demi Allah, demikianlah yang terjadi.”
Kemudian Ali berdiri, shalat beberapa rakaat, dan berdo’a kepada Allah dengan pelan, kemudian berkata, “Hai orang yang diberkahi, bangkitlah!”
Laki-laki itu berdiri, berjalan, dan kembali sehat seperti sedia kala.
”Jika engkau tidak bersumpah bahwa ayahmu akan meridhaimu, maka aku tidak akan mendo’akan kebaikan untukmu.” `Kata Ali bin Abi Tholib
Karomah Amirul Mukminin Umar bin Khattab R.a
Umar bin Khattab adalah sahabat Rasul yang diberi karomah dapat berbicara dengan Tuhan. Rasulullah Shallllahulaihiwassalam bersabda, “Sungguh pada umat terdahulu terdapat Muhaddatsun, yakni orang-orang yang berbicara dengan Tuhan. Jika salah seorang mereka ada pada umatku, maka tentu Umar bin al-Khattab”.
Allah Subhanahuwata’ala telah memberikan al-firasah kepada al-muhaddats (seorang Wali mitra dialog Allah Subhnahuwata’ala ) karena hijab di antara Wali dengan Allah Subhanahuwata’ala sudah terangkat, Firasat seperti inilah yang dialami oleh Umar bin Khattab ketika beliau berdasar ilham berbicara dimimbar di madinah (sedang ceramah di masjid nabawi), memberikan perintah kepada Sariyah ibn Zunaym, panglima tentaranya (yang pada saat itu sedang berperang dan tentaranya kocar-kacir terkepung pasukan kafir di Irak/persia).
Umar bin Khattab berkata (berteriak) : “Wahai Sariyah ibn Zunaym, di atas bukit! di atas bukit!”.
Para tentara (muslimin) yang sedang berperang di Irak itu mendengar perintah Umar bin Khattab, padahal mereka berada di tempat yang sangat jauh dalam jarak perjalanan satu bulan dari madinah.
Mereka (pasukan muslimin) kemudian menuju ke atas bukit itu dan memperoleh kemenangan atas musuh, berkat pertolongan Allah Subhnahuwata’ala melalui perintah Umar bin Khattab R.a tersebut” (Apakah Wali itu ada?)
Karomah Syeikh Abdul Qodir Jailani : Mujahadah
Syeikh Abu Suud al-Harimi meriwayatkan bahwa beliau pernah mendengar Syeikh Abdul Qodir berkata, “Selama 25 tahun aku mendiami padang pasir iraq, tidak pernah bertemu dengan orang dan ditemukan orang. Pada masa itu, sekelompok jin dan Rijal ghaib datang kepadaku dan aku mengajarkan jalan menuju Allah Subhnahauwata’ala kepada mereka. Nabi Khidir A.s menemaniku pada saat aku tiba di Iraq untuk pertama kali walaupun dan aku tidak pernah berjumpa dengan beliau sebelumnya. Beliau mengajukan syarat kepadaku untuk tidak membantahnya dan berkata kepadaku, “Duduk disini”.
Aku pun duduk ditempat itu selama tiga tahun dan setiap tahun beliau mendatangiku dan berkata, “Tetap ditempatmu sampai aku datang”.Pada masa itu, dunia serta segala kemewahan dan keindahannya menjelma dan datang kepadaku namun Allah Subhnahauwwata’ala melindungiku dari semua itu. Kemudian setan mendatangiku dengan bentuk yang menakutkan dan memerangiku namun Allah Subhnahuwata’ala menguatkanku. Allah Subhnahuwata’ala tampakkan pula nafsuku dalam bentuk yang terkadang tunduk kepada apa yang aku inginkan tapi kadang pula memerangiku dan Allah Subhnahuwata’ala memenangkan aku atas dirinya. Semua metode mujahadah aku jalani pada masa awal perjalanan spiritualku. Bertahun-tahun lamanya aku menempati pinggiran kota menempa diri. Adakalanya selama setahun aku hanya memakan makanan sisa dan tidak minum. Kemudian pada tahun berikutnya, aku hanya minum dan tidak makan kemudian pada tahun berikutnya tidak makan dan minum serta tidak tidur selama setahun.
Pada suatu malam yang sangat dingin aku tertidur di Iwan al-Kisra dan bermimpi basah. Aku bangun dan langsung mandi kemudian tidur dan kembali bermimpi. Aku kembali bangun, pergi ke sungai dan mandi besar. Pada malam itu aku berjunub dan mandi sebanyak 40 kali. Akhirnya aku memanjat menara (Iwan) karena takut akan bermimpi lagi.
Bertahun-tahun aku hanya tinggal disebuah gubuk reyot dan hanya makan kain bajuku. Setiap tahun seseorang memakai jubah sufi datang kepadaku dan memasukkan aku ke 1000 fan hingga aku melupakan dunia. Saat itu aku hanya dikenal sebagai si bodoh atau si gila dan berjalan dengan bertelanjang kaki. Aku selalu melewati rintangan yang ada dan tidak takluk kepada nafsu dan tdk pula tergoda dengan kemewahan dunia” (Mahkota Para Aulia, 2005)
Karomah Syeikh Abdul Qodir Jailani : Bertemu Nabi Khidir A.s
Taqiyuddin Muhammad al-Waidz al-Lubnani dalam kitabnya Al-Mausum bi Raudhah al-Abrar wa Mahasin al-Akhyar meriwayatkan ketika Syeikh Abdul Qodir di usia 18 tahun hendak memasuki kota Baghdad, beliau menjumpai Nabi Khidir A.s berdiri didepan pintu, menghalanginya masuk dan berkata, “Aku tidak memiliki perintah yang memperbolehkanmu memasuki baghdad hingga 7 tahun ke depan”.
Syeikh Abdul Qodir akhirnya bermukim ditepian Baghdad dan hidup dari sisa-sisa makanan selama 7 tahun.Hingga pada suatu malam ditengah hujan deras, sebuah suara berkata kepadanya, “Abdul Qodir, masuklah ke baghdad”.
Beliau pun memasuki Baghdad dan menuju ke musholla Syeikh Hamad bin Muslim ad-Dabbas. Sebelum beliau tiba syaikh Hamad memerintahkan murid-muridnya untuk mematikan lampu dan menutup semua pintu.
Ketika tiba dan mendapati pintu tertutup serta lampu sudah dimatikan, Syeikh Abdul Qodir duduk didepan pintu dan tertidur lalu bermimpi basah. Bangun dari tidurnya beliau langsung mandi besar lalu kembali tidur dan kembali bermimpi. Beliau kemudian bangun dan mandi besar. Hal tersebut terus terulang sebanyak 17 kali.
Saat shubuh tiba, pintu dibuka dan masuklah Syeikh Abdul Qodir.
Syeikh Hamad bangkit menyambutnya, memeluknya dan menangis sambil berkata, “Anakku Abdul Qodir, saat ini negeri ini milik kami dan besok akan menjadi milikmu. Apabila engkau berkuasa kelak, berlaku adillah terhadap orang tua ini”. (Mahkota Para Aulia, 2005)
Karomah Anas bin Malik R.a dan Umar bin Khottob R.a
Sosok Anas bin Malik R.a sangatlah sederhana. Anas bin Malik sebagai seorang sahabat banyak sekali memiliki kekurangan. Anas adalah orang yang tidak memiliki keahlian, apalagi dalam hal berperang serta dikenal kurang pintar. Namun Umar bin Khattab malah memberikan Anas kepercayaan untuk selalu mendampinginya dalam melakukan perjalanan mensyiarkan syariat islam.
Dibalik kekurangannya itu, Anas ternyata seorang yang taat dalam beribadah. Selain itu kebaikan hati yang ia miliki menjadikan Umar bin Khattab semakin mempercayainya. Suatu hari Umar mengajak Anas untuk mendampinginya melakukan perjalanan menuju suatu daerah. “Anas bin Malik, maukah kau menemaniku melakukan perjalanan?” tanya Umar bin Khattab pada Anas yang sedang berdzikir.
Ternyata Anas diam tidak menjawab pertanyaan Umar bin Khattab. Sehingga Umar bin Khattab bergegas meninggalkan Anas karena mengira tidak mau menemaninya.
DIKEPUNG PERAMPOK
Jauh sudah perjalanan Umar bin Khattab dalam melakukan perjalanan, tapi tanpa disadari Umar bin Khattab, Anas sudah berada dibelakangnya. Anas yang sudah ketinggalan jauh tiba-tiba berada didekat Umar bin Khattab.
Umar bin Khattab yang baru menyadari itu langsung tercengang karena kaget. “Sejak kapan kau berada dibelakangku?” tanya Umar bin Khattab pada Anas
“Aku mulai berangkat menyusulmu seusai sholat ashar dan aku melihat bayanganmu, akhirnya aku ada dibelakangmu “jawab Anas dengan lugunya.
Betapa Umar bin Khattab makin terkejut, karena ia berangkat sudah sehari sebelumnya, tepatnya seusai sholat malam ia baru memulai perjalanan. Ia yakin perjalanan yang ia tempuh sudah sangat jauh. Tapi Anas yang baru saja berangkat langsung bisa menyusulnya. Walaupun Umar bin Khattab terkagum-kagum menyadari keajaiban itu, Umar bin Khattab hanya hanya diam dan tersenyum sendiri.
Pada perjalanan malam, sampailah mereka ditempat yang sangat sepi dan gelap. Mereka memutuskan untuk beristirahat. Tidak lama beristirahat, tiba-tiba ada lima perampok. Anas yang tidak memiliki keahlian apapun sangat kebingungan, karena tidak tahu harus melakukan apa untuk menyelamatkan Umar bin Khattab. Akhirnya Anas mengajak Umar bin Khattab untuk menaiki kuda dan mengendalikan kudanya sekencang-kencangnya. Namun, perampok itu juga menaiki kudanya dan lebih kencang dari mereka berdua. Perampok itu terus mengejar Umar bin Khattab dan Anas.
Sampai akhirnya perampok itu berhasil menyusul Anas dan Umar bin Khattab. Perampok itu mengeluarkan pisau untuk menodong. Anas yang kala itu berdo’a terus agar bisa melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Umar bin Khattab, secara tiba-tiba kuda perampok itu langsung berhenti dan tidak mau digerakkan. Ternyata do’a Anas adalah, “Ya Allah, aku mohon hentikan kuda perampok itu”.
BERKUDA DI LAUT
Anas dan Umar bin Khattab terus menunggangi kuda dengan sangat kencang dan mereka tidak memperhatikan jalan yang mereka lewati, sampai akhirnya mereka tersesat disuatu tempat yang sudah tidak ada jalan dan didepannya hanya ada laut. Belum sempat Umar bin Khattab menuturkan satu kata pun pada Anas, Anas langsung bertanya, “Kenapa berhenti hai wahai Umar Ibn Khattab?”
“Bagaimana aku bisa menjalankan kuda ini, jika jalan yang harus kita lewati adalah laut” jawab Umar bin Khattab
“Insya Allah kita bisa melewati jalan ini, Bismillah” tutur Anas sembari menjalankan kudanya menyebarangi laut yang berada didepannya.
Umar bin Khattab pun langsung mengikuti Anas dan betapa terkejutnya Umar bin Khattab, karena ia dan Anas benar-benar bisa melewati lautan yang luas itu. Kuda terus berjalan seolah terbang di atas lautan. Setibanya didaratan, Umar bin Khattab meminta Anas untuk beristirahat.
“Baiklah Umar, kita istirahat disini, aku juga sangat lelah”jawab Anas
Sewaktu Anas pergi untuk mencari buah-buahan, Umar bin Khattab terkejut setelah menyentuh kaki kudanya yang tetap kering meski melewati lautan, “Sungguh keajaiban” tutur Umar bin Khattab dalam hati. (Kisah Hikmah, 2011)
Karomah Syekh Abdul Qadir Jailani : Godaan Iblis
Syeikh Utsman Shairafi meriwayatkan bahwa Syeikh Abdul Qodir bercerita, “Siang maupun malam aku tinggal di padang pasir, bukan di baghdad. Sepanjang masa itu, para setan mendatangiku berbaris dengan rupa yang menakutkan, menyandang senjata dan melontari aku dengan api. Namun, saat itu pula aku mendapatkan keteguhan dalam hati yang tak dapat aku ceritakan dan aku mendengar suara dari dalam hatiku yang berkata, “Bangkit Abdul Qodir, telah Kami teguhkan engkau dan Kami dukung engkau”
dan ketika aku bangkit mereka pun kocar-kacir, kembali ke tempat mereka semula.
Setelah itu ada satu setan mendatangiku dan mengancamku dengan berbagai ancaman. Aku bangun dan menamparnya hingga dia lari pontang-panting. Kemudian aku baca “Laa Haula Wala Quwwata illa Billah Al-Ali Al-Adzim” (tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Subhnahuwata’ala ) dan terbakarlah dia.
Di lain waktu setan mendatangiku dalam rupa seorang yang buruk rupa dan berbau busuk, dia berkata kepadaku, “aku iblis datang untuk melayanimu karena aku dan para pengikutku telah putus asa terhadap dirimu”.
“Pergi” cetusku kepadanya,
“Aku tidak percaya dengan apa yang engkau ucapkan”. Saat itu muncul tangan dari langit memukul ubun-ubunnya hingga iblis tersebut terbenam kedalam bumi.
Kedua kalinya, iblis tersebut mendatangiku dengan membawa sebuah bola api untuk menghancurkan aku. Ketika itu datanglah seorang berjubah yang mengendarai seekor kuda memberikan sebilah pedang kepadaku. Melihat hal ini sang iblis mundur, tidak jadi menyerangku.
Ketiga kalinya, aku melihat iblis duduk jauh dariku sambil menaburkan tanah diatas kepalanya seraya berkata, “aku putus asa terhadap dirimu wahai Abdul Qodir”. Aku tetap curiga kepadamu” jawabku kepadanya.
Mendengar jawabanku si iblis berkata, “ini lebih dahsyat daripada bala”
Kemudian disingkapkan kepadaku berbagai jaring.
“apa ini?” tanyaku.
“Ini” jawab sebuah suara “adalah jaring-jaring dunia yang menjerat orang-orang sepertimu”.
Aku pun berpaling dan melarikan diri darinya. Aku habiskan satu tahun untuk memeranginya hingga aku dapat lepas dari semua itu. Setelah itu disingkapkan kepadaku berbagai sebab yang berhubungan dengan diriku.
“Apa ini?” tanyaku.
“Ini adalah sebab musabab kemakhlukan yang berhubungan dengan dirimu” jawab sebuah suara kepadaku. Aku pun menghadapinya selama satu tahun sampai hatiku dapat lepas dari semua itu.
Tahap selanjutnya, disingkapkan kepadaku isi dadaku dan aku melihat hatiku bergantung kepada berbagai hubungan. Aku kembali bertanya, “Apa ini?”.
Suara tersebut menjawab, “Ini adalah kemauan dan pilihanmu”.
Jawaban tersebut membuatku menghabiskan satu tahun lainnya untuk memerangi hingga aku dapat lepas dari semua itu.
Berikutnya disingkapkan kepadaku jiwaku dan aku melihat berbagai penyakitnya masih bercokol, hawa nafsunya masih hidup dan setan yang ada didalamnya masih melawan. Aku memerlukan setahun lainnya untuk memerangi semua itu hingga berbagai penyakit hati hilang, hawa nafsunya mati, dan setan berhasil aku tundukkan. Dengan demikian segala sesuatu hanya untuk Allah Subhnahuwata’ala semata.
Pada tahap ini, aku benar-benar sendiri, semua yang eksis aku tinggalkan dibelakang dan aku tetap belum berhasil mencapai JUNJUNGANKU. Aku seret diriku ke pintu tawakal agar dapat masuk menemui-Nya. Namun setibanya aku dipintu tersebut, aku mendapatkan kerumunan orang yang membuatku mundur. Begitu pula dipintu syukur, kekayaan, kedekatan, penyaksian (musyahadah), semuanya penuh dengan orang-orang. Akhirnya aku menyeret diriku ke pintu kefakiran. Aku dapati pintu tersebut kosong dari orang-orang, maka aku memasukinya dan mendapatkan dalamnya berisi semua yang aku tinggalkan dan HARTA KARUN PALING BESAR DAN KEMULIAAN PALING AGUNG (Allah Subhnahuwata’ala ).
(Mahkota Para Aulia, 2005)
Karomah Syeikh Abdul Qodir Jailani : Kejujuran
Syeikh Muhammad bin Qaid al-Awani meriwayatkan : Pada suatu hari beliau bertanya kepada sang Syeikh, “Apa yang membuatmu dapat meraih derajad ini?”
Beliau menjawab, “Kejujuran, tidak pernah sekalipun aku berbohong bahkan ketika aku masih menuntut ilmu”.
Kemudian Syeikh Abdul Qodir melanjutkan, “Ketika tiba hari arafah saat aku kecil, aku pergi kesekitar Baghdad dan menggembala sapi.
Tiba tiba sapi tadi menolehkan kepalanya kepadaku dan berkata, “Abdul Qodir! Bukan untuk ini engkau diciptakan”.
Masih dalam keadaan terkejut aku pulang ke rumah dan naik ke atas atap. Disana aku melihat orang-orang sedang melaksanakan Wukuf di Arafah. Aku turun dan berkata kepada ibuku, “Ibu, serahkan diriku kepada Allah Subhnahuwata’ala dan izinkan aku pergi ke Baghdad menuntut ilmu”.
Ketika beliau menanyakan apa yang menyebabkan aku mengajukan permintaan tersebut, aku pun menceritakan kisah di atas dan beliau menangis. Kemudian beliau mengambil 80 dinar uang peninggalan ayahku dan memberikannya kepadaku. Aku tinggalkan 40 dinar untuk adikku dan ibu menjahitkan uang tersebut dibalik bajuku. Beliau memintaku untuk berjanji akan selalu jujur dalam kondisi apapun. Aku menyanggupi hal tersebut. Ketika akan melepasku pergi, beliau berkata kepadaku, “Pergilah, aku serahkan engkau kepada Allah Subhnahuwata’ala . Wajah ini tidak akan aku lihat lagi sampai hari kiamat”.
Aku pun pergi ke Baghdad mengikuti sebuah khafilah kecil. Namun setibanya kami di Rabik, daerah selatan Hamdzaan, muncul 60 orang perampok yang merampok khafilah tersebut tanpa memperdulikan diriku. Salah seorang perampok tersebut berkata kepadaku, “Hai orang miskin, apa yang engkau miliki?”.
“40 dinar” jawabku.
“Dimana uang tersebut” tanyanya kembali.
“Dijahitkan dalam bajuku dibawah ketiak” jawabku.
Mengira aku bercanda, perampok tersebut pergi dan tidak memperdulikan aku. Kemudian datang perampok lainnya dan menanyakan pertanyaan yang sama. Aku pun menjawabnya dengan jawaban yang sama. Kali ini perampok tersebut melaporkan apa yang dia dengar kepada ketuanya yang sedang membagi-bagi hasil rampokan disebuah bukit kecil.
Mendengar laporan tersebut, kepala perampok itu berkata, “Bawa dia kemari”.
Dihadapannya, kepala rampok tersebut menanyakan pertanyaan yang sama dan aku kembali menjawabnya dengan jawaban yang sama. Dia lalu memerintahkan anak buahnya untuk melepaskan bajuku, menyobek jahitannya dan mereka menemukan uang tersebut.
“Mengapa engkau melakukan ini?” tanya kepala rampok kepadaku.
“Aku telah berjanji kepada ibuku untuk tidak berbohong dan aku tidak ingin mengingkari janjiku kepadanya” jawabku.
Kepala perampok tersebut menangis mendengar jawabanku dan berkata, “Engkau tidak mau mengkhianati janjimu kepada ibumu sedangkan aku hingga saat ini selalu mengingkari janji Allah Subhnahauwata’ala ”.
Kepala perampok itu pun bertobat ditanganku.
Melihat hal tersebut para pengikutnya berkata, “Engkau ketua kami dalam hal merampok. Sekarang engkau ketua kami dalam hal taubat”,
dan mereka semua bertaubat dan mengembalikan apa yang mereka ambil dari khafilah tersebut. Merekalah orang-orang pertama yang bertobat ditanganku” (Mahkota Para Aulia, 2005)
Karomah Syeikh Abdul Qodir Jailani : Melihat Malaikat
Saat ada yang bertanya kepada beliau, “Kapan engkau mengetahui bahwa dirimu adalah wali Allah Subhnahuwata’ala ?”
Syeikh Abdul Qodir Jailani menjawab, “Aku berusia 10 tahun ketika melihat para malaikat berjalan disampingku saat aku berangkat ke sekolah. Dan setibanya disana, para malaikat tersebut berkata, “Berikan jalan bagi wali Allah’ sampai aku duduk.
Pada suatu hari, seseorang lewat dihadapanku dan dia mendengar para malaikat mengatakan hal tersebut.
Dia bertanya kepada salah seorang malaikat tersebut, “Ada apa dengan anak kecil ini?”.
Sang malaikat berkata, “Ini sudah ditakdirkan dari bait Al-Asyraf (rumah paling mulia/ arsy)”.
Beliau berkata, “Anak ini akan menjadi orang besar. Dia telah diberi anugerah yang tak dapat ditolaknya, dibukakan hijabnya dan telah didekatkan”.
Empat puluh tahun kemudian aku baru mengetahui bahwa orang tersebut adalah salah seorang abdal pada saat itu”
Syeikh Abdul Qodir berkata, “Setiap kali muncul keinginan dalam diriku untuk bermain bersama anak-anak lain, aku mendengar suara yang berkata, “Kemarilah wahai Mubarak (orang yang diberkahi)”. Aku ketakutan dan bersembunyi dikamar ibuku…” (Mahkota Para Aulia, 2005)
Karomah Dzun Nun al-Misri
Pengarang kitab al-Risalah al-Qusyairiyyah bercerita bahwa Salim al-Maghriby menghadap Dzun nun dan bertanya “Wahai Abu al-Faidl!” begitu ia memanggil demi menghormatinya.
“Apa yang menyebabkan Tuan bertaubat dan menyerahkan diri sepenuhnya pada Allah Subhnahuwata’ala ?“
“Sesuatu yang menakjubkan, dan aku kira kamu tidak akan mampu.” Begitu jawab al-Misri seperti sedang berteka-teki.
Al-Maghriby semakin penasaran “Demi Dzat yang engkau sembah, ceritakan padaku.”
Lalu Dzun nun berkata: “Suatu ketika aku hendak keluar dari Mesir menuju salah satu desa lalu aku tertidur di padang pasir. Ketika aku membuka mata, aku melihat ada seekor anak burung yang buta jatuh dari sangkarnya.
Coba bayangkan, apa yang bisa dilakukan burung itu. Dia terpisah dari induk dan saudaranya. Dia buta tidak mungkin terbang apalagi mencari sebutir biji.
Tiba-tiba bumi terbelah. Perlahan-lahan dari dalam muncul dua mangkuk, yang satu dari emas satunya lagi dari perak. Satu mangkuk berisi biji-bijian Simsim, dan yang satunya lagi berisi air. Dari situ dia bisa makan dan minum dengan puas. Tiba-tiba ada kekuatan besar yang mendorongku untuk bertekad: “Cukup… aku sekarang bertaubat dan total menyerahkan diri pada Allah Subhnahuwata’ala . Aku pun terus bersimpuh di depan pintu taubat-Nya, sampai Dia Yang Maha Asih berkenan menerimaku”.
Imam al-Nabhani dalam kitabnya “Jami’ al-Karamaat“ mengatakan: “Diceritakan dari Ahmad bin Muhammad al-Sulami: “Suatu ketika aku menghadap pada Dzun nun, lalu aku melihat di depan beliau ada mangkuk dari emas dan di sekitarnya ada kayu menyan dan minyak Ambar. Lalu beliau berkata padaku “engkau adalah orang yang biasa datang ke hadapan para raja ketika dalam keadaan bergembira.”
Menjelang aku pamit beliau memberiku satu dirham. Dengan izin Allah uang yang hanya satu dirham itu bisa aku jadikan bekal sampai kota Balkh (kota di Iran).
Suatu hari Abu Ja’far ada di samping Dzun Nun. Lalu mereka berbicara tentang ketundukan benda-benda pada wali-wali Allah Subhnahauwata’ala .
Dzun nun mengatakan “Termasuk ketundukan adalah ketika aku mengatakan pada ranjang tidur ini supaya berjalan di penjuru empat rumah lalu kembali pada tempat asalnya.”Maka ranjang itu berputar pada penjuru rumah dan kembali ke tempat asalnya.
Imam Abdul Wahhab al-Sya’roni mengatakan: “Suatu hari ada perempuan yang datang pada Dzun nun lalu berkata “Anakku telah dimangsa buaya.”
Ketika melihat duka yang mendalam dari perempuan tadi, Dzun nun datang ke sungai Nil sambil berkata “Yaa Allah… keluarkan buaya itu.”
Lalu keluarlah buaya, Dzun nun membedah perutnya dan mengeluarkan bayi perempuan tadi, dalam keadaan hidup dan sehat. Kemudian perempuan tadi mengambilnya dan berkata “Maafkanlah aku, karena dulu ketika aku melihatmu selalu aku merendahkanmu. Sekarang aku bertaubat kepada Allah Subhanahauwata’ala .”
Demikianlah sekelumit kisah perjalanan hidup waliyullah, sufi besar Dzun Nun al-Misry yang wafat pada tahun 245 H, semoga Allah me-ridlai-nya.
Karomah Rabiah al-‘Adawiyah
Pada suatu malam majikan Rabiah terbangun dan melihat Rabiah sedang bersujud dan berdo’a, “Yaa Allah, hatiku sangat ingin mentaati-Mu dan ingin rasanya kuhabiskan seluruh hidupku ini hanya untuk beribadah kepada-Mu, kalaulah aku dapat berbuat semauku, tak ingin rasanya aku meninggalkan ibadah ini, namun apa daya, aku harus memenuhi semua titah tuanku.”
Dan saat itu tuannya melihat cahaya di atas kepalanya yang menyinari seluruh isi rumah. Menyadari hal ini, tuannya pun kaget dan segera kembali ke kamarnya dengan gelisah memikirkan tentang Rabiah. Hingga datang waktu pagi, tuannya pun memanggilnya dan membebaskannya.
Di antara karomah Rabiah yang terkenal adalah hilangnya pintu rumah Rabiah ketika seorang pencuri hendak keluar dari rumahnya setelah mengambil semua barang miliknya, dan ketika pencuri itu meletakkan barang-barangnya pintu itu muncul kembali, kemudian ketika ia mengambilnya lagi pintu itu pun langsung menghilang seperti sebelumnya, sampai akhirnya ia mendengar suara yang menyuruhnya agar meletakkan barang-barang curian itu dan pergi karena rumah itu ada yang menjaganya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar